
Saat Biena turun, ia langsung ke dapur hendak membantu Jessi memasak, mertuanya itu memang hobby memasak jadi walaupun ada pembantu ia tetap turun tangan kalau masalah memasak, dan entah sejak kapan Biena juga memiliki Hobby yang sama kerna ibu mertuanya selalu mengajari resep resep baru.
"Mama mau masak apa?" Sapa Biena ketika sudah barada di dapur.
"Enggak tau nih Bie mama bingung"
"Ahahha ayo melamun dan pikirkan berdua" Ajak Biena, dan akhirnya mereka berdua terdiam melamun sambil berfikir.
Setelah sekiranya beberapa menit berdiam akhirnya terpikir juga oleh sebuah menu yang gampang di cerna yaitu bubur dengan toping yang super banyak.
Di sela sela memasak mereka pun bercakap cakap ringan.
"Zi udah bangun Bie?"
"Udah tadi mah, tapi tidur lagi"
"Yaudah kamu bangunin dulu gih nanti kita sarapan telat gegara nungguin dia"
"Yaudah Biena tinggal dulu ya mah"
Biena pun pergi langsung melesat ke kamar nya, dia berlari menaiki tangga hitung hitung olahraga lah.
Brak~
Pintu kamar terbuka dengan kasar, si penghuni tidak perduli akan suara barusan.
"Zi bangun!"
Biena menarik selimut Ziano tapi di tarik kembali oleh pemilik nya hingga terjadilah tarik tarikan selimut dan tak ada yang ingin mengalah.
15 menit kemudian...
"Huh~"
__ADS_1
Lihatlah keringat yang muncul di dahi Biena, ia kelelahan hanya kerna membangunkan Ziano yang menempel di di kasur nya yang luas enggan juga turun.
Biena berdiam menatap Ziano sehingga yang di tatap pun salah tingkah menenggelamkan dirinya dalam selimut, walaupun terpejam Ziano menyadari tatapan menusuk Biena.
Shuuuu~~~
Sunyi seakan hanya mendengar suara angin, Ziano akhirnya pasrah dan duduk dari rebah nya dan masih mendapati Biena menatap nya.
Ziano bergerak cepat ke kamar mandi, dia benar benar salah tingkah di buat Biena.
Semua sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama, Biena hanya diam saja menikmati makanan nya.
"Apa kalian sudah membicarakan nya?" Tanya papa membuka pembicaraan.
"Tidak, kami tidak jadi bercerai. Biena juga akan ikut Zi pulang nanti" Jawab Ziano santai mendapatkan tatapan terkejut dari mereka semua termasuk Biena.
"Hah!!? ikut dengan mu?" Biena membesarkan mata nya mendengar perkataan Ziano barusan, ini tidak ada dalam pembahasan sebelum nya. Ziano mengambil keputusan sendiri dan itu membuat Biena kesal.
"Benarkah? Syukurlah mama senang mendengar nya" Jessi memeluk Biena yang berada di samping nya.
__ADS_1
"Kau yakin Biena?" Tanya papa.
Biena tersenyum menganggukan kepala sebagai jawaban nya, padahal sebenarnya Biena ingin bercerai berusaha melepaskan cinta nya pada Ziano.
"Kalau ada apa apa katakan lah pada kami Bie, pintu rumah ini selalu terbuka untuk mu" Ucap Aerum dengan senyuman manis nya.
"Terimakasih kak"
Setelah selesai Biena dan Ziano pun berpamitan untuk pulang, sepanjang perjalanan Biena hanya menatap ke luar jendela mobil sedangkan Ziano fokus menyetir sembari curi curi pandang ke arah Biena.
"Apa aku akan seatap dengan Sairen?" Tanya nya yang masih memalingkan pandangan nya ke luar.
"Iya, Sairen akan tinggal di apartemen kita juga" Jawab Ziano sedangkan Biena hanya mengangguk paham.
Biena dan Sairen satu atap, apa yang akan terjadi? Biena senang senang saja sih tapi entah lah dengan Sairen.
__ADS_1
Tbc.