POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Xela cemburu?


__ADS_3

Sungguh banyak sarang lebah.


Memenuhi dahan pohon jati.


Hidup kadang perlu berubah.


Supaya kita bisa seleksi.


Inilah perubahan hidupku. Meskipun aku belum tahu bagaimana ke depannya, aku harus seleksi. Aku akan mencari tempat kerja sekalian tempat tinggal yang cocok. Mungkin aku tidak akan bisa bertahan lama disini. Untung aja ini jauh dari tetangga, kalau dekat habislah telingaku penuh dengan gosipan.


Tapi kali ini, sepertinya kak Al orang yang baik. Pertama kali kak Al juga yang nolongin aku dan ke sekian kalinya lagi, dia juga yang nolongin aku. Apa dia seperti seorang malaikat?


Xela tersenyum memandangi sinar mentari pagi nan cerah menembus jendela bening membuat ruangan didominasi oleh warna putih.


Baik keputusan tentang Kak Al. Kak Al adalah orang baik yang pernah aku temui. Walaupun di sisi lain dia orang yang menyebalkan.


Bunga melati tumbuh dilorong.


Dengan panjangnya tali akar.


Dia seperti malaikat penolong.


Meski kadang membuat sebal.


Itulah karangan singkat untuk Alfarel yang telah Xela tulis disebuah buku harian yang selalu ia buka setiap hari. Entah mengapa perasaanya berubah, ia selalu membayangkan senyuman manis Alfarel.


Xela senang berada dirumah ini.


Dalam keasyikannya ia tersentak. Tiba-tiba otaknya seperti alarm yang bergetar mengingatkan dirinya akan pekerjaan yang belum ia lakukan.


"Ya ampun kok aku lupa kerja. Parah huh gimana ni."


Kakinya mulai berlari kecil menuju pintu dan dengan kasar ia menarik gagang pintu lalu menariknya.


Xela kaget begitu ia membuka pintu Alfarel sudah berdiri disana sambil menggelengkan kepalanya. Apa yang laki-laki itu pikirkan? Pasti ia berpikir Xela sangat pemalas bangunnya kesiangan.


"Udah jam berapa ini Xel. Apa kamu tidak ke sekolah? Lebih baik tidak usah saja kesekolah atau tidak usah aja kerja."

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku sudah bangun awal kok."


"Menyangkal lihatlah dirimu, rambutmu masih berantakan tidak terikat."


Xela meraba kepalanya, ya memang ia bisa merasakan rambutnya sangat berantakan, kusut malahan. Sangat malu sekali dirinya, Alfarel yang ada dihadapannya saja tampil begitu rapi sementara ia yang perempuan tidak sama sekali.


"Maafkan aku. Aku akan bekerja, aku tidak akan kesekolah hari ini."


"Oke kalau begitu aku akan memberi pekerjaan untukmu. Karena Dafi belum datang pagi ini, kau sekarang membersihkan rumah, kalau memasak, memasaklah untuk dirimu sendiri, biarkan Dafi yang akan memasak nanti siang. Karna aku mau setelah aku datang rumahku rapi termasuk kamar ku, kau harus membersihkannya.


Ingat! Kalau kau membersihkan kamarku, jangan sembarangan menyentuh barang-barang disana. Aku pergi."


Alfarel pamit untuk berangkat ke kampus, sementara Xela hanya bisa memandangi dari kejauhan dengan hati sedih, bukan karena di tinggalkan melainkan karena ia tidak bisa ke sekolah hari ini.


"Aku harus merelakan waktuku untuk kerja pasti aku akan ketinggalan materi."


Xela melangkah dan mengerjakan satu persatu pekerjaan rumah, menyapu dan mengepel rumah, mengelap kaca dan membersihkan kamar Alfarel.


Di langkah yang terakhir, ia menuliskan kamar Alfarel untuk membersihkannya, agak ragu untuk masuk karena takut, Xela baru pertama kali ini membersihkan kamar Alfarel.


"Aduh, masuk nggak ya. Pas tadi kak Al bilang jangan sentuh apapun disana aku jadi takut, ntar kalau misalnya banyak vas bunga yang terbuat dari kaca gimana. Hii ngeri."


Akhirnya karena tidak mau menghabiskan waktu larut dalam berpikir, Xela perlahan membuka pintu dan berjalan menyusuri kamar Alfarel.


