POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
POSESIF?!


__ADS_3

Alfarel menampakan wajah kesalnya datang menghampiri Dafi yang sedang membersihkan dapur.


"Eh bang Al kenapa menjelang siang kok muka muram gitu, gantengnya sembunyi loh."


Tegur Dafi yang menyadari kehadiran Alfarel didapur, itupun karena Alfarel membuka kulkas untuk mengambil minuman dingin.


"Dafi. Disini ada Xela, cewek yang kemarin. Sekarang lagi bersihin ruangan kamar yang pernah Alika tempati. Jaga dia, aku mau pergi."


Ucap Alfarel, ia menghindari pertanyaan Dafi sebelumnya.


"Hah? Serius ada cewek disini?"


Dafi menanyakan lagi karena tidak percaya kenapa ada Xela di rumah itu.


"Dha, Aku pergi. Jaga dia jangan sampai pulang duluan."


Alfarel mengabaikan perkataan Dafi, ia berlalu pergi meninggalkan rumah entah kemana.


Mau tidak mau Dafi menepis rasa penasarannya tentang Xela.


Di sebuah rumah mewah, terlihat Alfarel dan Ario sedang menyantap makan siang. Alfarel dengan lahapnya memasukkan makanan ke dalam mulutnya sehingga Ario menggelengkan kepalanya memperhatikan Alfarel kali ini tampak aneh.


"Al. Sarapan nggak sih dirumah tadi pagi?"


Tanya Ario penasaran lantaran Alfarel seperti orang yang sangat kelaparan.


"Nggak. Gimana mau sarapan kalau pagi-pagi buta udah didatangi tamu." Jawabnya sambil mengunyah.


"Lo juga nggak makan siang dong berarti?"


Mendengar pertanyaan Ario, Alfarel teringat akan seseorang yang ia tinggalkan di dalam ruangan. Tiba-tiba benaknya bertanya apakah Xela sudah makan atau malah mengurung diri di dalam ruang kamar yang telah ia bersihkan.


Alfarel tidak mengindahkan pertanyaan Ario. Ia malah mengambil smartphonenya dan mengirim pesan kepada Dafi.


Dafi gimana perempuan itu. Apakah kau sudah memberinya makan?


Jangan sampai dia tidak makan, kalau dia pingsan awas aja!


Itulah isi pesan singkatnya Alfarel yang dikirimkan kepada Dafi, ia ingin memastikan jika Xela baik-baik saja.


"Al, kenapa sih man tadi gue tanya gak dijawab."


Tegur Ario dengan melambaikan tangannya ke wajah Alfarel agar Alfarel tersadar bahwa ia tidak dihiraukan.


"Hah? Emang tadi lo bilang apa?"


Tanya Alfarel seperti orang kebingungan langsung menatap Ario.


"Aduh ..."

__ADS_1


Ario menepuk jidatnya, ternyata dari tadi ia menegur rupanya Alfarel tidak sadar sama sekali.


"Kenapa Io, maaf tadi gue kurang fokus." Alfarel meminta maaf dan kembali meletakkan smartphonenya di atas meja.


"Man, lo ada masalah. Lo terlihat begitu Al."


Tebak Ario, sedari tadi Ario memerhatikan Alfarel seperti kebingungan dan duduk tidak bisa diam, ia terus mengubah posisi duduknya.


"Ya memang gue ada masalah."


Alfarel mengakuinya. Baginya tidak mungkin menyembunyikan keluhan hati, selagi Ario adalah sahabatnya sekaligus anak buah setia, oleh sebab itu mudah sekali seorang Alfarel untuk berbagi cerita kepada Ario.


"Ada apa ada apa. Jadi penasaran nih, gue boleh kan kasi solusi kalau misalnya ini masalah serius?"


Tanya Ario dengan semangat.


"Orang curhat memang karna butuh solusi Io, lo gimana sih?" Kesal Alfarel.


"Ya udah kalau gitu gas, cerita dong kalau terlalu lama kasian gue liatin Lo. Lama-lama makin tumbuh uban."


