POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Musuh Tetaplah Musuh


__ADS_3

Alfarel menyerah ketika tiba di lantai lima, bahkan semua balkon telah ia telusuri tetap saja tidak menemukan orang yang ia cari, ia duduk bersandar di balkon dengan perasaan kacau oleh pikiran tentang Xela, apakah gadis itu baik-baik saja?


Mundur pada beberapa menit yang lalu, Xela yang akan terjatuh ke bawah memejamkan matanya pasrah akan keadaan. Namun ingatannya tentang ibunya membuatnya berharap bisa selamat.


“Kakak cepat pulang ya hanya sebentar saja, kasihan Mama cariin kakak terus." Kalimat itu membuat Xela bangkit, ia mengalahkan rasa takutnya menahan diri untuk bisa melihat ke bawah, kebetulan beberapa detik lagi ia sampai di pagar balkon, dengan yakin Xela meraihnya meskipun tangannya terasa sakit saat meraih pagar balkon seperti terhempas akibat kelajuan gravitasi, Xela mengeratkan genggamannya pada balkon. Tangannya gemetar ketika ia lolos dari maut, ia terdiam sejenak mengumpulkan nyawa.


“Akhirnya aku selamat, aku harus ke atas menyusul kak Al.” Xela bergegas ke lantai atas melalui tangga bukan lift dan ia akhirnya tahu dirinya berada di lantai 2 setelah sampai di dekat tangga, jadi saat Alfarel mencarinya mereka tidak bertemu karena berbeda arah. Ketika tiba di lantai tujuh tidak ada lagi orang di sana, semuanya terlihat berantakan dan darah juga berlepotan di lantai transparan itu, Xela melihat semuanya sambil menangis.


“Kak Al, apa dia benar-benar menghabisi Landry?” Gadis itu segera turun ke lantai dasar sambil menangis, gedung yang sepi di malam hari membuatnya sulit mencari bantuan. Xela sampai di parkiran melihat mobil Al masih ada disana, ia merasa heran.


“Apakah kak Al dibawa polisi?”


Saat ia berguman sirene mobil polisi terdengar sangat ramai menuju gedung. Xela ketakutan saat mobil itu berhenti di parkiran lalu menghampirinya.


“Selamat malam, apakah anda pengunjung disini. Saya mendapat laporan dari salah satu pengunjung adanya kekacauan di restoran lantai tujuh.” Tanya pak polisi.


“Iya pak benar, saya sedang mencari ...” Gadis itu tampak berpikir.


“Teman saya karena tadi kami berpencar.” Jawab Xela meragukan untuk menjawab bahwa ia mencari kekasihnya.


Polisi datang karena adanya laporan oleh para pengunjung yang sebelumnya di bubarkan ketika mendengar perkelahian di lantai atas, para polisi pun memasuki gedung itu.


Alfarel masih bersandar di balkon mendengar sirene mobil polisi, rasa penasaran tidak tertahankan menuntunnya untuk melihat ke bawah. Alfarel melihat seseorang yang ia cari ada di sana, gadis bergaun biru muda di dekat mobil hitam itu, matanya tidak salah melihat.


“Xela.” Gumamnya dengan semangat ia bangkit untuk segera turun ke bawah. Bahkan sebelum polisi memasuki lift, ia sudah sampai di lantai dasar melewati pintu keluar yang lain sehingga tidak berpapasan dengan polisi.


“Xela.” Panggilnya.


Xela yang sangat kuatir tidak menemukan kekasihnya dikejutkan oleh suara seseorang yang ia cari-cari.


“Kak Al.” Xela menoleh ke belakangnya melihat Al berlari dari jauh lalu memeluknya. Mereka berdua berpelukan.

__ADS_1


“Maafkan saya Xela, saya tidak bisa melindungimu.” Alfarel memeluk kekasihnya sebentar kemudian bergegas membawa Xela masuk ke mobil.


“Aku tidak apa-apa.” Xela baru menyadari darah kepala Al menetes pada wajahnya.


“Ayo kita pergi, biarkan para polisi itu.” Belum sempat Xela berkomentar, Alfarel segera menarik tangannya masuk ke mobil.


