POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Terpukul


__ADS_3

Disebuah ruangan yang didominasi oleh cat berwarna putih, Alfarel menatap Xela sembari merapikan anak rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang, ia sangat menyayangkan kejadian belakangan ini yang membuat Xela menderita karena gangguan mental.


"Maafkan aku. Aku ceroboh menjaga keselamatan mu. Tapi aku akan tetap mencintaimu." Alfarel tersenyum, namun hanya beberapa detik saja setelah itu raut mukanya berubah gusar, ia teringat Marco mengatakan telah menyentuh Xela. Lelaki itu menatap gadisnya, merasa kasihan di sisi lain tangan mengepal keras dan matanya memerah tidak terima kalau hal itu terjadi pada gadisnya.


"Awas saja lo Marco, gue tidak akan membiarkan lo hidup. Lo lolos dari gue kemarin, tapi gue yakin Lo terluka dan sekarang gue akan cari lo!" batin Alfarel.


Teringat kejadian sebelumnya, sebelum bom meledakan kastilnya hingga tak bersisa, beruntung ia dan tim mengenakan seragam pelindung anti senjata mana pun, dan sangat beruntung sebelum penyerangan ke dalam kastilnya sendiri, ia telah mengerahkan anak buahnya yang lain untuk menyelamatkan Xela.


"Kak Al!" saat Alfarel akan pergi dengan membawa tangannya yang masih mengepal keras, tiba-tiba suara nan lembut itu menyisir pendengarannya, dan lengannya yang tadi mengeras terkena sentuhan lembut dari gadis yang masih dalam kondisi berbaring itu.


Xela, gadis yang mengalami gangguan mental itu akibat pukulan batin yang terjadi selama ia di kurung tanpa bisa melihat pria yang dicintainya, sekarang ia bersemangat bangkit dari posisinya yang terbaring dengan wajah sumringah lalu memekarkan senyuman disertai tangis bahagia.


"Kak Al, aku tahu ini bukan mimpikan?" Xela langsung memeluk Alfarel lalu menangkup pipi pria itu dengan tangis harunya yang pecah, Alfarel hanya terpaku akan perlakuan Xela untuk yang pertama kali ini terhadapnya.


"Kak Al. Katakan kepada mereka, pelayan yang sering menamparku itu. Mereka mengatakan aku gila, huhuhu." Xela sangat menyedihkan, ia segera memeluk Alfarel dengan erat dan posesif.


"Kak Al, jangan pernah pergi seperti kemarin. Bolehkah aku bertanya, kenapa kemarin saat aku di kurung oleh Marco, sesekali kak Al muncul dan hanya tersenyum kepadaku kemudian menghilang begitu saja. Kenapa, huhuhu ... aku tidak bisa memeluk kak Al waktu itu. Aku mengatakan kepada pelayan bahwa aku melihat kak Al datang untuk menjemput ku, tetapi mereka tertawa dan menyiksaku. mereka mengatakan aku pantas di pukul, karena aku gila, aku tidak waras lagi. Apakah itu benar kak Al?" Xela mengatakan sehabis- habisnya apa yang telah terjadi padanya.


Apa yang Al rasakan saat gadis yang ia cintai di pelukannya menangis tersedu-sedu sambil mencurahkan seluruh cerita sedihnya?


Sangat terpukul, Alfarel sangat terpukul sampai ia mengeraskan rahangnya secara maksimal, ia harus membalas dendam.


"Xela, saya disini." hanya jawaban singkat itu saja, Alfarel tidak mungkin menjelaskannya sekarang karena pikirannya sibuk untuk pergi dan membalas dendam sekarang juga jika pelukan Xela tidak menghalanginya dipastikan ia akan lebih cepat menemui Marco lalu membunuhnya.

__ADS_1


"Jangan pergi, aku tidak mau mereka mengatakan aku gila."


Sambil menangis sesenggukan, Xela mengadu perlakuan tidak baik yang ia terima selama dirinya tanpa Alfarel.


"Tenanglah sayang, mereka tidak akan dibiarkan hidup setelah ini." barulah setelah itu Alfarel membalas pelukan Xela, padahal sejak tadi Xela memeluknya hampir belasan menit belum kunjung ia balas.


"Kak Al, aku senang akhirnya aku merasakan kak Al memelukku." Xela tersenyum senang. Alfarel sekali lagi mengelus rambut panjangnya dengan rasa kasih sayang.


