POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Kau Tersenyum Aku Terluka


__ADS_3

Apa mungkin aku harus mengeluarkan Xela dari sini. Rasanya aku menghilangkan sesuatu saat sempat berpikir mengeluarkan Xela dari sini.


Dan membawa Mira ke sini itu tidak mungkin, aku belum menyelidikinya sejauh ini selama dia disini.


Alfarel yang penuh kebimbangan tidak lepas dari perhatian Dafi yang sedari tadi melamun.


"Bang Al yakin dengan keputusannya, bagaimana nanti nasib Xela di luar, apa dia akan di pulangkan ke tempat asalnya?" tanya Dafi dengan hati-hati, Alfarel yang mendengar pertanyaan tersebut terbuyarkan dari lamunannya.


"Dia tidak pulang ke kampungnya, dia masih bersekolah. Aku sudah memikirkan semuanya."


"Apa yang bang Al rencanakan?"


"Aku akan mengirimkannya ke asrama ALKA kebetulan dekat dengan kampus ku dan disana juga ada SMA. Xela di pindah sekolahkan."


"Lalu, apakah ini artinya Xela tidak bekerja disini lagi?"


"Bekerja tapi hanya pada hari Sabtu dan Minggu. Tenang saja semua nya di tanggung di asrama ALKA. Lagipula Asrama ALKA milik keluarga ku. Aku yakin kehidupannya lebih baik disana dengan beberapa siswi yang juga kebetulan masih SMA. Disana tidak akan ada laki-laki yang akan mengganggunya dan kehidupannya tidak bebas, Xela hanya perlu ke sekolah, kemudian menghabiskan waktunya di asrama."


Alfarel menampilkan senyuman kebangaaannya usai mengucapkan kalimat panjang tersebut.


Ternyata selama ini Alfarel telah memiliki sebuah asrama yang dulu di bangun khusus untuk anak perempuan yang kurang mampu dan butuh perlindungan dari kejahatan dunia luar, memang tidak banyak anak perempuan yang ada disana, hanya ada empat orang saja, kalau nanti di tambah dengan Xela maka mereka akan berjumlah lima orang. Asrama ALKA dibangun semenjak kejadian menyakitkan menimpa Alfarel dimana Alika meninggalkannya untuk selama-lamanya. ALKA artinya Alika Kasih.


Dafi akhirnya mengelus dadanya lega dengan apa yang telah di dengarnya, ternyata Alfarel bukanlah sosok yang tega dan tidak punya hati, Alfarel ternyata sangat baik merencanakan masa depan Xela, menempatkan Xela di asrama sebagai tempat yang tepat bukan sembarang mengeluarkan Xela dari rumahnya tanpa tujuan.


"Ini sudah jam berapa, kenapa dia belum juga kemari untuk makan?" gumam Alfarel yang dimaksudkannya adalah Xela.


"Oh, biar aku yang panggil!"


Dafi mengajukan diri untuk memanggil Xela yang belum juga menuju ruang Makan, padahal mereka tidak tahu kalau Xela sudah kesana kemudian berbalik pergi karena omongan mereka yang tidak di dengar Sampai selesai. Bisa disimpulkan Xela menanggapi pembicaraan yang masih setengah-setengah.


Xela menyeret tas punggung yang berukuran besar ke arah ruang tamu dimana letak pintu utama rumah besar itu.


Di ruang tengah, ia memerhatikan Dafi menghampirinya dengan kebingungan.

__ADS_1


Xela tersenyum miris dan terus saja berjalan ke arah tujuannya.


Ini surprise kak Dafi. Kalian tidak menyangka aku akan pergi malam ini. Aku bertindak sebelum kalian mengusir ku, aku akan pergi. Mungkin kalian mengira aku tidak mendengar semuanya.


"Xela mau kemana bawa barang sebanyak ini, malam-malam gini lagi?" tanya Dafi ketika sudah berada di dekat Xela.


Xela mengangkat tas bahu yang sebelumnya ia seret.


"Aku mau pergi, aku nggak akan bekerja disini lagi. Sampaikan kepada kak Al, nggak perlu kasi gaji bulan ini karena aku tidak bekerja dengan baik bulan ini."


"Hah! kamu pergi tanpa sepengetahuan bang Al?"


Xela terdiam dan terus melangkah.