Warna yang mendominasi ruangan tersebut sama juga dengan warna di ruang kamar yang ditempatinya, berwarna putih cerah.


Namun yang membedakannya seprai Alfarel berwarna cokelat muda, pemandangan di ranjang Alfarel membuat Xela terkejut. Seprai dan selimut tebalnya berantakan bahkan bantal ada yang sudah jatuh dilantai, selimutnya tidak dilipat dan dibiarkan saja membentuk gundukkan di tengah ranjang.


Selain itu mata Xela juga menangkap di sudut ruangan terdapat beberapa helai pakaian, lemari terbuka dan buku yang berada di rak berjatuhan.


"Yah mungkin dia sendiri juga kesiangan, tapi wajar sih dia bosnya."


Xela bermonolog sendiri sambil mulai bergerak mengemasi barang-barang yang berserakan dan merapikan tempat tidur Alfarel.


Ketika ia hendak menutup lemari, matanya melihat sebuah bingkai foto yang terpajang di dalam lemari. Foto Alfarel bersama seorang perempuan yang tidak ia kenal, foto perempuan itu sendiri juga pernah ia lihat sebelumnya di ruang kamar bawah kamar yang di diami nya.


Alfarel dan perempuan yang ada didalam foto tersebut terlihat sangat mesra tapi perempuan itu mirip dengannya.

__ADS_1


Tiba-tiba ada gejolak dihati Xela, Xela merasakan sakit dihatinya rasanya tidak ingin Alfarel bersama orang lain, andai bisa di ubah, ia ingin menggantikan posisi perempuan yang ada didalam foto tersebut.


Kenapa hatiku. Ada apa dengan hatiku. Apa aku sudah tidak normal, biasanya orang bilang kita sedang cemburu, oh tidak ngapain aku cemburu, nggak boleh memangnya dia siapa? Hanya seorang bos yang menyebalkan. Ini urusannya ngapain aku terlibat. Tapi kok aku melihat cewek di foto itu mirip denganku? meskipun sedikit. Tapi dia lebih cantik. Sudahlah mungkin aku merasa cantik saja padahal aku tidak mirip dengannya sedikitpun


Xela pun memutuskan untuk menutup pintu lemari itu kembali. Foto itu sudah berhasil menghantui pikirannya, entah mengapa rasanya berbeda sepertinya Xela cemburu.


Ketika ingin beranjak, Xela merasa ingin melihat foto itu kembali, sungguh aneh bukan, ia ingin melihatnya karena didalam foto itu Alfarel sungguh terlihat tampan.


Xela membukanya kembali dan mengamati wajah tampan Alfarel yang ada didalam foto tersebut, tidak ia sadari tangannya menyentuh foto tersebut.


wajah yang sangat tampan kak. Aku menyukaimu.


Xela mengaku didalam hati kalau ia menyukai Alfarel. Ia tersenyum dan terus memantau foto tersebut.


Andaikan hp ku masih ada mungkin kalau aku memotret mukamu aku akan memandang wajahmu sepuasnya.


Tanpa Xela sadari ada seseorang berdiri di sebelahnya memerhatikan ia tersenyum memandangi foto tersebut, orang yang tidak lain adalah Dafi.


"Xela."


Xela diam tak bergeming.


Sekali lagi Dafi memanggilnya, padahal jarak mereja begitu dekat, rusak sampai satu meter tetapi tidak tahu juga mengapa Dafi tidak menepuk pundaknya saja agar Xela tersadar.


"Xela."


Dafi sudah memanggilnya yang kedua kali tetapi Xela sepertinya tidak mendengarnya.


Wah wah bahaya ini raga disini entar jiwanya traveling kemana, atau jangan jangan ini anak kerasukan.


Batin Dafi menyangka bahwa Xela kerasukan.


"Xelaaaaa ...."


Teriak Dafi saking takutnya apabila yang dipikirkannya benar terjadi.


"Apa ... aaaaa ...."

__ADS_1


Xela yang tersadar oleh suara besar di samping tepat dikat telinganya, sontak langsung terkejut setelah menoleh melihat sesosok manusia yang tiba-tiba ada disana, karena kesadarannya belum terkumpulkan sepenuhnya, maka ia berteriak sambil mengunakan sapu di tangannya untuk memukul orang itu.


bersambung ....


__ADS_2