
Biena berhadapan dengan pasangan kekasih yang baru saja pulang entah dari mana mereka berjalan. Ekpresi Aerum sungguh tidak biasa, ia tanpak ragu dan canggung.
"Ada apa kak? Kenapa kaka terlihat khwatir gitu?" Tanya Biena .
Aerum dan Andre bertatapan, Biena semakin penasaran di buat nya. Apa yang membuat Aerum seperti itu
"Ada apa? Kenapa kalian malah bertatap tatapan, apa ada yang salah?"
"Tidak Bie" Jawab Andre.
"Jadi apa?"
Lagi lagi mereka saling tukar pandang.
"Hei katakan saja, kenapa kalian berlaku seperti orang yang melakukan kesalahan?"
"Kami berdua memutuskan ingin membawa hubungan ini ke jenjang lebih serius Bie" Jawab Aerum.
"Ahaha astaga ku kira kenapa, bagus dong kenapa kalian malah ragu mengatakan hal itu? Ada ada saja"
"Kaka harus kembali untuk meminta restu mama papa"
Seketika Biena bungkam, sekarang ia mengerti kenapa Aerum tampak ragu. Jikalau Aerum kembali Ziano pasti akan menanyakan keberadaan Biena padanya, itu pasti! kerna Biena juga tau bahwa sampai sekarang Ziano masih mencari nya.
"Bagaimana Bie?" Tanya Aerum
Beberapa menit terdiam sebelum akhirnya Biena menarik napas nya panjang setelah berkelut dengan pemikiran nya sendiri.
"Tidak apa apa, pergilah temui mama papa"
"Bagaimana jika Ziano-"
"Jangan katakan apapun padanya tentang aku ataupun Ain"
"Kurasa sudah waktunya suami mu tau tentang anak nya, dia berhak akan hal itu. Berhentilah melarikan diri dan hadapilah kenyataan" Jawab Andre yang sudah lelah dengan permainan petak umpet Biena.
"Aku belum siap"
...***...
__ADS_1
Terparkir lah mobil hitam di sebuah halaman rumah besar, seperti yang di katakan Aerum semalam, ia sekarang sudah sampai di depan kediaman keluarga nya untuk meminta restu.
"Aerum..." Sorak Jessi meyambut kedatangan putrinya dengan pelukan hangat
"Aku pulang mah"
"Biena mana?"
"Dia bilang belum siap"
Jessi tersenyum getir, ada sedikit kekecewaan yang ia rasakan, padahal ia ingin bertemu cucu nya yang hanya bisa ia lihat dari panggilan Video.
"Eh ini siapa?"
"Calon ku"
"Eh apa!? Astaga ayo duduk dulu, kenapa tidak bilang sih bawa calon ke sini, kan mama bisa nyiapin apa gitu"
"Tidak perlu repot repot tan"
"Ayo nak duduk dulu, duh tampan sekali kau. Mama akan telpon papa dulu"
"Di mana Biena?"
"Aku tidak tau"
"Jangan berbohong! Katakan padaku di mana dia"
__ADS_1
"Zi aku benar-benar tidak tau" Aerum ketakutan dengan nada bicara Ziano yang kasar, ia tak menyangka adiknya bisa seseram ini.
"Kau yang membawanya kabur sialan!"
Jessi yang mendengar suara Ziano berlari menghampiri putra nya itu sedangkan Andre tengah bercakap cakap dengan papa di ruang kerja nya, mereka tidak tau akan kedatangan Ziano.
"Ziano sejak kapan kau ke sini?" Alih Jessi.
"Sudah mah jangan banyak tanya, aku hanya ingin tau di mana istri ku"
"Aku tidak tau di mana dia Zi, menyingkir lah aku ingin ke kamar"
Bukan nya menyingkir, Ziano malah mencekram kuat tangan kaka nya yang ingin pergi.
"Jawab pertanyaan ku dulu Aerum" Tegas nya.
"Aww sakit, ya bocah kau tidak sopan! Aku kaka mu sialan. Mah tolong ini sakit banget" Ringis nya.
"Ziano lepasin tangan kaka mu!"
__ADS_1
Tbc.