Untuk apa pergi harus kak Al tahu. Percuma saja kalaupun aku pergi dengan berpamitan, mungkin sama aja pasti akan ada omongan menyakitkan lagi seperti tadi sore. Aku sudah terlalu jenuh makan hati hari ini, mungkin tidak perlu makan nasi aku sudah merasa kenyang.


batin Xela dengan langkah tiada henti. Ketika akan membuka pintu suara Alfarel terdengar lantang sekali memenuhi ruangan tertutup itu.


Tanpa menoleh Xela sudah membuka pintu, tekadnya begitu bulat ingin Pergi dari rumah itu setelah mendengar percakapan antara Alfarel dan Dafi.


Yang paling membuatnya kesal ketika ia mendengar jika Alfarel akan membawa Mira tinggal disitu.


"Xela kembali letakkan barangmu sekarang!" titah Alfarel dengan nada tinggi membuat Xela sedikit gemetar. Xela menoleh ke arah laki-laki yang tentu sudah sangat marah itu.


Xela melongo di tempatnya berdiri, ia memandang Alfarel yang berdiri jauh darinya, wajah murung yang penuh amarah itu ternyata tidak hilang ketampanannya, aura ketampanan Alfarel malah meningkat dari biasanya di mata Xela apalagi saat Alfarel melangkahkan kakinya satu persatu menuju kepadanya. Xela terdiam menelan salivanya, jantungnya berdebar debar.


Ya Tuhan kenapa dia begitu tampan, gayanya seperti aktor Hollywood yang turun ke medan perang. Tuhan aku tidak bisa menyangkal lagi, Kak Al begitu mempesona


Xela tidak berkedip ketika jarak Alfarel sudah semakin dekat, seperti terhipnotis begitulah gambaran kondisi Xela saat ini.


"Kau perempuan macam apa mau pergi malam-malam begini?"


Bentakan Alfarel dalam jarak dekat dengannya membuatnya terkejut dan tersadar, betapa hatinya terhunjam oleh kata-kata kasar yang terlontar dari bibir Alfarel, laki-laki tampan yang sempat membuat Xela terpesona beberapa detik yang lalu.

__ADS_1


Bukan hanya kata-kata Alfarel yang kasar, Alfarel juga merebut tas yang sudah menempel di punggung Xela dengan kasar ia menariknya sehingga Xela meringis merasakan kesakitan di bahu dan bagian punggungnya karena tas tersebut terlalu berat.


Anehnya Alfarel dengan enteng menjinjing tas itu kemudian di tumpukan pada satu bahunya.


"Kembalikan tas ku!"


Xela berusaha merebutnya tetapi tidak bisa, Alfarel menjauhkan tas tersebut sehingga Xela sulit mengapainya.


"Apa kau ingin menjadi seperti perempuan gila yang berkeliaran di luar sana malam-malam begini? apa matamu sudah buta tidak melihat di luar sana sangat gelap sehingga kau seenaknya untuk pergi keluar?"


Alfarel bertanya dengan geram, ia sedikit tersenyum miris kepada Xela.


Kau tersenyum kepadaku seperti itu kak? kau terlihat tampan dengan senyuman mu itu, tapi aku semakin terluka. Kau tersenyum aku terluka. Aku selama ini menyukaimu kak. Aku ingin pergi karena aku juga tidak ingin perasaan ku semakin mendalam. Aku tidak mau menanti gari esok, yang pasti aku akan melihat kebersamaan kalian baru aku melangkah pergi, itu semakin membuat hatiku terluka.


Xela memandang Alfarel penuh penghayatan. Tanpa ia sadari rasa suka terhadap Alfarel semakin bertambah ketika orang itu berdiri dihadapannya.


"Kenapa malah kau memandang ku dengan sedih, apa kau menyesal dengan perbuatan mu ingin meninggalkan tempat ini?"


"Bagaimana tidak menyesal Xela, bukannya kau mengatakan kemarin kalau kau cemburu padaku, kau memiliki perasaan terhadapku? katakan!"


sambung Alfarel, kali ini ia berbisik mendekati telinga Xela.


Xela hanya menampilkan reaksi terkejutnya ketika mendengar lontaran perkataan Alfarel.


"Sayangnya aku tidak memiliki perasaan lebih kepadamu selain hanya kasihan pada nasib hidupmu."


bisik Alfarel sekali lagi, jantung Xela kembali berdebar dan hatinya terhunjam lagi.


Ternyata ini hanya dirinya saja yang menyukai Alfarel, tetapi Xela heran mengapa Alfarel sangat berkuasa atas dirinya.


Kedua mata dua manusia itu kini saling beradu, mereka larut dalam pikirannya sendiri.


bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2