
"Tumben minta aku tinggal disini?" tanya Landry membuka pembicaraan agar mereka berhenti saling menatap dengan aura kebencian.
"Ya udah, kalau gak mau pergi aja." jawab Al dengan gerakan tangannya mengusir Landry seperti mrngusir ayam yang masuk ke dalam rumah.
"Apa-apaan ini bang. Baru juga datang, kan gue cuma nanya." protes Landry.
"Ya udah, lo tau gue kan? Lo tau kalau gue gak suka orang bacot, banyak tanya kek anak kecil. Lo udah dewasa kan? pikir sendiri." Alfarel dengan sombong mengatakannya kepada adik kandungnya sendiri.
"Oke.deh, karna gue adik yang berbakti, gue bakal nurut sama abang gue yang paling baek. Mudah-mudahan ke depannya nggak dipukul." Jawab Landry.
"Tenang aja, lo gak akan gue pukul. Tapi kalau lo melakukan kesalahan, gue bakal bunuh lo." kata Al menunjukkan senyum sinisnya yang menantang kepada sang adik.
"Aish bang, seram amat. Btw makasih ya bang, gue bisa tinggal disini dan ketemu pacar gue tiap hari." kata Landry kemudian berlalu pergi membawa kopernya yang berat menuju sebuah kamar. Kamar dilantai dasar yang letaknya berdektan dengan kamar Alfarel.
Alfarel hanya tersenyum memandangi kepergian adiknya yang senang karena tingal dirumahnya menjadi kesempatan agar bisa bersama Xela setiap hari.
"Sepertinya kau hanya senang untuk sementara Lan. Aku tidak mengatakan kau akan bersama Xela setiap hari. Tidak akan ku biarkan." batin Alfarel.
Flashback On
"Daf, gue ketemu Mira dan dia semakin cantik. Dia baru datang dikehidupan gue lagi."
Al curhat dengan Dafi, di ruang kerjanya setelah bertemu Mira beberapa hari yang lalu.
"Terus?"tanya Dafi penasaran dengan kelanjutannya, ia berharap Al menceritakannya.
"Dia semakin cantik dan gue makin naksir. Mungkin masih ada rasa cinta gue buat dia." Al melanjutkan.
"Yakin?" Dafi mendekatkan kursinya agar bisa mendengar dengan jelas curhatan Al.
"Yakin, bahkan gue gak mau kehilangan dia lagi. Gue bakal ajak dia tinggal disiini."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Xela?"
"Xela? dia bukan siapa-siapa. Dia bakal keluar dari rumah ini." sebenarnya Alfarel berkata demikian karena ia telah terlanjur dikuasai amarah, Sebab ia telah mengetahui bahwa kalau Xela dekat dengan Landry.
"Kasihan dia bang, bukankah Dia anak rantau yang juga membutuhkan pekerjaan dan membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Kalau dia keluar dari rumah ini apakah itu artinya dia tidak bekerja lagi dan Bang Al akan melepasnya begitu saja?" tanya karena dia telah tahu latar belakang Xela dialah yang membantu Al Mencari tahu siapa gadis itu dan dari mana asalnya.
"Itu bisa di atur. Keluar dari rumah ini bukan berarti dia tidak akan bisa hidup di luar." jawab Al sambil memijat sedikit keningnya. Dafi membaca diri Al bahwa sebenarnya Al memiliki keberatan untuk masalah Xela.
"Pertimbangkan dulu Bang, kasihan Xela."
"Aku sudah mempertimbangkannya, dia tetap akan keluar. Lalu Landry akan tinggal disini."
Dafi terkejut, apa lagi rencana Al, bukankah dia dan adiknya selama ini seperti musuh. Meskipun Dafi belum banyak tahu apa penyebabnya, tetapi ia sudah mengetahui bahwa Landry adik dari Al, mereka tidak akur hanya karena cerita masa lalu. Dafi belum tahu apa isi cerita dari masa lalu yang menyebabkan permusuhan antar saudara kandung.
"Bang Al tidak akan melakukan sesuatu yang kejam bukan. Ingat Bang, aku tahu betul relasi bang Al dan Landry, tetapi jangan kejam nanti tercatat sebagai kriminal. Lebih baik jangan membawa Landry kemari karena ..."
