POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Gara-gara Bau Parfum


__ADS_3

Alfarel menatap lamat-lamat Xela yang masih mengunakan seragam putih abu-abu itu dari ujung kepala sampai kaki. Tatapan dingin mengintimidasi Xela.


"Maaf aku yang salah menabrak. Aku kehausan."


Xela menunduk sambil mengucapkan kata maafnya kepada Alfarel, setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan Alfarel untuk melepaskan dahaganya dengan meminum air mineral.


Xela bernapas Lega ketika tenggorokannya sudah terpuaskan oleh segarnya air putih yang membasahinya.


"Lega banget. Untung aja si bunglon tadi nggak banyak bacot. Mungkin karna tabrakan tadi tidak membuatnya berubah warna, hehehe ..."


Xela bergumam dan tertawa sendiri karena tadi saat berpapasan dengan Alfarel, setelah mengatakan maaf, ia bisa lepas begitu saja tanpa pertanyaan dari Al.


Ah mungkin saja laki-laki itu tadi menatapnya dengan tatapan intimidasi karena butuh alasan mengapa Xela menabraknya.


"Siapa bunglon yang kau maksud?"


Xela dikejutkan dengan pertanyaan dari seseorang yang sepertinya telah berdiri di belakangnya. Ia menggigit bibir bawahnya dan jantungnya berdebar. Bagaimana tidak? suara seseorang di belakangnya tidak lain adalah suara Alfarel.


Kok bisa dia ada belakang. Bukannya udah pergi ke ruang tamu. Aduh parah banget lo Xel, parah. Pasti ini bunglon akan berubah warna jadi merah api. Huhu ...


Jerit Xela dalam batin, ia tidak berani menoleh sedikitpun. Mendengar suaranya saja sudah takut apalagi menghadap nya.


"Siapa yang kamu maksud? bunglon? siapa bunglon yang kamu maksud?"


sekali lagi pertanyaan yang hampir sama itu terulang.


Xela pun berbalik badan menghadap kepada Alfarel. Mau tidak mau ia berhadapan dengan Alfarel karena kesalahannya sendiri. Bisa-bisanya ia bergumam tidak memerhatikan sekitarnya.


"Eh kak Al. Sejak kapan disini?"


tanya Xela bermaksud untuk basa-basi sekaligus menetralkan debaran jantung yang seperti spanduk di tiup angin kencang.


Alfarel menghela nafas dengan kasar kemudian menatap Xela geram. Ingin sekali mulutnya mengeluarkan kata-kata pedas, namun itu semua ia tahan agar setelah gadis itu tidak bisa menjawab nya barulah ia akan melontarkan kata-kata berisi material bom yang akan ia ledakan untuk memarahi Xela.


"Pertanyaan ku belum kamu jawab. Apa kau mengerti?"


"Hmm ... itu tadi. Ee ... itu tadi kejadian di bus pas aku pulang. Ada seorang nenek-nenek membawa bunglon dan nggak sengaja aku tabrak."

__ADS_1


jawab Xela ngasal, namanya juga mengarang cerita.


Aduh salah lagi gue. Alur nya salah lagi. Gimana bisa sih dia ada disini. Habislah aku ...


"Kau tidak terlalu pandai membuat cerita pendek Xela. Sekarang kamu jawab dengan jujur ..."


"Oh tentang bunglon tadi, jadi begini tadi aku memberi gelar kepada nenek-nenek yang membawa bunglon itu sebagai bunglon nya juga."


Xela memotong ucapan Alfarel untuk memberi alasan yang logis lagi agar Alfarel bisa mempercayainya.


"Aku belum selesai bicara Xela. Dan sekarang bukan waktunya lagi untuk membahas bunglon."


ucapan Alfarel seolah memberi lampu hijau kepadanya, yang artinya ia akan bebas dari perhentian oleh pertanyaan Alfarel, itu artinya juga Alfarel tidak akan pernah tahu siapa yang dimaksud bunglon.


"Kamu pulang sekolah jam berapa? apakah setelah pulang kamu ke tempat persinggahan?"


tanya Alfarel menginterogasi Xela.


Hah, aneh banget nanya nya kaya gini. Apa sih tujuannya? bukannya dia udah tau kalau aku pulang jam dua siang.


"Aku langsung pulang kok. Nggak singgah kemana pun."  "Bohong! Coba kamu cium seragam mu, lengan baju bagian kanan!"  "Memang nya ada apa dengan seragam ku?"


