
Hari hari berlalu tidak terasa usia kehamilan Biena menginjak umur 9 bulan, Biena tengah termenung sambil berdoa semoga persalinan nya nanti di mudahkan oleh tuhan
"Bie jangan melamun nanti kesambet" Tegur Ella "Di sini ada yang melamun di sana ada yang senyum senyum" Sindir Ella
"Kak Aerum kenapa kak? Dari tadi malam tuh senyum senyum sambil guling guling natap HP nya" Tanya Biena
"Kamu gak tau Bie? Semalam ada cowok kayak nya umur 30 an lah datang ke siniĀ cari Aerum"
"Eh kok Biena gak tau?"
"Kau di belakang ngias kue"
"Terus ganteng gak kak?" Biena semakin penasaran, apalagi melihat tingkah Aerum seperti diri nya saat pertama kali berjumpa Ziano, orang menyebutnya jatuh cinta
"Lumayan lah, kebetulan cowok itu duda pas banget kayak nya sama Aerum" Gosip Ella
Biena tersenyum geli lalu mendekati Aerum di meja ujung yang tidak ada penghuninya selain Aerum
"Senang banget kayak nya kak? ada apa sih kasi tau dong" Kata Biena, Aerum yang di tegur pun terperanjat kaget
"Iih apa sih Bie, siapa juga yang senang?" Tolak Aerum merasa malu
"Jadi kaka sedang sedih? Terus kenapa senyum senyum? Apa itu gaya kaka sedih?"
"Nyebelin banget sih Bie, kaka ada kenalan dengan cowok Bie namanya Andre keren banget loh orang nya" Jelas Aerum dengan senyum mengembang di bibir nya, terlihat sangat bahagia ia menceritakan tentang pria itu
"Jadi kalian pacaran?"
"Emm belum sih tapi besok dia ngajak kaka jalan"
"Belum? Oh jadi sudah ada niat mau pacaran nih" Tawa Biena
"Bie berhenti menggoda ku" Pipi Aerum menjadi merona antara malu dan senang
__ADS_1
"Biena ikut senang kak, akhirnya kaka bisa membuka hati untuk pria lain masuk kehidupan kaka"
"Aerum sampai kapan kau senyum senyum seperti itu? tolong bantu aku di sini" Panggil Ella merasa kerepotan harus menjaga semuanya sendiri, mulai dari mengantar pesanan ke meja, membungkus serta menjadi kasir sekaligus
"Iya iya, Ella ganggu aja sih" Jawab Aerum, ia berdiri lalu kembali duduk di meja pelayanan
Sedangkan Biena duduk nyantai kerna tugasnya hanya menghias kue, ia tidak bisa bergerak bebas kerna perut nya yang besar
Duduk seperti ini mengingatkan Biena akan toko mendiang kedua orang tuanya, sekarang Biena memiliki toko sendiri dengan resep mereka yang jadi patokan Biena
"Ayah ibu bentar lagi Biena lahiran doakan Biena selamat dan bayi juga sehat, apa kalia lihat? Cucu kalian ini benar benar rewel padahal belum juga keluar, Biena tidak sabar merasakan menjadi orang tua seperti kalian" Ucap Biena dalam hati sambil menatap langit biru
Sementara itu di sisi lain seorang pria gagah sedang duduk di kursi kebesaran nya bersama seorang wanita berpakaian terbuka di pangkuan nya
"Sentuh aku tuan, please" Pintanya dengan manja, mengarahkan tangan sang Pria ke dada nya
BRAK
Pintu ruangan terbuka
__ADS_1
"Ziano bajingan!" Jerit Gin datang dan menarik wanita itu menjauh dari Ziano
"Apa apaan kau Gin" Santai Ziano
"Bukannya mencari istri mu kau malah sibuk celap celup sana sini, wajar saja Biena meninggalkan mu kau memang pantas di tinggalkan" Bentak Gin penuh emosi
"Kenapa orang yang membunuh anak ku mengatai ku bajingan?" Ziano menyandarkan kepala nya di kursi lalu menghela napas panjang "Biena berhasil membuat ku gila selama beberapa bulan, dia pembunuh tapi juga istri ku, aku jadi bingung harus apa. Seharusnya kau berterimakasih Gin kerna aku tidak melempar mu kepenjara" Ucap Ziano
Semenjak Ziano mengetahui anak nya di bunuh atas dasar rencana Biena untuk menyiksa nya, Ziano berubah jadi brengsek ia suka bermain wanita dan juga minum alkohol kini dia tidak mencari Biena lagi waktunya ia habiskan untuk bersenang-senang dan bekerja.
"Kau membenci Biena Zi?" Tanya Gin
"Sangat, dia berhasil membuat ku hancur"
"Kalau gitu bagaimana kalau Biena menikah lagi?"
"Akan ku bunuh suami nya" Ujar Ziano, Gin tertawa mendengar nya dan berfikir masih ada kesempatan untuk menyatukan Biena dan Ziano mengingat Ziano belum tau tentang anak nya yang berada di kandungan Biena.
__ADS_1
Tbc.