POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Kakak Beradik


__ADS_3

Xela melihat pemandangan yang membuatnya ingin pergi sekarang juga dari ruang makan. Ia cemburu melihat Al menggenggam tangan Mira tepat di hadapannya. Padahal tadi, saat Alfarel terlihat perhatian padanya itu tandanya Al mungkin menyukainya, dugaanya salah. Ia pun merasa bersalah pada Mira, seharusnya ia biasa-biasa saja melihat situasi ini, tetapi gejolak hatinya tidak bisa di pungkiri.


"Kenapa Al?"


"Aku tidak membiarkanmu pergi." kata Al, lalu melirik sekilas kepada Xela yang menundukkan kepalanya, ia tahu Xela pasti cemburu.


"Tapi kamu lebih perhatian padanya." kata Mira menunjuk Xela.


"Kata siapa? itu bukan bentuk perhatian tapi bantuan." jawab Al.


Xela sadar, hanya dirinya saja yang baperan, tidak mungkin Al menyukainya karena sudah ada Mira.


"Hmm, aku salah paham ya?" tanya Mira dengan nada lirih dan terkesan manja kemudian menggelayut manja sambil bersandar di bahu Alfarel, selain itu ia memperlihatkan kemesraannya dengan Alfarel lalu menatap Xela dengan sinis.


"Dia milikmu cewek kampungan. Gue tau lo suka dia tapi jangan harap bisa memilikinya karna sudah ada gue, hahahaha." Batin Mira dengan bahagia.


Xela segera mempercepat menghabiskan makanannya, karena ingin segera pergi. Hal ini diperhatikan oleh Al yang juga memandangnya dengannya senyuman sinis, ia tahu xela pasti cemburu.


"Kamu cemburu Xela, aku merasakannya. sangat senang melihatmu cemburu, caraku untuk mengujimu apakah kamu berani mengatakannya nanti." Batin Alfarel. Dimana-mana kadang senyuman sinis seseorang mengandung kesombongan yang di tunjukkan kepada orang lain, entah itu merasa dirinya paling ganteng maupun paling cantik.


"Xela, makan pelan pelan. Apakah kamu ingin keselek lagi lalu aku memberimu minuman? Tidak Xela, jangan mencari perhatian." ucap Alfarel yang tidak punya hati, padahal ia tahu Xela cemburu tetapi ia seolah menjadikannya drama.


"Sayang, jadi dia hanya butuh perhatian kamu? kenapa kamu memerhatikannya, cewek caper sepertinya abaikan saja, kalau perlu usir aja dari sini." kata Mira sambil melirik Xela penuh dengan kebencian.


"Aku hanya bermaksud mempercepat menghabiskan makananku, lalu aku akan kembali bekerja." jawab Al.

__ADS_1


"Tunggu gajian terakhirnya." ucap Alfarel membuat Xela tercengang, tetapi Dafi lebih tercengang lagi mendengarnya.


"Siapa juga yang minta perhatian, aku cepat-cepat makan karna ingin meninggalkan tempat ini. Tidak ku sangka ternyata kak Al bermaksud hanya untuk mempermalukan aku, atau jangan jangan, dia dan Mira ... bekerja sama?" batin Xela lalu segera selesai dengan makannya.


"Aku ijin duluan meninggalkan tempat ini untuk melanjutkan pekerjaanku." Xela pamit meninggalkan ketiga manusia itu, ingin sekali ia meninggalkan ruang makan dengan cara berlari, tetapi ia masih harus menjaga image seolah tidak terjadi apa-apa.


Alfarel sedang berada di ruang kerjanya bersama Dafi, ia melamun sambil memutar bolpoinnya lalu mengingat kejadian di ruang makan tadi. "Melepaskan keduanya tentu aku tidak bisa. Aku tidak bisa Melepaskan Mira ataupun Xela, aku akan menyelidiki mereka." Batin Alfarel dengan raut wajah ekstra berpikir.


"Bang Al, apa benar akan mengusir Xela setelah gajian terakhirnya? bukankah bang Al akan memasukkan Xela ke asrama Alka?"


"Aku belum tahu."


"Lalu bagaimana dengan Mira, sampai kapan ia tinggal disini?"


"Aku juga tidak tahu." jawaban Alfarel serba dingin membuat Dafi segera paham, Alfarel sedang tidak baik-baik saja saat ini, ia pun segera meninggalkannya sendirian di ruang kerja.


