
Tiga hari ini Biena tidak ada kemana mana, ia berdiam diri di rumah menikmati udara luar hanya dari balkon
Sairen sering sekali pergi keluar hanya sekedar untuk bertemu dengan teman temannya sekaligus tidak betah dengan adanya Biena
Biena berjalan ke ruangan kerja sang suami yang hari ini tidak ke kantor tapi masih sibuk dengar kerjaan
"Zi hari ini temani aku ya" Pintu Biena duduk di hadapan Ziano
"Mau kemana?" Tanya Ziano heran, pasalnya istri pertamanya ini beberapa hari ini terlihat kalem berbeda dengan sesok Biena yang biasanya
"Jalan jalan basinglah kemana aja juga boleh"
"ke kamar?" Goda Ziano
"Ku bilang jalan jalan!" Tekan Biena yang tau tujuan arah pembicaraan Ziano
"Ok ok santai nyonya tunggu aku bentar lagi selesai kau siap siaplah dulu"
Tanpa menjawab Biena keluar dari ruangan itu menuju kamar nya untuk siap siap
"REN AWAS!!" Teriak seorang wanita bersamaan yang ternyata adalah Sendi dan Vivian
"BRUK!!"
Seorang wanita hamil terjatuh jauh dari mobil yang menabrak nya, tempat itu sekarang penuh kerumunan sedangkan si pelaku sudah hilang menancapkan gas tidak berhenti padahal tau sedang menabrak seseorang
"Ambulan! panggilkan ambulan" Teriak Sendi terlihat tidak ada yang peduli dan hanya menonton saja dan saling bertanya apa yang terjadi
__ADS_1
"Apakah sudah ada yang memanggil ambulan?" Tanya Vivian, kumpulan orang itu hanya kebingungan, melihat hal itu Vivian tidak ragu lagi menghubungi ambulan
Sementara itu di sisi lain Biena dan Ziano menghabiskan waktu dengan makan di warung pinggir jalan, kerna ini permintaan Biena bukan Biena sih tapi Baby nya sayang sekali Ziano tidak tau
"Kau kenapa sih Bie suka makan di warung pinggiran?" Tanya Ziano sambil menyantap hidangan nya
"Kerna terbiasa" Ujar Biena singkat
Walaupun Biena sekarang memiliki banyak uang berkat punya suami kaya tetap saja Biena biasa dengan kehidupan sederhana nya
Tak di pungkiri Ziano merasa kegum dengan Biena, walaupun sikap Biena menyebalkan tapi terkadang ada sisi baik nya juga
"A-apa?" Jawab Biena gugup, bagaimana tidak gugup sebenarnya ia sudah hamil hanya saja ia tak ingin Ziano tau "Apa anak dari Sairen saja tidak cukup untuk mu?" Sambung Biena kembali
"Bukan gitu, kita kan sering melakukan nya terlebih aku tidak pakai pengaman, mungkin saja sekarang sudah ada tapi kau tidak menyadari nya"
Perkataan Ziano membuat jantung Biena berpacu, ia takut! entah kenapa sangat takut wajah nya tiba tiba pucat membuat Ziano menatap heran
"Kenapa tiba tiba pucat Bie? Kau sakit?"
__ADS_1
"Siapa yang sakit? Aku tidak sakit kau mungkin yang sakit kenapa tiba tiba mengatakan hal itu" Ketus Biena
"Kita priksa ke dokter yuk Bie, mungkin sudah ada anak ku di dalam sini" Ziano mengelus perut Biena membuat Biena reflek menepis tangan Ziano
"Tidak ada Zi!"
"Priksa aja Bie kalau tidak ada juga tidak apa apa" Kekeh Ziano menganggap wajah tegang Biena sangat lucu
"Aku tidak mau, kau saja yang di periksa mungkin saja kau yang hamil"
Perkataan Biena lagi lagi membuat Ziano tertawa "Aku cowok Bie mana bisa hamil"
"Lagian ngapain juga tiba tiba ngajakin priksa"
"Mungkin naluri ayah"
"Udah ah Zi jangan bahas itu lagi, mungkin kau tidak sabar anak dari Sairen lahir makanya kau bernaluri seperti itu"
Tbc.
__ADS_1