
Xela dan Dafi duduk bersebelahan di sofa berwarna biru. Xela lagi-lagi melihat kue yang ada di stoples.
*Y*a ampun. Kenapa sih rumah ini seperti toko kue, perasaan kemarin kesini kuenya juga ada dan sekarang ada juga. Bikin lapar aja, malah aku belum makan siang ini.
Batin Xela meronta.
"Silakan makan saja kue nya nona, jangan sungkan karena ini di sedikan untuk tamu yang datang."
Tiba-tiba laki-laki tadi berucap demikian seolah tahu apa yang Xela rasakan.
Xela merasa malu, tetapi rasa malunya di kalahkan dengan rasa lapar dan keinginan untuk memakan kue tersebut.
"Nona. Namamu siapa? "Tanya Dafi lagi dengan canggung.
"Namaku Xela." Jawab Xela juga dengan canggung.
"Oh, nama yang bagus nona. Saya Dafi pekerja untuk bang Al disini. Nona Xela boleh saya bertanya sesuatu?"
"Ada apa?"
Tanya Xela yang sudah selesai mengunyah kue.
"Kenapa Nona bisa kenal dengan bang Al. Apa kalian ada hubungan."
Pertanyaan itu membuat Xela diam sejenak, ia sebenarnya tidak ingin membagi cerita yang menyangkut masalahnya kepada orang lain, terlebih orang yang baru ia kenal.
"Emmm, kami nggak sengaja ketemu aja pas saya ada masalah." Jawab Xela singkat, ia tidak ingin sebenarnya jika terlontar pertanyaan lagi.
"Lantas apa masalahnya? Kenapa bisa bertemu bang?"
Ya ampun, ini orang keponya tingkat tinggi. Apa sih maunya, huh.
Xela membatin kesal, ingin sekali ia pergi secepatnya dari rumah tersebut.
'CEKLEK'
Bunyi pintu mengalihkan pandangan Xela dan Dafi. Ternyata yang datang dari balik pintu utama adalah Alfarel.
Xela begitu terkejut, jantungnya berdebar. Sama juga dengan apa yang Al rasakan saat masuk lalu melihat keberadaan perempuan yang kemarin ia tolong datang kembali ke rumahnya. Namun karna seorang Alfarel adalah orang yang cerdas, maka ia juga bisa menyembunyikan perasaan anehnya yang tentu akan membuatnya salah tingkah.
Alfarel tersenyum sinis lalu berjalan ke arah sofa, lagi-lagi muncul pikiran nakal ingin beradu mulut.
Pupus harapan mau berbincang dapat informasi dari nona. Selalu saja Bang Al yang gagalin.
__ADS_1
Batin Dafi kemudian beranjak pergi dari sana, ia tahu pasti Al akan mengusirnya jika ia tidak beranjak, oleh karena itulah ia duluan bergerak pergi daripada disuruh bergerak pergi.
Laki-laki menyebalkan ini apa sih maunya. Datang langsung senyum seolah mau ngajak perang.
Xela membatin kesal melihat Alfarel yang sudah duduk dihadapannya dengan tersenyum penuh sindiran.
"Akhirnya kamu datang kemari. Sungguh perempuan hebat. Apa kamu kemari untuk memohon tentang pekerjaan?"
Tanya Alfarel, ia terus tersenyum mengingat bagaimana kemarin panasnya adu mulut di antara mereka sehingga Xela pergi begitu saja meninggalkan rumahnya dan berjalan sendirian di malam hari.
"Jangan sok tahu. Saya kesini untuk mengembalikan jaket ini. Sudah, terimakasih saya pamit."
Sambil memberi jaket hitam tersebut, Xela beranjak pergi. Ia tidak ingin berada disana, semakin lama semakin menguras energi saja beradu mulut bersama sosok Alfarel yang menyebalkan.
"Hentikan langkahmu! Masih ada yang ingin ku tanyakan." Tutur Al sembari beranjak dari sofa menghampiri Xela yang sudah berhenti di depan pintu.
Xela yang mendengar suara Alfarel memberi perintah kepadanya akhirnya menghentikan langkahnya.
"Kamu harus menjawab. Percuma kamu mau segera pergi karena pagar terkunci."
Xela terkejut, ia sepertinya terjebak lagi disini.
