
"Emm" Suara lenguhan Biena yang terbangun di dingin nya pagi membuat ia malas untuk keluar dari selimut nya.
"Aaaaaa!!"
Sepasang tangan yang melingkar di perut nya membuat Biena kaget dan berusaha melepaskan diri.
"Lepas!! lepas!! tangan siapa ini.?! Mamah papah tolong!!" Teriak Biena sembari memukul mukul tangan tersebut berusaha lepas dari orang yang memeluk nya dari belakang.
"Shuut jangan berisik diam lah aku masih ngantuk" Ujar Ziano yang makin mengeratkan pelukan nya.
"Zi? Apa yang kau lakukan di sini, apa kau mabuk?" Ucap Biena tak percaya akan keberadaan Ziano dan terus saja bertanya tanya.
Ziano tidak bergeming menikmati berisik nya Biena yang sudah lama tak ia dengar, senyuman di bibirnya dengan mata yang masih tertutup serta tangan yang memeluk gadis berisik tersebut memberikan kenyamanan tersendiri bagi nya.
"Jawab pertanyaan ku!! bangun lah jangan mengabaikan ku!!, Ah lepas Zi ada apa dengan mu? dasar aneh" seru Biena yang terus melontarkan kata kata nya.
"Aku dengar kau ingin bercerai dengan ku, apa itu benar?" Ziano bertanya dengan masih dalam keadaan awal.
"Itu benar, ayo kita bercerai" Ungkap Biena berusaha menahan air mata nya agar tidak terlihat menyedihkan di hadapan Ziano.
Ziano duduk berhadap hadapan dengan Biena "Kau benar benar ingin cerai?"
__ADS_1
"Kenapa kau bertanya begitu? bukan kah cerai adalah keinginan mu sejak awal, sekarang ayo kita bercerai aku sudah membicarakan ini pada papa jadi jangan khawatir, papa sudah menyetujui nya". ucap Biena mengalihkan pandangan nya agar tidak menatap Ziano.
"dia benar benar ingin cerai, tidak!! aku tidak rela gadis cantik ini menjadi milik orang lain kelak. aku tak ingin perhatian nya untuk orang lain pokok nya tidak!!" Ujar Ziano dalam benak nya.
"Kenapa kau diam?" Tanya Biena.
"Kita tak akan bercerai" Ucap Ziano dengan tatapan kesal nya.
"A-apa!!? Aku tetap ingin cerai dengan mu!!" Biena beranjak dari ranjang nya hingga langkah nya terhenti ketika Ziano mengucapkan sesuatu.
"Apa kau ingin membuat papa ku mati?" Seringai Ziano menakuti Biena.
"Apa maksud mu?"
"Tapi papa sudah setuju dengan keputusan ku" Ucap Biena ragu.
"Itu papa memikirkan kebahagiaan mu tanpa memikirkan kesehatan nya, tapi terserah kau saja keputusan ada tangan mu kau juga bisa mengajukan perceraian tanpa persetujuan ku" Ziano benar-benar pandai bermain kata sehingga membuat Biena ragu akan keputusan nya.
"Apa yang harus aku lakukan? keluarga Xelac sangat baik pada ku, bagaimana kalau yang di katakan Zi benar benar terjadi pada papa? mama dan kak Aerum pasti jadi sengat membenci ku. tidak!! aku tidak kehilangan orang yang menyayangi ku!!" Batin Biena di buat bingung kerna Ziano.
"Jadi kau ingin tetap bercerai?" Tanya Ziano.
__ADS_1
Biena terdiam berkelut dengan pikiran nya. bingung, takut akan kehilangan, perasaan, serta ke egoisan bercampur menjadi satu.
Dengan tangan yang di kepalkan Biena pun menjawab dengan menundukkan Kepala nya "Baiklah untuk saat ini aku akan bertahan" Biena pergi ke kamar mandi meninggal kan Ziano yang tengah tersenyum kemenangan.
"Benar, kau tak boleh bercerai dengan ku Bie"
Dret.. Dret.. Dret panggilan masuk dari HP Ziano.
"Zi kau di mana?" Tanya sairen.
"Kenapa? apa uang belanja mu habis?"
"Aku ingin jalan jalan ayo temani aku" Ucap Sairen dengan nada manja.
"Bisakah kau diam saja di apartemen, kenapa selalu berkeliaran kalau kau ingin pergi jalan jalan pergi lah sendiri aku sibuk" Ziano mematikan HP nya.
"Sebenarnya untuk apa aku menikah dengan nya? apa hanya untuk menghamburkan uang saja? bahkan dia tidak memperhatikan ku lagi dan memilih sibuk dengan teman teman nya" Kesal Ziano.
Biena keluar dari kamar mandi mengabaikan keberadaan Ziano dan turun sendiri ke bawah
"Dia mengabaikan ku?" Ucap Ziano heran.
__ADS_1
Tbc.