
Alfarel dan Ario berada di suatu ruangan, tampaknya mereka sibuk dengan laptopnya masing-masing. Alfarel sekali memerhatikan smartphonenya sambil tersenyum, Ario hanya melirik sekilas temannya yang sibuk itu, namun semakin lama ia memerhatikan Alfarel terus tersenyum, Ario penasaran, apa yang membuat sahabat sekaligus bos nya itu tersenyum di tengah mengerjakan tugas, bukankah tugas itu terkadang sulit.
Ario menepis rasa herannya. Ario mengambil sebatang rokok dan mulai menyatakannya dengan korek yang diambil dari kantong celananya.
"Al rokok Al biar santai dikit."
Ario menyodorkan bungkus rokok kepada Alfarel.
Alfarel meliriknya sekilas kemudian mengelakkan dengan mendorong bungkus rokok itu kembali kepada Ario.
"Kenapa nggak Al. Coba dikit kah, dari dulu lo sendiri yang gak pernah hisap rokok."
Kata Ario melihat Alfarel menolak.
"Asapnya aja bikin selera makan hilang, mungkin kalo gue ngerokok nafsu makan gue hilang. Ogah deh daripada tar gue kurus nggak bagus tau."
Ucap Alfarel, memang seorang Alfarel sangat memerhatikan kesehatannya, postur tubuhnya yang tinggi.
Alfarel memang tidak merokok tidak seperti Ario yang suka merokok dan miras, kecuali jika seorang Alfarel merasa frustasi dan pikirannya sedang kacau seperti semakin, maka ia menjadikan pahitnya alkohol sebagai pelampiasan.
"Wuih mantap man. Gue liat belakangan ini lo udah jarang minum miras lagi. Apa lo udah sembuh?"
Tanya Ario sehingga wajah Alfarel yang semula tersenyum, kini senyumannya memudar oleh karena mendengar lontaran dari mulut Ario.
"Ups maaf man, gue salah ngomong."
Ario baru menyadari jika ucapannya pasti membuat Alfarel teringat dengan masa lalunya. Ia Pati teringar Alika orang yang paling ia cintai dan belum bisa ia ikhlaskan kepergiannya.
Alfarel meletakkan smartphone yang semula ia pegang. Laki-laki tampan itu sedikit menghela nafas.
Alfarel tersenyum kepada Ario yang merasa bersalah atas ucapannya tadi.
"Ario. Gue udah ikhlasin Alika, gue akan selalu berdoa semoga Alika selalu tenang dialam nya.
Lagian gue udah punya ..."
Ucapan Alfarel terpotong ketika gerakan mulutnya hendak menyebut 'Xela', ia pun salah tingkah dan kembali mengambil smartphonenya.
"Lanjutin aja man gue tahu kok kalau itu Xela. Xela udah berhasil menggantikan posisi orang yang paling lo sayang. Gue turut senang Al."
"Apaan sih lo. Sembarangan kalau ngomong, mana ada Xela."
__ADS_1
Alfarel mengelak perkataan Ario.
"Lalu siapa yang mau lo ucapin tadi?"
"Bukan siapa-siapa. Lo yang sok tahu."
"Jelas-jelas gerakan bibir lo, gue bisa baca kalau lo ucapin nama Xela."
"Udah ah gue mau fokus kembali, tugas nagih banyak."
Alfarel beralih pada kesibukan agar Ario tidak terus menerus berbicara yang mungkin bisa membuatnya terlihat salah tingkah, itu memalukan sekali.
Alfarel sekali lagi tersenyum memandang smartphonenya, disana ia melihat Xela sedang melakukan pemetaan dengan baik. Alfarel ternyata sudah menghubungkan cctv ke perangkatnya sehingga kemanapun ia pergi, ia dapat melihat kondisi rumahnya yang di tinggalkan.
Asisten yang baik, kau sangat rajin dalam mengurus rumah tangga.
Gumam Alfarel dalam hati. Rupanya ia mengagumi Xela yang tampak sedang membersihkan ruangan demi ruangan yang terlihat di layar smartphonenya.
"Al kenapa sih dari tadi senyum mulu, salah makan apa, banyak tugas bisa-bisanya senyum."
Ucap Ario yang malah terusik.
"Memang banyak tugas tapi bukan berarti harus murung mulu gara-gara susah, makin susah kalau dikerjakan tanpa tersenyum, kalau mengerjakan tugas dengan senang hati pasti hasilnya bagus." Jelas Alfarel, padahal semuanya hanyalah alasan belaka, bukan tugas yang ia perhatian saat ini, melainkan Xela yang berada dirumahnya.
