
"Tolong jangan sakiti aku!" Xela memohon, air matanya pun ikut bersaksi merembes dari pelupuk matanya. Marco menyeringai, entah apa yang ada dalam pikiran pria itu. Xela pun ia biarkan bernapas kembali.
"Uhuk uhuk ..." sangat sakit tenggorokannya, tetapi lebih sakit lagi melihat keadaan Alfarel di ruangan tadi.
Marco pun tak berdiam lama disana, beruntung bagi Xela karena tidak sampai diperbuat yang tidak-tidak oleh Marco. Tapi tetap saja, ia merasa kuatir namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Sejak saat itu, Xela dikurung di kamar selama berhari-hari sampai ia mengalami hal yang buruk, ia menjadi kurus dan tak terawat lagi.
"Kak Alfarel, kak Alfarel aku mau kau baik-baik saja. Hihihi."
Xela mengucapkan kata itu berulang-ulang benar-benar seperti orang gila.
Namun suatu hari terjadi keributan di luar, namun Xela yang sudah tak berdaya dan setiap hari terus menunjukkan tatapan kosongnya tidak merasakan apa-apa. Selama perubahan psikologisnya Marco menjadi repot-repot mengaji banyak ahli jiwa untuk memperbaiki kesehatan Xela tetapi tetap tidak bisa.
Di lain sisi, Marco tertekan oleh keadaan Xela sehingga ia pun tidak memperhatikan proses di ruangan khusus untuk melumpuhkan Alfarel. Ia tidak fokus.
"Kenapa kalian yang sudah ku bayar mahal tidak bisa bekerja dengan benar. Kalian harus membuat wanita itu kembali normal. Tidak mungkin aku bisa memilikinya dan menidurinya jika keadaan dia seperti itu. Kumal, kusut, menjijikkan!" Marco memarahi dokter spesialis jiwa yang jumlahnya lebih dari puluhan orang itu karena di antara mereka tidak ada yang berhasil melakukan pekerjaannya.
"Maafkan kami master Marco, kami sudah berusaha tetapi perempuan itu tidak bisa disembuhkan kecuali ia melihat Alfarel. Jika ia melihat Alfarel setiap hari maka keadaannya bisa berangsur membaik." jawab salah satu dokter kepala tetapi Marco yang tidak terima dengan perkataan itu mengepalkan tangannya lakh meraih pistol dan menembak dokter yang telah berani mengatakan pendapatnya.
'DOR'
Dokter yang lainnya tak bisa mengelakkan gemetarnya tubuh mereka di guncang bencana besar ini.
"Berani kalian mengatakan yang serupa, aku tidak rugi menghilangkan nyawa kalian!" Marco sangat marah, ini semua dipengaruhi oleh obsesinya terhadap Alika, karena sosok Alika mirip dengan Xela. Ia pun telah menganggap Xela seperti Alika. Marco mengingini Xela tetapi keadaan Xela yang bisa di katakan sudah menjadi perempuan gila, tidak mungkin ia menggoda dan memilikinya secara utuh.
__ADS_1
"Alika, dulu aku sangat mencintaimu tapi kau malah membenciku. Sekarang aku menemukan seorang yang mirip denganmu dan aku pun tidak menyesalinya. Kau tergantikan."
Marco menampakkan senyum iblisnya menatap foto Almarhum Alika sembari tertawa namun sesekali menangis kemudian tertawa lagi.
Astaga Author pun capek melihat karakter Marco ini.
Ditengah tawanya yang menggila di ruang kamarnya, Marco tidak menyadari pintu terbuka dan segerombolan manusia berseragam berjumlah sembilan orang masuk, mereka sangat rapi bahkan sudah terlihat seperti ninja.
'Dor'
Senjata api melesat mengenai leher Marco dari belakang, anehnya Marco hanya menunjukkan ekspresi datar lalu dengan cepat berbalik.
"Soal!" umpatnya segera berduri tegak lalu mengeluarkan senjata miliknya, namun sebelum ia melepaskan pelatuk, cetakan sepatu besi yang tajam dengan kelajuan tinggi menyerang wajahnya, jadi ia terlebih dahulu jatuh ke lantai dengan wajah yang terluka dan berdarah. Seorang pria berseragam hitam itu telah mendaratkan kakinya di atas tubuh Marco sehingga ia tidak bisa berkutik.