Aneh sekali. Apa yang  salah, apa aku terlalu berkeringat sehingga membuatnya risi?


batin Xela, ia tidak mencium apapun. "Parfum yang sangat familiar, itu bau Parfum Landry. Apa yang kalian lakukan." Alfarel mulai membentak Xela dan tangannya mencengkeram lengan Xela. Sekali lagi Xela mencium lengan baju bagian kanan dan ternyata benar itu bau Parfum yang digunakan Landry,  mungkin karena tadi mereka nempel seperti perangko karena sandiwara tergila yang dilakukan  di depan Ghea membuat Parfum Landry ikut menempel disana.


"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian hari ini tidak ke sekolah? "


"Nggak kok, Lagian kenapa sih kepo banget. Lagian ini cuma bau Parfum saja karna tadi duduk berdekatan."


"Duduk berdekatan? Aku nggak percaya.  Memangnya Landry habis mandi Parfum begitu mudahnya bau Parfum itu menjalar ke bajumu?" Alfarel tersenyum getir, ia memang tidak mudah percaya orangnya. Disaat Xela tidak bisa lagi akan berkata, smartphone Alfarel berdering.


Cengkeraman tangan Al pun terlepaskan dari lengan Xela.


Dasar bunglon. Untung aja cengkeraman nya nggak sakit amat.


umpatnya dalam hati ketika Alfarel terlihat fokus dengan smartphonenya. "Aku permisi akan ganti baju dulu." Dengan sopan Xela berkata demikian karena memang jalannya menuju kamar sedang dihalangi oleh Alfarel. Belum lebih dari dua langkah Xela berjalan, tas nya di tarik, otomatis badannya ikut mundur, siapa lagi pelaku tarik nya kalau bukan Alfarel.

__ADS_1


"Lihat ini! jadi ini yang kalian  lakukan disekolah? Berpacaran di sekolah?" Alfarel menunjukkan rekaman video yang ada di smartphone Alfarel, wajah dingin dan mata elang Alfarel begitu menakutkan menatap dirinya.


Video, apa-apaan ini. Siapa yang sudah merekam kejadian tadi.


Xela melihat kejadian saat ia dan Landry menyatakan jika mereka sungguh sungguh berpacaran, itu adalah ucapan mereka untuk Ghea, Alfarel menambah volume sehingga Xela dapat melihat dan juga mendengar.


"Video ini kak Al dapat dari mana?" Xela bertanya bukannya dijawab, tetapi Alfarel bertindak menariknya ke arah ruang televisi. Alfarel membuatnya sangat ketakutan, Xela tidak bisa melepaskannya diri, "Kak Al lepaskan aku, kenapa tidak menjawab pertanyaan ku. Aku bisa berjalan sendiri. Lepaskan kak!"


Mohon Xela.


"Kamu tidak perlu tahu apapun dan jangan banyak bicara kalau tidak mau aku melakukan hal yang lebih buruk, paham?"


Alfarel menggeretnya menuju ruang kamar, bahkan melewati ruang kamar menuju kamar mandi. Xela dimasukkan disana dan dikunci dari luar.


"Kak kenapa aku dikunci disini. Kak tolong, apa salah ku?" Xela gemetar menahan ketakutan.


" Jangan pura-pura bodoh Xela, jangan berisik dan diamlah disana. Kalau kamu berisik aku akan mematikan lampu kamar mandinya, atau aku akan membiarkan mu sampai besok di kamar mandi." Teriak Alfarel dari luar kamar mandi. Apa yang bisa Xela lakukan selain diam saja, ia harus menuruti perkotaan laki-laki arogan yang disebut nya bunglon itu. -Alfarel keluar dari kamar Xela menutup pintu dengan kasar.


'Brruukkkk'


"Au mamae  apa yang terjadi. Huh  ... bang Al ada apa sih? "


Dafi menjatuhkan kemoceng dari tangannya karena terkejut mendengar hempasan pintu. "Kau di rumah dan jangan pernah masuk ke kamar itu sampai aku datang."


Alfarel sambil menunjuk pintu kamar Xela kemudian pergi dengan langkah kaki yang di percepat, Alfarel keluar rumah.


Aduh ada apa ini.  Apa yang terjadi dengan mereka, perasaan sebelum Xela pulang Bang Al baik-baik saja. Apa yang terjadi, atau jangan-jangan Xela kerasukan lagi. Hii  ... menyeramkan.


Dafi kemudian pergi menjauh dari kamar Xela.


'Brrukkk'


suara hempasan pintu kamar  terdengar jelas oleh Xela meskipun saat ini ia sedang berada di dalam kamar mandi yang terkunci. Mendadak hatinya merasa sedih. Apa yang terjadi padanya?


Kenapa Tuhan, hidupku tidak pernah merasa tenang, saat aku tidak disakiti oleh Ghea dan orang di luar sana, selalu saja aku disakiti orang sekitar ku. Apa aku tidak di takdirkan mendapat ketenangan.


bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2