POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Perjumpaan Alfarel dan Landry


__ADS_3

Alfarel kembali memutar meja dan memerhatikan kangkung yang di tumis, mata birunya begitu melotot melihat warna kangkung yang di tumis oleh Xela.


Kangkung tersebut sudah berubah warna, seperti sayuran yang layu.


"Apa-apaan ini. Kangkung warna daunnya sudah berubah, terlihat lunak. Ini bukan sayurannya yang layu Xela. Pasti kamu memasaknya tidak benar."


"Tadi biar daunnya cepet matang jadi wajannya aku tutup sementara aku haluskan bumbu ikan."


Jawab Xela polos, jauh didalam hatinya ia merasa sangat malu karena sudah dua komentar tidak suka dari Alfarel.


Alfarel memerhatikan kangkung tumis tersebut seraya mengaduknya dengan sendok makan Kemudian mencicipinya.


"Ini terlalu kebanyakan minyak."


Xela hanya mencebikkan bibirnya. Ia sudah merasakan jika masakannya enak, namun tidak bagi seorang Alfarel.


Alfarel memutar lagi meja yang berbentuk lingkaran itu dan memerhatikan ikan, ikannya tampak matang dan elok di pandang mata, namun ternyata bumbu mengapung di pinggir mangkuk karena tidak terlalu halus tertumbuk.


Rasanya nggak terlalu banyak minyak, kalau sedikit minyak pasti rasa makan rumput mentah. Apa kak Al ada riwayat kolesterol ya?


batin Xela.


"Ini gimana bumbunya sampai nggak halus."


Komentar Alfarel kali ini hanya didengarkan oleh Xela.


Alfarel menyendokkan sedikit daging ikan yang sudah matang dan juga tidak lupa menyendoki kuahnya, kemudian memasukkannya ke dalam mulut.


Ekspresi Alfarel selanjutnya berbeda lagi, keningnya mengerut sepertinya ia juga terpaksa menelan apa yang sudah ia makan.


"Ini apaan. Berapa banyak kamu kasi garam Xel. Asin banget."


Sunggut Alfarel lalu menuangkan air putih untuk diminum, rasanya tenggorokannya menjadi gatal oleh asinnya garam yang singgah disana.


"Itu maaf karena tadi bawangnya nggak halus-halus jadi aku kasi banyak garam. Mungkin karena itu."


"Nah itu tahu, apa kau mencoba mengerjaiku dengan masakanmu malam ini?"


Tukas Alfarel kepada Xela.


"Yah kok jadi aku yang disalahin, bukannya tadi kak Al yang nggak bolehin aku pakai bumbu bubuk, asal kak Al tahu betapa sulitnya menghaluskan bumbu. Kak Al yang mengerjai aku, bukan aku."


Elak Xela karena memang ia merasa begitu, bukanlah Alfarel yang mengatur semuanya.


"Aku membuat mu repot agar kamu bisa melakukan apa yang kamu tidak bisa."


Xela sejenak berpikir, mencerna ucapan Al, memang ada benarnya juga Xela harus bisa melakukan apa yang ia tidak bisa.


"Sudahlah, kalau ini punya sisa kau harus menghabiskannya."


"Apa? Sebanyak ini, mana bisa?"


"Kalau nggak mau, biarkan aku menuangkan kedalam mulutmu."


"Iya."


Xela masih mendesis, masa iya harus dirinya yang menghabiskan semuanya?

__ADS_1


Keadaan ruang makan menjadi sunyi dan hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan dasar piring yang ada.


Alfarel dan Xela sedang menuju ke kost menggunakan mobil.


Alfarel mengemudi sangat fokus, tidak ada percakapan di antara mereka.


Aduh. Kenyang banget sumpah, perut serasa mau meledak. Kekenyangan terlalu tidak enak.


Batin Xela.


"Beneran ini alamatnya, kok gak terang lampunya?"


Alfarel bertanya saat mereka sudah sampai di gang cempaka. Memang gang itu lampunya agak redup, dan Alfarel juga baru pertama kali ini.


"Namanya juga gang memang begini ada yang terang lampunya, ada yang redup daripada nggak ada lampu?"


"Kalau nggak ada lampu gimana? "


Xela menoleh ke arah Alfarel, laki-laki itu tersenyum getir, sepertinya ada sesuatu yang dipikirkannya.


Apaan orang ini tanya begitu.


"Nggak tau, kalau nggak ada lampu ya gelap lah."


"Kalau nggak ada lampu bagiku mungkin asik kalau tinggalin kamu disini."


"Apa? Anda pikir saya takut. Nggak apa-apa, silakan!"


Ketus Xela.


"Apa masalahnya, ini aja mau dijawab."


"Kali ini aja. Pokoknya kalau kamu sudah memanggilku kakak, jangan panggil yang lain lagi."


