
“Al pacar Lo manis ternyata.” Puji Ario ketika mereka menuruni anak tangga setelah film berakhir, malam itu sudah menunjukkan pukul dua belas.
“Jangan macam-macam Lo Yo.” Alfarel yang sedang membopong Xela karena tertidur melihat sahabatnya diam-diam memerhatikan wajah pacarnya.
“Gue memuji Al.” Ario mengetahui pikiran Al selama ini, kan mereka sahabatan sudah lama.
“Jelas-jelas Lo merhatiin pacar gue. Makanya tadi dua cewek Lo itu jangan di suruh pulang duluan.”
Ario tadi sudah menyuruh kedua wanita yang menemaninya duluan pulang karena ia malas mengantar mereka, lagi pula mereka berdua hanya di sewa.
“Bukan cewe asli, ngapain harus pulang bareng.” Jawab Ario.
“Makanya jangan sewa mulu, kapan Lo bisa mencintai satu cewek.”
“Tidak pernah, mungkin.” Ario memang tipe lelaki seperti itu, bukan mempermainkan wanita tapi ia tidak mau di permainkan wanita. Wanita yang menemaninya selalu wanita yang berbeda dan tentunya dengan kesepakatan sebelum menemaninya. Alasan Ario hidup belum miliki pasangan yang serius karena takut ujung-ujungnya makan hati karena di tinggalkan.
“Kapan Lo pulih dari pikiran itu. Lo harus percaya kalau menjalani hubungan itu selama kita bisa menjadi lelaki yang bijak, tidak akan ada wanita yang menyakiti kita sebagai lelaki. Dan kita pun harus menghargai mereka.” Al melantunkan kata-kata bijak untuk sahabatnya.
“Sejauh ini belum ada wanita yang gue impikan hadir. Jadi beginilah, gue bahagia dengan kehidupan ini. Gue punya perasaan buat cewek tapi nggak ada niat buat jatuh cinta.” Maksud Ario, ia memiliki perasaan untuk cewek tapi hanya sekedar perasaan suka, kagum dengan kecantikan, penampilan dan keanggunannya saja tidak ingin sampai jatuh cinta atau memikatnya.
“Terserah Lo Yo, asal Lo bahagia aja. Lagian diri Lo gak bisa di ubah orang lain.” Al tidak mau banyak bicara hanya untuk memberi saran percuma, Ario tetaplah berdiri teguh dengan kemauannya.
“Hmm. Eh gue mau tanya tadi siang sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Ario saat langkah mereka tidak terasa sudah sampai di parkiran. Alfarel membaringkan Xela di dalam mobil sebelum merespon pertanyaan sahabatnya. Di dalam mobil ternyata Alfarel membawa selimut yang di simpan di dalam tas di bangku belakang, ia menyelimuti Xela sebelum akhirnya menutup pintu mobil dan berbicara sebentar dengan sahabatnya.
“Tadi pacar gue marah karna Lo ngomong tentang cewek yang nemenin Lo tadi. Dia cemburu.” Jawab Al.
“Lalu?”
__ADS_1
“Dia ngamuk di pangkuan gue sampai kita sama-sama jatuh, kemudian gue tersedak pas dia pukul gue.” Ario terkekeh mendengar penjelasan sahabatnya, kemarin ia salah paham parah sampai melontarkan kata-kata yang terdengar vulgar.
“Gue kira Lo lagi ngapa-ngapain sama dia makanya gue tanya gitu.” Ario masih terkekeh.
“Gara-gara lo juga dia sampe marah, lo dengar sendiri kan?”
“Iya gue ngakak setelah itu.”
“Sialan Lo.” Alfarel menonjok bahu Ario.
“Eh tapi cewe Lo mudah di ajak baikan ya?”
“Gue bisa mengatasi saat dia ngambek.”
“Caranya?” tanya Ario penasaran ingin tahu apa cara yang di lakukan sahabatnya untuk meluluhkan hati perempuan. Al hanya tersenyum tidak berniat menjelaskan.
“Rahasia Yo.” Alfarel tidak ingin memberitahu, rahasia ya rahasia. Ia tipe cowok yang tidak mau blak-blakan.
“Lo pelit ilmu sumpah.” Ario kesal.
“Ini bukan ilmu tapi pengalaman, makanya pacaran sungguhan biar punya pengalaman.” Ledek Al, ia tahu Ario tidak pernah menghadapi cewek yang lagi ngambek karena selama ini cewek yang menemani sahabatnya hanya disewa, cewek sewaan pastilah tidak pernah mengeluh, marah ataupun menolak perintah dan kesediaan yang sifatnya harus.
