POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Peringatan Kepada Ghea


__ADS_3

Alfarel sedang berada di Rose Room dengan segelas alkohol diatas meja. Jemari lentiknya tidak berhenti memutar gelas tersebut.


Air mukanya menunjukkan ia sedang tidak baik-baik saja. Di sebelahnya ada Ario yang menemaninya, namun bedanya Alfarel duduk sendiri sedangkan Ario duduk di temani seorang perempuan seksi.


Malam ini sangat ramai, terutama di bar. Alfarel sedang menunggu seseorang yang berurusan dengannya.


"Hai!"


Datang sosok perempuan memberi sapaan kepada Al. Perempuan itu ternyata Ghea.


"Hmm. Apa kau baik-baik saja malam ini?"


Tanya Alfarel datar tanpa senyuman diwajahnya.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kak Al?"


Tanya Ghea balik sambil ia juga duduk di sebelah Alfarel.


"Cukup baik. Banyak hal yang buruk terjadi belakangan ini."


Ucap Alfarel, ia berbicara tidak menoleh sedikitpun kepada lawan bicaranya.


"Oh begitu. Itukah yang membuatmu kemari untuk bersenang-senang dan mencari ku?"


Tanya Ghea dengan gaya centilnya, ia terus memainkan rambutnya, pakaiannya yang minim itu tidak membuat Alfarel kepincut.


"Iya, memang tujuanku kemari selalu untuk bersenang-senang."


Jawab Al singkat.


"Lalu kak Al mencari ku, pasti kak Al memintaku untuk menemani kak Al dimalam ini. Tenang aja kak Al, aku siap kok untuk kak Al."


Ucap Ghea senang. Sudah lama ia menantikan Alfarel bersikap baik kepadanya meskipun sedikitpun cuek. Namun lumayanlah, ia menyukai Al sejak lama akhirnya dapat bersama dengan Al di malam ini.


Asikkk. Aku akan mendapatkan kak Al, aku tidak boleh sia-siakan anak sultan ini. Udah punya modal tampan,kaya lagi.


Batin Ghea senang. Ia bahkan belum tahu apa tujuan Al sebenarnya.


"Terimakasih sudah sedia menemaniku. Aku harap kau memang benar-benar menemaniku malam ini seperti yang aku inginkan."


Alfarel berucap demikian disertai senyuman sinis nya, lalu mengalihkan pandangannya kepada Ghea. Itu sedikit membuat Ghea salah tingkah. Tatapan Alfarel memang sangat banyak di sukai para kaum hawa, tidak sedikit juga di luar sana yang menginginkan sosok Alfarel yang tampan itu.


Alangkah bahagianya Ghea mendengar apa yang di ucapkan oleh Alfarel. Ia pun segera menarik tangan Alfarel ke sebuah ruangan dengan tujuan menghabiskan malam berdua bersama Alfarel.


Alfarel hanya menuruti saja, ia melangkah mengikuti Ghea, karena tangan mereka yang kini sudah bertautan.


Sampailah mereka di ruangan yang dilengkapi dengan ranjang dengan taburan bunga merah di atasnya.

__ADS_1


Tampak senyuman bahagia dari wajah Ghea, tetapi tidak dengan Alfarel. Alfarel menatap benci semuanya.


"Sayang, apakah kamu sudah siap?"


Tanya Ghea sambil mengelus tangan Alfarel.


Alfarel segera menepis tangan Ghea.


"Aku kesini tujuanku yang sebenarnya bukanlah ini Ghea. Akhirnya aku tahu siapa yang wanita malam dan siapa yang bukan."


Alfarel tersenyum sinis kepada Ghea yang sudah duduk di ranjang dengan wajah muram, bisa di pastikan Ghea sedang keheranan dengan ucapan Alfarel.


"Maksud kak Al apa? Bukannya tadi kita mau senang-senang katanya?"


Tanya Ghea heran.


Alfarel bukannya menjawab, ia malah mengambil smartphonenya dan merekam video Ghea yang sedang berada di atas kasur mengunakan pakaian minim.


"Teruslah bicara. Apa yang mau kau katakan, hah?"


Ghea masih bingung dan tidak menjawab apapun.


"Kak Al. Aku tidak mengerti apa permasalahan kak Al. Apa kak Al mencoba melampiaskan amarah kakak dengan memarahiku?"