"Kak Al, cium aku!" Ucapan yang terdengar manja itu lolos dari bibir Xela, ia seperti anak kecil mendesak Alfarel sembari menatap wajah pria itu dengan senyuman merekah.


🍁🍁🍁


"Cari pelayan yang pernah bekerja di kastil. Saya yakin sebelum kastil itu hancur, ada pelayan di luar kastil. Mereka masih hidup. Cari mereka dan bawa ke hadapanku." Di ruang pribadinya Alfarel menugaskan beberapa anak buahnya untuk mencari pelayan kastil yang pernah menyiksa Xela.


Sepeninggalan anak buahnya, Alfarel berhadapan dengan komputernya, ia menyaksikan apa saja yang terjadi di kastil sebelum ia berada di sana.


Tangannya yang mengepal keras akhirnya ia benturkan ke atas meja ketika ia melihat sistem keamanan yang ada di kastil saat itu, anak buahnya banyak yang di tembak diantaranya ketakutan dan memilih untuk berkhianat beruntung di sisi lain pengikut rahasia telah mendeteksi bahaya sehingga ruang khusus yang di gunakan untuk melumpuhkan Alfarel berhasil mereka masuki dengan aman karena keterampilan mereka, oleh sebab itulah Alfarel berhasil selamat dari maut itu.


Selain itu Alfarel melihat sebuah ruangan dimana Xela dikurung, ia melihat Xela yang menyedihkan disana gerak-gerik aneh gadis itu berhasil membuatnya mengeluarkan air mata.


"Aku akan membunuh mereka, Xela. Mereka harus membayar perbuatannya!" Alfarel mengepalkan tangan lagi, lalu detik berikutnya ia melihat Marco di layar komputer, musuh besarnya itu masuk membuat Xela ketakutan, kemudian yang lebih membuat Alfarel tidak tahan, Marco menakuti Xela lalu menghadap pada cctv dan menembak cctv itu secara tepat sehingga layar menjadi gelap dan Alfarel tidak bisa melihat apa-apa lagi.


"Sial!" Alfarel memikul meja dengan keras lalu sembarang tangganya dikebaskan sampai menghamburkan sebagian barang-barang diatas meja.

__ADS_1


"Kak Al dimana? Tidak mau aku mau mencarinya sekarang, akan aku buktikan aku tidak berbohong, aku tidak gila!"


Alfarel mendengar suara dari luar sana sangat keras, mungkin gadis itu berteriak.


Alfarel keluar dari ruangan tempatnya berada, kebetulan di luar adalah lorong yang sangat panjang, ia melihat Xela berlari dan kedua pelayan mengikutinya.


"Itu dia, kak Al ..." Xela berlari seperti anak kecil, sangat kencang sampai rambut panjangnya melambai diudara, gadis itu mungkin akan kehilangan rasa malunya di hadapan Alfarel. Tidak sungkan ia langsung memeluk Alfarel lalu membenamkan wajahnya di dada Alfarel, parahnya ia memasukkan kepalanya pada jaket yang di pakai Alfarel.


"Xela, berhentilah! kau seperti anak kecil!" Alfarel tidak bisa berbuat apa-apa ketika kepala Xela masuk ke dalam jaketnya, ia tanya bisa memberi kode kepada pelayan agar meninggalkan mereka berdua sekalian.


"Lihat, aku membuktikan kak Al ada, hei lihatlah kenapa malah pergi?" Pelayan itu pergi atas permintaan Al tetapi Xela tidak tahu.


"Mereka tidak percaya padaku, pasti mereka mengatakan aku gila."


Xela cemberut sialnya itu terlihat imut di mata Alfarel.


"Saya yang menyuruh mereka pergi, mereka sudah tahu saya ada disini."


"Benarkah? berarti mereka tahu kalau aku tidak gila?"


"Tidak sayang." Alfarel menyahut sembari menghela nafas panjang, sebenarnya ia menahan amarah ingin pergi sekarang juga, tak mau terlalu lama menunda waktu akhirnya ia melepaskan pelukan Xela dan melangkah dengan kasar meniggalkan gadis itu.


"Kak Al mau kemana?" Xela yang tidak terima segera berlari mengikuti langkah Al, namun ketika Al menjentikkan jarinya, datang beberapa anak buahnya membawa Xela kembali ke kamarnya agar tidak menghalangi kepergian dirinya yang entah mau kemana.

__ADS_1


"Kak Al jangan tinggalkan aku!"


__ADS_2