Bel pintu berbunyi,sebagai asisten Xela lalu membuka pintu melihat siapa yang datang.


Gadis cantik itu begitu terkejut melihat siapa yang datang, Landry dengan senyuman lebar dan ramah menyambutnya dari balik pintu, Landry juga membawa sebuah koper.


"Landry." ucap Xela tak percaya.


"Iya, ini aku. Apa kamu senang?" tanya Landry kepada gadis manis dihadapannya.


"Sangat senang." jawab Xela dengan berbinar-binar matanya. Landry kemudian membentangkan kedua tangannya memberikan ruang bagi Xela agar memeluknya segera, entah mengapa Xela yang merasa sangat akrab menerima bentangan tangan Landry lalu masuk dalam pelukannya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menghubungimu beberapa saat ini, kenapa? Apa smartphone mu kehabisan daya baterai?" tanya Landry kepada Xela yang ada di pelukannya. Xela kemudian melepaskan pelukan mereka, lalu hendak menjelaskan.


"Smartphone itu, rusak. Aku yang ingin menghubungi ibuku sampai sekarang malah tidak bisa." Ucapnya sedih mengingat kejadian beberapa waktu lalu, Alfarel membandingkan Smartphonenya sampai rusak.


"Sepertinya aku tahu siapa pelakunya, pemilik rumah in, majikan yang kejam itu." ucap Landry dengan nada agak marah, Xela pun mengangguk kecil atas ucapan Landry barusan. Smartphone yang diberikan Landry di rusaknya.


"Sial, aku baru saja datang tapi aku ingin segera menghajarnya," Ucapnya penuh amarah kepada sang kakak yang keterlaluan.


"Jangan, ku mohon jangan itu tidak masalah karena kak Al segera menggantinya dengan smartphone yang baru." Xela berniat untuk mencegah agar tidak ada perkelahian antar saudara.


"Tetapi tetap saja itu keterlaluan Xela." Landry tidak terima.


"Tidak masalah, aku sudah memaafkan kejadian itu." kata Xela dengan santai.


Landry segera meraih kedua bahu Xela, ia geram kepada gadis manis yang terlalu mudah memaafkan seolah terima di tindas oleh kakaknya.


"Xela ... kamu terbuat dari apa sehingga semudah ini memaafkan dia. Kamu harus tahu bahwa ini adalah tindakan yang keterlaluan, kakakku sangat jahat padamu." perkataan itu hanya ditanggapi Xela dengan menggelengkan kepalanya lalu tersenyum ikhlas.


"Tidak masalah, aku memaafkannya, aku berusaha memaafkan bukan mudah memaafkan. Jujur sebenarnya aku masih merasa sakit hati, tetapi aku berusaha untuk memaafkan. Konon katanya kalau memaafkan itu adalah cara untuk berdamai dengan diri sendiri sehingga aku melakukannya untuk mendamaikan hatiku terlebih dahulu setelah itu aku akan bisa melakukan tugas-tugasku dengan baik tanpa rasa kecewa, sakit hati dan dendam." sahut Xela dengan kata-kata bijaknya, memang benar, untuk berdamai dan lepas dari kekesalan hati adalah memaafkan baik memaafkan diri sendiri atas kesalahan diri sendiri ataupun memaafkan kesalahan orang lain atas kesalahannya sehingga memudahkan diri kita untuk menerima dan mencintai suatu masalah yang kiranya menjadi tanggung jawab kita


"Aku sangat salut padamu Xela, dan ini menjadi alasan mengapa aku sangat menyukaimu." Landry mengucapkannya secara blak-blakan membuat Xela kaget sekaligus malu.


"Hmm, udah dateng lu." seorang pria berdehem menghampiri mereka, siapa lagi kalau bukan tuan rumah, Alfarel.


"Hm." hanya sebuah deheman Landry sebagai jawaban untuk kakaknya.

__ADS_1


"Sampai kapan berada di depan pintu? kurasa sudah hampir satu hari, perbincangan kalian mengusikku dan terdengar dari ruang kerjaku. Itu sangat tidak sopan." kata Al kepada mereka berdua, lalu Al memberi isyarat agar Xela meninggalkan mereka berdua, Landry sedari tadi menatap mata kakaknya dengan penuh amarah. Sekarang tersisa kakak beradik yang berdiri di dekat pintu utama, mereka saling menatap dengan tatapan tajam seolah akan memulai perang.


__ADS_2