Pertemuan Kehidupan Selanjutnya

Pertemuan Kehidupan Selanjutnya
Bab 104


__ADS_3

Sementara pak Erick keluar untuk mengalihkan perhatian, Biena keluar dari pintu belakang berlari dengan handphone yang tengah menghubungi seseorang.


"Ku mohon Zi, angkat"


Biena semakin jauh sementara itu pak Erick sudah babak belur terkapar di aspal padahal baru tiga menit.


"Wanita itu kemana?" Tanya nya setelah mengecek ke dalam mobil.


"Di sana bos" Tunjuk salah satu mereka pada wanita yang sudah jauh berlari dan bahkan mulai memasuki hutan hutan untuk bersembunyi.


"Sialan cepat kejar!"



Ziano baru saja kembali sehabis bercakap cakap dengan tamu nya dari China, ia mengambil HP untuk Vc an dengan Biena, kerna ia rindu putra nya.



"Hmm? Panggilan tak terjawab dua jam yang lalu?"



Ziano kembali menghubungi nomor itu tapi sama sekali tidak aktif, maka dari itu ia menghubungi Gin kerna pria itu sempat menghubungi juga tadi.



"Zi akhirnya" Jawab Gin di sebrang sana dengan nafas yang tersengal sengal.



"Ada apa?"

__ADS_1



"Biena di culik Zi"



"APA!"



"Aku menemukan pak Erick terkapar di jalanan, dia bilang Biena di culik. Aku bersama para polisi sedang mencari nya sekarang. Cepat lah ke sini aku akan menjelaskan semuanya"



"Sairen apa maksudnya semua ini!!" Bentak Biena.


Ya, ternyata biang keladinya adalah Sairen. Biena terikat di kursi sedang kan Ain menagis keras di gendongan Sairen.


"Jangan macam macam kau Ren! Anak ku tak salah apa apa"


"TERUS BAGAIMANA DENGAN ANAK KU!"


Biena tersentak kaget, ia melupakan tindakan keji nya sendiri. Sekarang ia mendapatkan karmanya, ini lah hasil perbuatan nya di masa lalu.


"Baiklah aku salah, jadi sakiti aku saja jangan anak ku"


PLAK~


Ini sudah sekian kalinya Biena menerima pukulan, tidak hanya pukulan tapi juga pecutan dan benturan, tubuh nya benar benar penuh luka sekarang.


"Uhuk~"

__ADS_1


"Sayang sekali bayi tampan ini akan mati sebentar lagi"


"Sairen ku mohon, apapun itu akan ku turuti tolong jangan sakiti anak ku" Ringis Biena gemetaran ketika melihat anak nya di todong pisau oleh Sairen.


"Aku hanya ingin anak ini mati lalu menyaksikan dirimu yang masuk rumah sakit jiwa, itu saja"


Sairen membaringkan Ain di lantai, lalu mengangkat pisau tinggi tinggi siap untuk menikam perut Ain.


"SAIREEEEN!"


Crak!~


Darah mengalir begitu saja, tapi suara tangis bayi masihlah terdengar yang artinya bayi itu masih hidup. Jelas saja itu kerna yang tertikam pisau bukan lah Ain melainkan sebuah telapak tangan besar yang menghadang nya.


"Zi-ziano" Ucap Sairen gemetar.


Ziano membuang pisau yang menancap di telapak tangan nya, ia lalu menggendong Ain bahkan membiarkan darah di tangan nya terus menetes.


Para polisi memborgol Sairen berserta bawahan nya untuk di tindak lanjuti ke proses hukum. Sedangkan Gin melepaskan ikatan yang melilit Biena.


Biena masih terkejut dengan mata yang terpaku, ia begitu syok bahkan napas nya tersengal sengal kesulitan menghirup oksigen.


"Sayang sudah tidak apa apa, jangan takut" Ziano menenangkan Biena yang masih gemetaran.


"Zi Ain"


"Dia baik baik saja, lihat ini dia"


"Anak ku hiks" Peluk Biena erat mencium bertubi tubi wajah anak nya.


Ziano ikut meneteskan air matanya, hampir saja ia kehilangan putra nya, di tambah kondisi Biena yang sangat memprihatinkan dengan luka dan lebam di sekujur tubuh.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2