Ario hanya menghela nafas mendengar jawaban sahabatnya, bagaimanapun ia sadar diri juga kalau ia memang belum pernah mengalami kisah cinta sungguhan.
Ario memutar bola matanya lalu membuka pintu mobil, kebetulan mobilnya dan mobil Al di parkir berdekatan. Ario mengambil dua botol anggur merah lalu menyodorkannya kepada Alfarel.
“Lo gila Yo sampai bawa minuman kek gini?” Alfarel menerimanya tapi tetap saja memprotes.
__ADS_1
“Dingin tengah malam begini, gue pengen ngomong bentar sama Lo. Keknya gue ingat sesuatu Al.” Ario membuka botol itu lalu mulai minum.
“Apa?” Al juga mengikuti, membuka botol. Mereka sama-sama minum untuk melawan dinginnya malam bersantai di atas mobil Al di bawah gedung yang tinggi.
“Pacar Lo. Wajahnya familiar. Mirip seseorang yang pernah gue kenal.” Ucap Ario seraya menoleh ke belakang melihat wajah Xela sedang tidur di dalam mobil.
“Iya. Alika.” Jawab Al datar, lelaki itu kembali memasang raut wajah dingin sambil meneguk wine.
“Iya benar, maaf Al gue seolah mengungkit.” Ario meminta maaf, tidak seharusnya ia memancing Alfarel agar teringat Alika lagi sebagai sahabat ia tahu bagaimana sakitnya berada di posisi Alfarel.
“Tidak masalah. Gue udah belajar ikhlas tentang Alika, tapi gue gak ikhlas ngelepasin orang yang udah ngehancurin hidup adik gue. Gue masih mencarinya.” Alfarel mengepal tangannya menggengam botol sampai tangannya merah. Begitu kuat rasa dendam yang ia taruh kepada musuh nomor satu di hidupnya, Marco.
“Gue paham Al, sakit hati memang membuat kita luka sangat dalam. Luka batin, tapi satu hal yang harus kita miliki. Ketika luka batin kita sangat dalam, kembali dan kuatkanlah nyali dan fisik. Lo memiliki nyali yang kuat dan gue bangga Lo juga pandai berkelahi. Tingkatkan itu Al, Lo harus punya keyakinan dan kekuatan supaya nanti ketika musuh Lo muncul, Lo udah siap dengan kemungkinan.” Begitulah pesan Ario, sahabat terbaik Alfarel.
“Kemungkinan?” Alfarel menatap sahabatnya, dari raut wajah Al, Ario tahu sahabatnya belum terkoneksi pikirannya.
“Ya, maksud gue kemungkinan yang terjadi, bisa saja dia muncul saat dia sudah kuat dan dengan kesiapan yang lain yang kiranya bisa menghancurkan Lo. Bukankah dia tahu selama ini Li mencarinya?” Alfarel diam tampak berpikir.
“Gue rasa dia udah tahu karena Lo sempat meliput kasus itu di berita. Si brengsek itu sembunyi Al, bisa saja saat dia sembunyi ada tujuan untuk memperkuat diri jadi Lo harus lebih kuat dan harus lebih siap untuk kemungkinan yang akan datang.” Alfarel baru paham, musuh memiliki taktik yang tidak bisa di tebak, kalau tidak waspada mungkin suatu hari bisa saja ia di jatuhkan dan kalah. Alfarel jelas tidak mau kalah sebelum ia membalas dendam atas kematian adiknya.
“Gue bakal siap.” Jawab Al dengan menunjukkan senyum penuh keyakinan kepada sahabatnya.
Di dalam, Xela terbangun karena kedinginan. Perlahan ia membuka matanya melihat pemandangan yang membuatnya sedikit kaget, dua pasang kaki lurus dan panjang terlihat dari kaca mobil.
"Aku ada di mobil. Kaki siapa itu?” Xela bertanya dalam batinnya lalu melihat dirinya berbaring dengan balutan selimut berwarna cokelat. Xela langsung mengerti kaki di atas mobil pasti kaki Al dan sahabatnya.
“Kaki kak Al dan ... tidak! Mereka pasti di temani cewek di atas mobil.” Gumam Xela, ia pun langsung bergerak cepat untuk keluar memeriksa.
__ADS_1