"Iya Kak Al."


"Nah, pinter tuh."


Alfarel tersenyum senang, entah apa yang membuatnya bahagia bersama Xela seperti ada hiburan saja.


Yang dirasakan Xela saat ini, gadis itu terkadang merasa kesal dengan sikap Alfarel, ia seperti di ejek olehnya.


Sesampainya di depan kost Xela, mereka berdua dikejutkan dengan sosok Landry yang duduk di kursi teras depan, sepertinya Landry menunggu Xela.


Reaksi Alfarel saat melihat sosok Landry tidak bisa dijelaskan, bahkan Xela saja takut, bagaimana jadinya jika Alfarel salah paham. Lagipula apa yang membuat Landry datang ke kost Xela malam-malam begini? Meskipun ini masih jam 08.30 belum melewati batas waktu jam 21.00


Alfarel membuka pintu dengan kasar diikuti Xela yang sudah merasa akan terjadi hal yang tidak diinginkannya.


Xela tidak mau kalau Alfarel salah paham, meskipun mereka hanya sebatas bos dan asisten.


Saat Alfarel keluar dari dalam mobil pandangan Landry sudah tertuju kesana, Landry terkejut, ia segera bangkit dari duduknya dan juga berjalan menuju ke arah Alfarel dengan raut wajah penuh amarah.


Langkah kaki Alfarel dan Landry yang saling melangkah maju sama-sama menghampiri seperti dua manusia hendak berperang membuat Xela panik. Xela juga maju menghampiri mereka.


Alfarel dan Landry menghentikan langkahnya dengan jarak kira-kira satu meter, mata mereka saling beradu dengan kilatan amarah.


Xela baru menyadari oleh bantuan lampu terang membuatnya bisa melihat dengan jelas wajah Alfarel dan Landry yang beradu, ternyata mereka sama-sama memiliki netra biru.

__ADS_1


"Ngapain Lo disini. Xela ini siapa?"


Landry menyudahi adu wajah dengan Alfarel dengan kalimat yang diucapkannya kepada Al dan Xela.


"Dia ..."


Ketika hendak menjelaskan, ucapan Xela di potong Alfarel.


"Oh, jadi kalian sudah saling kenal? Dan Lo Landry, kenapa lo disini?"


Ucap Alfarel, Xela terkejut sekaligus bingung. Kenapa dua laki-laki ini sepertinya saling kenal bahkan disamping memiliki netra biru yang sama, tinggi badan mereka hampir sama hanya saja selisihnya kira-kira 4 cm saja Alfarel lebih tinggi.


"Kak Al dia teman sekelas aku."


Alfarel masih menatap wajah Landry. Jaket hitam yang mereka pakai juga sama, mereka berdua baru sadar, mungkin karena sebelumnya mereka sibuk beradu mata.


"Oh kamu kenal dia Xela?"


"Iya Lan, kalian juga saling kenal kan? Aku baru tahu." Kata Xela sedikit canggung.


"Dia dibawah perlindungan gue. Lo jangan ganggu dia, sebaiknya anak SMA kaya' lo pulang sana, besok belajar. Paham lo?"


Bisik Al kepada Landry sambil menyeringai.


"Emang lo siapa?"


"Gue bos nya, kenapa?"


"Cuma bos, sepertinya tidak ada hubungan apa-apa."


Xela yang berdiri agak jauh jaraknya dari mereka menjadi penasaran dengan percakapan mereka.


"Apa sih yang kalian omongin, lebih baik jangan disini kalau memang penting, lagian udah saling kenal kan? Pulang aja,omongin di rumah. Ini udah malam."


Xela memberi saran kepada mereka saking kesalnya dibuat penasaran.


"Lebih baik lo pergi Lan!"


"Lo yang harusnya pergi. Bukannya tugas kampus lo itu lebih banyak, gue masih SMA ya fine aja."


Apa-apaan ini disaranin malah debat disini, apa yang salah sih? Bisa buat masalah nih kalau gini. Suaranya sama-sama besar, mentang-mentang badan juga besar.


Xela kuatir kalau penghuni kost lainnya terganggu apabila Landry dan Alfarel dibiarkan tetap berdiri disana, siapa tahu saja nanti malah berkelahi.


bersambung ....


Episode 23 telah datang, jangan lupa beri like dan dukungan lainnya.


Terimakasih para readers.


Oh iya, maaf ya lama up, mungkin besok juga agak sore dan hari jumat agak sore juga.


Sementara Sabtu dan Minggu Author ada acara nih, jadi jangan rindu ya kalau nggak up. Apalagi Minggu depan, PAT sudah menunggu, jadi Author nggak bisa janji selalu up everyday.


Tapi yang pasti author usahakan 🙏


Salam hangat.

__ADS_1


__ADS_2