Ario mengucapkan kalimat tersebut menunjukan ia mengalah dan menerima perkataan Alfarel.
Sebenarnya Ario penasaran, tugas mana yang membuat Alfarel tersenyum. Pengalamannya menemani Alfarel biasanya kalau Alfarel sedang mengerjakan tugas, pasti tidak ada senyuman dibibir nya, yang ada hanyalah dua alis yang saling bertaut dan mata yang beradu dengan layar laptop.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.25, terlihat Xela sedang memilah milih sayuran, ada brokoli, labu siam, mentimun, sawi, kangkung dan bayam.
Xela bingung hendak memilih yang mana, jujur baru pertama kali ini ia disuruh memasak, apalagi cara masak yang di gunakan diatur oleh Alfarel, sulit bagi Xela untuk memasak sesuai kehendaknya, mau tidak mau ia harus menutupi apa kata Alfarel, karena Alfarel juga berperan sebagai bos sih.
"Aduh masaknya sayur yang mana ya? Katanya sayuran daun pilih salah satu dan aku juga harus masak mentimun. Masaknya jangan terlalu mentah dan terlalu matang. Aduh aku kan biasanya di kost masak sayur selalu enak. Bikin bingung aja si bos nggak ada akhlak itu, bukannya sayuran makin matang makin enak."
"Ah bodoamat, aku akan pakai caraku sendiri sesuai kemampuan."
Xela bermonolog sendiri sebelum ia melakukan pekerjaannya.
Setelah itu Xela memulai memotong beberapa siung bawang, karena Alfarel memerintahkan kepadanya untuk menumis dua macam sayuran, akhirnya ia segera menyiarkannya dan memotong sayuran sesuai dengan petunjuk yang telah di jelaskan tadi.
__ADS_1
Xela menghidupkan kompor kemudian menuangkan minyak di dalam wajan untuk memasak sayuran, kemudian terlebih dahulu ia memasukkan bawang kemudian disusul dengan memasukkan mentimun yang sudah dipotong tipis kedalam wajan.
Ia memasak sangat lama.
"Semoga bos suka deh dengan masakan sederhana ini, kalaupun nggak enak biarin siapa suruh nggak kasi tahu bumbu sayurnya."
Ucapnya setelah selesai memasak sayuran.
Selanjutnya lagi, Xela diminta untuk memasak ikan, ikan bersisik yang sudah di siapkan oleh Alfarel agar ia memasaknya.
Xela melihat banyak sekali bumbu untuk membumbui ikan yang akan ia masak.
"Aduh bumbunya kalau-kalau ditimbang mungkin sekilo deh."
Gumamnya, ia merasa bingung bagaimana menumbuk bumbu untuk ikan seperti kunyit dan bawang hingga halus, ada alat ulek yang dianjurkan Alfarel agar Xela menghaluskan bumbu tersebut, namun Xela tidak bisa menggunakannya, padahal ada blender yang siap menghaluskan bumbu kasar.
Xela memerhatikan berbagai bumbu yang ada didapur, tidak sengaja matanya melihat bumbu bubuk ikan yang ada di beberapa bungkus bermacam merek.
Xela tersenyum senang, ia kemudian meraihnya hendak menggunakannya, disaat yang sama telepon rumah yang ada diruang tamu berdering.
Karena tidak ada orang dirumah kecuali dirinya, Xela memutuskan untuk mengambil alih posisi, ia segera menuangkan teleponnya.
"Ingat Xela, aku tidak mau bumbu ikan di blender, nanti blendernya rusak, kamu belum tentu bisa menggunakannya.
Aku juga nggak mau kalau masakan di beri bumbu bubuk, rasanya pastinya sangat berbeda.
Aku mau bumbu alami yang dibuat dengan proses ulekan, paham !"
Xela mendengar jelas semuanya berhasil membuat Xela mendengus kesal, apalagi teleponnya segera ditutup oleh Alfarel sehingga Xela tidak dapat komplain lagi.
bersambung ...
~
Hallo semua, terimakasih yang udah dukung novel ini. Semoga aja makin seru yah ☺️
Maaf kalau masih ada kesalahan kalimat ataupun alur yang membuat readers tidak nyaman.
Untuk itu semua author boleh dong minta komentar dan sarannya mengenai alur cerita ini dan unsur-unsur yang kiranya membuat readers bingung, dan bahkan tidak merasa nyaman.
Ingat, episode selanjutnya, Alfarel mulai Posesif tuh, ingat 23 akan di pertemukan saingan, hehe🤭
__ADS_1
Terimakasih ....