"Stop! gue yang atur dan gue cuma curhat bukan butuh saran elo." Al mengacungkan jari telunjuknya tepat kemuka Dafi sebagai peringatan, ia tidak suka Dafi terlalu banyak ngomong terlebih memprotesnya.
"Oke, gue bakal buat Landry untuk memungkinkan dia tidak berkeliaran di luar. Gue bakal mengatur semuanya, memberikan pengawasan yang ketat kepadanya. Itu hukuman untuknya, rumah ini akan menjadi penjara baginya nanti." kata Al, Dafi dapat bernafas lega mendengarnya. Setidaknya Al tidak mengatakan bahwa ia akan menyiapkan alat dan bahan untuk berperang dengan Landry atau bahan dan alat untuk melukai Landry.
"Baiklah bang itu keputusan yang baik."
"Dan Lo awasi Landry ketika gue gak ada."
"Lalu bagaimana dengan Xela?"
"Dia akan baik-baik saja di luar sana."
Dafi tidak percaya akan perkataan ini, apakah Alfarel akan melepaskan gadis malang itu di luar pengawasannya, padahal sebelumnya Al sangat posesif terhadapnya. Dafi belum tahu bahwa keputusan ini adalah dampak dari posesif. Seseorang yang posesif nyatanya lebih tega membiarkan seseorang yang dicintainya merasakan menderita hak kebebasannya di ambil.
Flashback Off
__ADS_1
Alfarel masuk ke dapur melihat Xela ada disana melakukan sesuatu. Ingin tahu, ia pun menghampiri asistennya lalu bertanya.
"Kamu ngapain, apa gak ada kerjaan lain?"
"Hm, ini aku sedang memasak untuk Landry, bukankah dia baru datang. Makanan tadi sudah habis." jawab Xela.
"Kamu pintar sekali hari ini." ucap Al dengan senyuman tidak iklas, mata dan bibirnya tidak selaras seperti senyum ikhlas pada umumnya.
"Terima kasih." Xela dengan senang hati menerima pujian sang bos.
"Pintar membuat aturan sendiri. Tidak ada memasak lagi. Sebaiknya kamu mencari pekerjaan yang lain." kata Al menyambung ucapannya tadi.
"Tapi." Xela tidak bisa membantah karena Al menarik tangannya lalu mendorongnya untuk pergi dari dapur.
"Aku melanjutkan memasak untuknya, kau tidak berhak memprotes."
Memang bos tidak bisa di bantah, Xela akhirnya menuruti, karena ia disini juga.dibawah pengawasn dan pengaturan Al dalam pekerjaanya.
Selesai memasak, Al membawanya di ruang makan dan Landry sudah duduk manis disana menunggu, sebelumnya Al sudah memberitahunya.
Al membawa makanan datang lalu duduk dengan melipatkan kedua tangannya didada, memandang semangkuk sup dan sosok adiknya yang duduk berhadapan dengannya. Ia tersenyum kecil.
"Ini masakan spesial buat lo yang baru dateng, gue yang masak dalam rangka silaturahmi adik kakak." ucap Al. Ucapan yang terdengar manis, Landry bahkan tersentuh mendengarnya.
"Wah abang yang sangat baik, sebelumnya adikmu ini meminta maaf sebesar-besarnya dengan tulus hati."
Landry yang senang dengan kehangatan ini berdiri sejenak menyalami kakaknya, Al pun memberikan tangannya yang hendak Landry tempelkan dikeningnya dengan rela, mereka seperti seorang guru dan murid. Al tersenyum sebentar saja pada saat Landry menyalaminya, tetapi setelah itu wajahnya kembali datar. Kendatipun begitu ia tetap duduk dan menunggu adiknya memakan habis makanan yang ia masak.
Kemudian Landry mulai mencicipi sup yang Al masak dengan susah payah.
Landry awalnya senang, tetapi ketika lidahnya merakan sup itu, wajahnya mengerut. Supnya sangat asam.
__ADS_1
"Bang ini sup apa bang?"