
"Pah mah Biena mau mengatakan sesuatu" Ucap Biena yang langsung mendapatkan perhatian mereka.
"Ada apa nak?" Tanya Jessi lembut.
Biena menarik nafasnya panjang sangat sulit untuk mengatakan nya sekarang tapi dia sudah menetapkan pilihan nya. "Biena mau cerai dari Ziano" Ucap Biena dengan gugup.
"Apa!!" Ucap serantak sang mertua.
"Maaf mah pah tapi mau sampai kapan Biena terus begini?" Isak tangis Biena terdengar lirih membuat hati sang mertua pilu.
"Nak mama sayang sama Biena, kau menantu kami mama mohon bertahan lah sedikit lagi" Mohon Jessi dengan air mata nya.
"Yang di katakan Biena ada benar nya mah, mau sampai kapan dia terus begini? jangan membuat nya makin tersiksa" Ujar sang papa menenangkan Jessi.
Aerum memenadang sendu adik ipar nya, tak ada yang ingin ia katakan sekarang bagaimana pun Biena berhak menentukan pilihan nya.
"Maaf" Sambung Biena dengan lirih memeluk Jessi.
"Papa akan Bicarakan ini dengan Ziano" Papa pergi keluar bersama supir menuju kantor Ziano.
Sesampainya di bangunan besar nan tinggi bak gedung pencakar langit, papa di sambut dengan Hormat oleh para karyawan setiap langkah nya sangat gagah menuju lift yang akan mengantar nya pada sang putra.
Tanpa mengetuk pintu papa masuk dengan wajah marah nya.
"Ada apa lagi pah?" Tanya Ziano melihat kehadiran papa nya.
__ADS_1
"Ceraikan Biena" Ucap papa to the point.
Ziano tersentak mendengar pernyataan papah nya merasa tidak Terima "Itu urusan rumah tangga ku papa tak berhak ikut campur" Ujar Ziano berusaha menahan amarah.
"Biena sendiri yang minta" Singkat papa menatap mata sang anak bungsu.
"Kalau gitu suruh Biena yang mengatakan nya sendiri, aku tak percaya kalau papa yang mengatakan nya". Ucap Ziano yang sudah mengepalkan tangan nya di bawah meja.
" Emang nya apa lagi hah!! Kau tak menginginkan nya maka dari itu lepaskan dia!!" Bentak sang papa.
Ziano tersadar akan emosi nya pun memastikan kembali keadaan papa, beruntung nya sang papa tidak kenapa napa.
"Jangan harap bertemu dengan Biena lagi, dia tak ingin bertemu dengan mu" papa mulai menenangkan diri kembali.
"Kalau gitu biar aku saja yang menemuinya"
__ADS_1
"Tidak perlu, tanpa persetujuan mu perceraian juga bisa di lakukan" Jawab papa.
"Aku akan datang nanti malam tolong rahasiakan ini dari Biena" Ziano tidak memperdulikan perkataan papa nya.
"Ck terserah kau saja" Papa pergi sulit baginya untuk menentang putra nya yang menjadi harapan keluarga tersebut.
Sesampainya di rumah papa di sambut dengan tatapan penuh tanya dari istri serta menantunya.
"Jadi bagaimana pah?" Tanya Jessi.
"Ziano tidak berada di kantor nya besok papa bicarakan lagi" Tipu papa mengingat perkataan Ziano tadi.
Terlihat Jessi menghela nafas nya lega, jujur ia tak ingin Biena pergi dari sisi putra nya kerna menurut nya Biena lah satu satu nya wanita yang bisa membuat Ziano melupakan Lily sepenuh nya bukan hanya itu tapi Biena juga ia anggap anak sendiri.
"Kau mau kemana Biena?" Tanya Aerum.
"Aku ngantuk kak, aku mau tidur lebih awal" Sendu Biena langsung menaiki tangga menuju kamar nya atau lebih tepat nya kamar Ziano.
__ADS_1
Tbc.