
Pas Biena turun ternyata Aerum sudah menunggu sambil meminum kopi agar tidak mengantuk kerna ia harus menyetir untuk beberapa jam kedepan.
"Kau sudah siap Bie?" Tanya Aerum melihat kedatangan Biena.
"Sudah kak ayo kita pergi sebelum Ziano bangun, eh koper itu?"
"Itu koper kaka, kaka akan ikut bersama mu itu permintaan mama dan papa" Jawab Aerum.
"Kaka tidak perlu repot repot Biena bisa sendiri kok"
"Mana mungkin kami membiarkan mu hidup sendiri, kasian ponakan ku nanti dia kesepian"
"Yaudah deh kalau itu mau kaka, nanti kalau kaka sudah tidak tahan kaka bisa pulang kapan saja" Biena hanya pasrah, bahkan dia lebih tenang kerna ada Aerum yang menemani nya.
"Nak" Panggil Jessi bersama Jeremy ingin mengantar kepergian menantu dan anak nya dari rumah mereka.
Jeremy dan Jessi memeluk Biena seperti anak sendiri.
"Kalau ada apa apa kabari kami ya" Ucap Jessi.
"Iya mama papa tenang saja Biena bisa menjaga diri.
Di dalam mobil Biena melihat ke arah jendela tempat kamar nya Ziano, tiba tiba Biena terisak sesegukan membuat Aerum juga ikut mengeluarkan air mata nya.
"Bie kalau tidak sanggup sebaiknya tidak usah, ayo kita masuk lagi" Tawar Aerum memeluk Biena.
"Tidak kak ayo jalan saja" Walaupun berat Biena sudah bertekad sejak awal tapi entah kenapa air mata terus saja mengalir di pelupuk mata nya, apakah Baby sedih jauh dari papa nya? mungkin jawaban nya iya.
Pukul 07.03 Ziano baru saja bangun, ia meraba kasur di sebelah nya yang terasa kosong.
__ADS_1
"Bie kau di mana?" Panggil Ziano mengira Biena sedang di kamar mandi.
Dengan langkah gontai Ziano mengecek kamar mandi tapi setelah di lihat Biena sama sekali tidak ada di sana.
"Mungkin dia sudah turun duluan" Pikir Ziano lalu beranjak untuk mandi.
Usai mandi Ziano turun, ia menatap heran kerna di meja makan hanya ada mama papa, Biena dan Aerum tidak ada di situ.
"Mah Biena di mana?" Tanya Ziano, ia menarik kursi untuk ikut bergabung menikmati sarapan.
Ziano membaca isi surat itu yang berisi tulisan kata kata Biena yang berpamitan untuk pergi bahkan Biena mengembalikan kartu yang berisi uang yang di berikan Ziano.
"I-ini hanya candaan kalian kan" Ziano menolak untuk percaya dan berharap apa yang tertulis di kertas itu hanyalah candaan.
Tidak ada jawaban yang Ziano dapatkan dari kedua orang tua nya, tapi terlihat dari raut muka mama dan papa nya bahwa semua ini bukan lah candaan melainkan kenyataan.
Tetes demi tetes air mata Ziano berjatuhan, ternyata Biena tidak memaafkan nya semudah itu sehingga meninggalkan nya di saat Ziano telah jatuh cinta pada nya.
__ADS_1
"TRANG"
Semua makanan di meja berjatuhan di lantai, pecahan piring dan gelas bertaburan akibat amukan dari Ziano.
Suasana di ruang makan kini menjadi tegang, para pelayan terdiam tidak berani berbicara tuan muda mereka sekarang tampak menyeramkan bahkan mama Jessi menangis berlindung di belakang Jeremy.
"Ziano tenang kan diri mu" Tegur papa tidak kalah tegas nya.
"Kemana Biena pergi pah? Pasti kalian mengetahui nya kan?" Ucap Ziano yang sudah panas tapi tetap berbicara sopan pada orang tua nya.
"Kami tidak tau Zi" Ujar papa berbohong.
"Terus di mana kak Aerum? Apa dia yang membawa Biena kabur?"
Mama menganguk mengiyakan pertanyaan dari Ziano, toh emang pergi Aerum pergi bersama Biena jadi tidak salah kan?.
Tbc.
__ADS_1