"HM, lo lucu sekali Marco." pria berseragam itu meledek Marco lalu perlahan membuka penutup wajahnya, yang awalnya hanya menapakkan sepasang matanya, kini ia telah menampakkan seluruh wajahnya kepada Marco membuat pria yang terbaring terkunci di lantai itu tercengang bukan main.
"Alfarel Persetan!" umpat Marco tidak percaya bahwa orang yang ia ingin lenyapkan selama ini terlihat baik-baik saja bahkan dengan berani menyerangnya secara diam-diam menampilkan tampangnya yang tampan dengan senyum sinis penuh kemenangan.
"Sangat Lucu. Lo memanggil orang-orang di kastil milik gue? Tidak mungkin mereka datang, mereka hanya menerima perintah dari gue." ucap Alfarel dengan senyum kemenangan yang terbaik ia tampilkan di depan musuhnya.
"Hahaha lo rupanya kembali." ujar Marco dengan tawa renyahnya menutupi kelemahannya padahal sebenarnya ia merasa sangat marah dan frustasi.
"Benar, gue Alfarel. Tidak lucu Lo membawa gue ke kastil milik gue sendiri. Lalu membawa ribuan pasukan yang tidak berguna itu."
"Sial, Lo harusnya mati."
__ADS_1
"Mati? tidak lucu mati di kastil milik sendiri. Walaupun Lo bawa pasukan, gue punya pasukan khusus di setiap wilayah gue. Gak lucu gue mati konyol di wilayah sendiri, hahaha." Kini Alfarel tertawa penuh kemenangan di saat itu pula Marco bangkit dengan seluruh kekuatannya, ia berhasil membuat Alfarel mundur dan hampir terjatuh beruntung pengikut Alfarel yang lain siap siaga akan kemungkinan yang terjadi.
'DOR'
Marco menarik pelatuk, sayang sekali ia berulang kali melakukannya untuk melumpuhkan pasukan Alfarel namun ternyata Alfarel dan pasukannya mengenakan seragam yang anti senjata.
Pada akhirnya aksi saling mengejar terjadi, Marco dengan gerakan cepat berlari sementara Alfarel dan Pasukan mengejarnya. Tidak mudah mengejar Marco, pria itu terlalu lincah malah yang ada seisi kastil itu berantakan seperti puing-puing bangunan. Hancur sudah kastil yang dulunya sangat indah dan menarik.
Dari hasil saling mengejar, akhirnya Marco menemukan jalan buntu, ia masuk ke ruang senjata di lantai dasar, dimana hanya ada satu pintu.
"Liku-liku kastil ini gak lo hafalin, jadi sesat kan?" Ledek Alfarel lagi.
"Hahaha, Lo bisa-bisa aja ngurusin gue di saat seperti ini. Apa Lo nggak tau kesayangan Lo sudah gila dan tak terurus lagi. Ini semua karena gue udah nyentuh kesayangan Lo itu, gue tau Lo sama sekali belum menyentuhnya hahaha." Marco sengaja menciptakan suasana yang kacau dan kondusif hanya untuk membuat Alfarel emosi dengan begitu ia semakin mudah mengalahkan Alfarel, konon seorang yang emosi akalnya akan terkuras dan daya akal berpikir menjadi berkurang.
"Anj*Ng, beraninya Lo!" Alfarel sekali lagi menembakkan senjatanya pada Marco tetapi Marco terus menghindar dan berhasil lolos dari tembakan itu, gerakannya terlalu lincah.
Bahkan saking lincahnya, Alfarel tidak tahu Marco bertindak yang lain, di ruang senjata ternyata banyak bom. Nah Marco telah memasang bom itu dengan mudah karena ia telah menjadi ahli dalam hal seperti itu, dengan gerakan menghindar dari tembakan Alfarel tangannya bekerja menyalakan bom, menautkan kabel satu persatu tanpa diketahui oleh Alfarel.
Sampai detik-detik berikutnya Alfarel yang terus menembaknya dengan brutal tanpa memperhatikan situasi.
'DORRR'
'DUM ...'
Suara ledakan dahsyat menghancurkan kastil, telah terjadi sesuatu di sana. Entahlah apakah akan berakhir?
__ADS_1