Laki-laki nggak punya akhlak, apa sih maunya.
"Cepat bicara kalau itu hal penting biar aku cepat pergi dari sini. Kalau nggak penting mendingan nggak usah, urungkan aja dan buka pintu pagarnya!"
Jawab Xela datar. Banyak rasa segan meladeni laki-laki pembual itu.
"Ya seputar dirimu. Aku tidak menyangka kalau kamu masih duduk di bangku SMA, tetapi sudah berani masuk ke Rose Room untuk tujuan tidak terpuji. Apakah tidak ada pekerjaan lain?"
Pertanyaan yang di lontarkan Alfarel selalu memanas, yang akan bisa membakar hati Xela.
"Bisakah anda bertanya yang lain dan tidak harus pertanyaan yang tidak berguna ini?"
"Apa katamu, tidak berguna? Apa masa depanmu tidak berguna? Kamu disini datang dari jauh tapi menyia-nyiakan masa depan, menyedihkan!"
Ucap Alfarel dengan nada cuek, namun perkataan tersebut sangat menusuk hati seorang Xela sedalam-dalamnya. Meskipun ia tidak pernah melakukan hal bodoh di luar sana, tetapi kata-kata Alfarel benar adanya.
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Apakah terlalu penting bagimu masuk dalam kehidupanku?"
"Widih, siapa yang mau masuk kehidupanku, ini adalah sebuah komentar dan tanggapan karena aku sudah tahu siapa kamu."
"Ngomong boleh tapi jangan ngawur. Kamu tidak tahu apa-apa tentangku berhentilah untuk bicara selalu tentang aku."
__ADS_1
Xela mulai tidak bisa berpikir lagi ingin menjawab apa ketika laki-laki itu memang tahu tentangnya.
"Baik alihkan pembicaraan. Bagaimana kalau kamu bekerja denganku?"
Xela menoleh dengan raut muka penuh tanda tanya. Apa ia tidak salah dengar dengan apa yang di lontarkan Alfarel barusan.
"Bekerja denganmu? Aku tidak yakin. Saat ini aku tidak butuh pekerjaan, aku tidak mau.
Biarkan aku pulang." Ucap Xela kemudian melangkah pergi meninggalkan Alfarel yang berdiri dengan senyuman penuh arti.
"Kau sangat keras kepada Xela. Aku akan menunggumu sendiri datang kembali saat benar-benar butuh pekerjaan. Kau terlalu ingin menutup diri dan masalah sosial, perempuan yang hebat."
Guman Alfarel sambil menatap kepergian Xela yang semakin jauh dan menghilang.
Sialan, dia selalu saja menggunakan gaya sombongnya kalau bicara, apa sih maunya?
Andai gue juga cowok mungkin udah baku hantam
Xela membatin kesal sambil langkah kakinya melawan lelahnya jiwa melintasi jalanan sepi yang panas. Bahkan saat ini Xela ingin sekali membuka bajunya yang memang berlapiskan tank top.
Panas banget sih. Ini malah masih beberapa jam lagi. Malah uang nggak cukup lagi, tadi pergi udah tiga puluh ribu habis dan sekarang sisa dua puluh ribu. Mana cukup lagi.
Batin gadis itu merasa kesusahan dengan kehidupannya yang sungguh sangat butuh uang.
Ia pun berjalan sambil berpikir, mengapa ia tadi menolak tawaran laki-laki itu. Xela tampaknya menyesal karena tidak mendengar rinciannya terlebih dahulu.
'TIT TIT'
Di tengah perjalanan yang hampir setengah jam, suara klakson motor terdengar, motor tersebut juga berhenti tepat disampingnya.
"Saya antar ya, nona."
Ucap Dafi, sosok yang Xela kenal sambil ia membuka helmnya. Dafi menggunakan motor bebek berwarna pink. Mungkin begitulah selera laki-laki feminin seperti Dafi.
"Apa ini karena Alfarel?"
Tanya Xela sinis.
"Iya. Hupp tidak."
Dafi awalnya menjawab ia namun segera menutup mulut karena ia salah bicara, ia mengganti jawaban.
Xela hanya memutar bola matanya, tidak ingin rasanya ia menerima, tetapi kakinya terlanjur sakit dan ia merasa lelah menempuh berjalan terlalu jauh.
__ADS_1
bersambung ....