Tanya Ghea.


Seorang Ghea adalah murid SMA yang masih duduk di kelas tiga. Tetapi seorang Ghea beraninya memutar balik fakta mengatai orang lain sebagai wanita malam, padahal kaulah wanita malam yang sesungguhnya."


Ucap Alfarel dengan lantang, kesabarannya sudah habis.


"Iya memang itu kejadian tadi siang. Tapi kenapa kak Al tahu. Apa kak Al begitu penasaran tentangku sehingga Al ..."


Ucapan Ghea terpotong oleh Al.


"Cukup ... kau sudah menyakiti perempuan itu. Kau jangan pernah lagi menyentuhnya atau video ini akan aku tunjukkan kepada pak Ansel, gurumu?"


Ancam Alfarel sambil menunjukkan rekaman Video yang sudah ia buat.


"Oh jadi sebenarnya kedatangan kak Alfarel kesini untuk memarahiku karena perempuan kampung yang mata duitan itu. Kak Al keterlaluan."


Ghea berani membentak Alf


arel kali ini.


"Berani juga kau. Memang aku datang dengan tujuan ini. Jangan pernah kau menyakiti Xela. Sampai sedikit saja kau menyakiti hatinya dan menyinggungnya, kau akan berurusan denganku."


Kecam Alfarel sekali lagi.

__ADS_1


Ghea hanya tersembunyi getir sambil mengalihkan pandangannya.


"Kak Al, asal kak Al tahu aja. Dia yang tidak tahu untung. Asal kak Al tahu sebenarnya aku membantu Xela untuk mendapatkan uang. Tapi Xela malah tidak tahu di untung. Salah apa aku kesal padanya dan mempermalukannya di depan umum. Karena dia yang duluan mempermalukan aku disini."


Tegas Ghea sambil air matanya mengalir.


Alfarel hanya tersenyum getir, ia tidak sedikitpun tergerak hatinya untuk merasa kasihan kepada Ghea yang menunjukkan wajah memelas.


"Oh jadi begini caramu? Kau pikir ini cara yang benar untuk mencari uang. Kau salah Ghea, ini bukan pekerjaan yang cocok untuk Xela dan bahkan untukmu. Apa kau paham?"


"Tapi bagaimana lagi. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada pekerjaan lain yang cocok."


"Kalau begitu seharusnya cukup lo yang bekerja disini, jangan lo bawa Xela yang memang tidak ingin disini. Bukannya itu pemaksaan, lo memaksa Xela untuk bekerja disini sementara Xela tidak mau?"


Ghea diam mendengar ucapan tegas dari Alfarel, apa yang akan ia katakan?


Tidak ada lagi jawaban yang bisa menimpalinya.


"Ini sudah cukup untuk malam ini. Malam ini kau beruntung tanpa aku sentuh."


Ucap Alfarel sambil melemparkan beberapa lembar uang kertas kepada Ghea kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Kak Al, lihat saja. Aku akan lebih membuat Xela menderita. Rupanya kau memihak kepada perempuan tidak berguna itu. Aku tidak akan membuat kalian bersama, kau milikku.


Batin Ego Ghea, ia tersenyum di tambah lagi pemandangan indah yang ia lihat, uang nominal seratus ribu bertebaran disekitarnya malam ini dari seorang Alfarel.


"Woii man gimana, malam yang menyenangkan bukan?"


Tanya Ario yang sudah menunggu dan berjalan dengan oleng menghampiri Alfarel.


"Parah Lo io. Berapa liter lo minum sampai segini olengnya?"


Tanya Alfarel setelah Ario memegang pundaknya sebagai penopang berjalan keluar.


"Sangat banyak Man. Mantap banget tadi."


Ario mengakui sambil tertawa.


"Sudahlah jangan di ceritakan, lebih baik pulang. Ini sudah jam satu, besok gue ngampus."


Alfarel dengan rela menopang Ario yang sudah mabuk parah meskipun ia yang seharusnya berada di posisi Ario.


Mereka pun pulang. Alfarel mengemudi mobil karena ia masih merasa baik-baik saja sementara Ario di baringkan di kursi belakang karena mabuk parah.


bersambung ...


Jangan lupa dukungannya ya.

__ADS_1


terimakasih ...


__ADS_2