...****************...


Setibanya di rumah Dafi terkejut langsung menghampiri Alfarel membantu Xela membopong Alfarel.


“Bang abis ngapain aja sampai terluka kaya gini.” Dafi terlihat panik tangannya gemetaran.


“Hal biasa, sudahlah jangan sentuh gue kalau gemetar.” Al menyingkirkan tangan Dafi.


“Antar saya ke kamar!” Al meminta Xela mengantarnya ke kamar.


Xela segera membersihkan luka Alfarel ketika sampai di kamar, Alfarel hanya duduk di sofa dengan bersandar memejamkan matanya merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat perkelahian dengan Landry, entah sudah berapa pukulan mengenalnya.


“Kenapa kamu menanyakan dia? Kamu tidak menanyakan keadaan saya pacarmu sendiri.”


“Aku tanya karna aku takut kak Al sampai memukulnya hingga parah.” Tepatnya Xela kuatir kalau Landry koma lalu berakhir kritis di rumah sakit.


“Kamu tidak takut saya yang terluka parah, kamu malah mengkhawatirkan dia?” Xela tidak tahu lagi, maksudnya mau bertanya malah membuat Alfarel salah paham dan tentu saja lelaki itu cemburu.


“Aku kuatir sama kak Al, makanya tadi aku memilih agar aku yang jatuh menggantikan kak Al. Aku gak mau di antara kalian berakhir tragis.”


Xela memperjelas maksudnya dan berhasil membuat Alfarel melotot. Lelaki itu sampai lupa kalau kekasihnya telah menyelamatkannya tadi.


Alfarel langsung memeluk Xela dengan erat.


“Saya minta maaf.” Xela membalas pelukan Al dengan tangan yang gemetar, tangannya sangat sakit bekas terhempas di pagar balkon tadi.

__ADS_1


“Iya.” Jawab Xela dengan nada lembut.


“Bagaimana denganmu, apa ada yang sakit?”


“Tidak ada.”


...****************...


“Aku tidak mau kak Al dan Landry berantem lagi.”


Tutur Xela ketika ia menyuapi Al sarapan. Alfarel yang masih menggunakan perban di kepalanya duduk bersandar di atas ranjang memasang muka dingin tidak merespon ucapan Xela sama sekali sampai matanya tertuju pada telapak tangan Xela yang berwarna biru. Alfarel lalu menyentuhnya dengan lembut.


“Auu sakit!” Xela terpekik.


“Sakit!” Al terkejut.


"Maafkan aku. Aku tidak memerhatikan kamu sampai baru tahu kalau tanganmu sakit.” Batin Al kemudian mengambil alih piring yang ada di tangan Xela.


“Kenapa semalam saya tanya kamu tidak menjawab kalau tanganmu sakit.” Al menjadi kuatir sehingga ia terlihat marah.


“Semalam tidak terasa sakit.” Jawab Xela berbohong, ia juga tidak mau menatap wajah Al yang terlihat sangat tajam menatapnya.


Alfarel memeluknya lagi dan lagi, lelaki itu merasa bersalah seakan ini salahnya. Benar! Ini salahnya ia telah membuat Xela dalam posisi melawan maut, beruntung nasib perempuan itu baik, jika tidak ia pasti akan tinggal nama dunia ini.


“Terima kasih dan minta maaf, semua ini karena saya. “


“Kalau begitu tolong kak Al jangan berantem lagi sama Landry.”


“Iya tidak, tapi tidak janji.” Jawab Al tegas kemudian melepaskan pelukannya.


“Kak Al aku nggak suka kak Al melukai orang lain parahnya Landry adik kak Al sendiri.”

__ADS_1


“Terserah, saya tetap menjadi orang yang sama. Tidak akan mendengarkan siapa pun kalau menyangkut tentang musuh. Musuh ya musuh, tidak bisa di maafkan.” Ucap Al yang lagi-lagi berubah lalu meletakkan piring dengan kasar kemudian berlalu pergi meninggalkan Xela di kamar.


__ADS_2