Canda Ario di susul dengan tawaan.


"Lo mau dengar setelah itu ngejek, gitu?"


Alfarel marah oleh cendaan Ario, bisa-bisanya Ario mencandainya di saat ia sedang marah.


"Ups, sorry man. Ya udah cerita dong."


Udah kok. Dia suka banget masakan Dafi yang super super enak ini, btw bang Al dimana?


Pesan singkat tersebut dikirim beserta foto Xela yang sedang melahap makanan. Alfarel tersenyum simpul melihatnya .


"Jangan bilang kalau masalah lo menyangkut cewek ini?"


Ucap Ario menebak setelah berhasil memerhatikan pesan singkat antara Alfarel dan Dafi.


Alfarel menutup layar smartphonenya lalu duduk rapi berhadapan dengan Ario.


"Gue makin lama rasanya aneh Io, masa ia setelah kehadiran perempuan ini perasaan gue berubah. Awalnya gue sedih karena mengenang Alika, tetapi sejak ada dia gue jadi bisa terus tersenyum mengingatnya namun tidak lagi merasa sedih memikirkan Alika."


"Oh gitu. Al, memang seharusnya sekarang Lo lupain Alika. Kan lo harus ikhlasin Alika."


"Gue udah ikhlasin Alika pergi. Tapi banyak sekali kuatir dihati gue Io."


"Maksud lo gimana, bisa paparkan dikit?"


Ario meminta Alfarel memaparkan masalah yang dihadapinya.


"Gue baru kali ini rasanya senang dengan kehadiran cewek yaitu Xela, entah kenapa gue nggak rela aja kalau dia kenapa-napa, disakiti orang dan hal buruk lainnya. Bahkan rasanya gue pengen kurung dia selamanya di rumah gue."

__ADS_1


Ario tersenyum lebar mendengar penjelasan sahabatnya sekaligus bosnya itu.


"Al, Al. Apa lo suka sama dia Al?"


Pertanyaan Ario berhasil membuat Alfarel berpikir sejenak, ia ingin merasakan apakah ada rasa suka terhadap Xela atau tidak.


"Nggak Al. Gue nggak suka sama dia. Gue cuma nggak suka dia di ganggu orang lain."


Tuturnya membuat Ario tertawa lepas.


"HAHAHAHA ..."


Tawa Ario menggema di ruang makan setelah mendengar ucapan Alfarel.


Alfarel yang merasa jengkel langsung saja menjenguk satu buah pisang lalu memasukkannya kedalam mulut Ario yang sedang menertawainya.


Ario yang merasakan mulutnya tersumpal langsung tersadar dan menyingkirkan pisang yang dimasukkan oleh Alfarel di mulutnya.


Ario baru sadar, Alfarel sangat mudah marah jika keseriusannya diladeni dengan main-main.


"Maafin gue Al, gue gak akan ulangi lagi. Lo itu ternyata posesif, lo merasa sangat memiliki Xela seutuhnya pedahal Xela bukan siapa-siapa didalam hidup Lo."


Tutur Ario, kali ini mata Alfarel melotot dengan sempurna. Kata posesif membuatnya heran. Bukankah posesif itu istilah hanya untuk orang yang sedang berpacaran sedangkan ia tidak ada hubungan apa-apa dengan Xela.


"Lo gila Ario, bukan istilah yang cocok ini. Posesif itu hanya untuk orang yang pacaran, lah gue nggak ada apa-apa pun!"


Ucap Alfarel dengan tersenyum getir.


"Al, kurang percaya lo. Posesif itu untuk orang yang memiliki rasa kepemilikan yang tinggi tanpa pandang status." Jelas Ario.


Alfarel hanya mendengar tanpa bereaksi apa-apa, mungkin saat ini ia larut dalam pikirannya dan berusaha untuk menyelidiki kata-kata Ario.


***


Dafi sudah membawa Xela ke ruang makan mengajak Xela untuk makan siang. Xela hanya menuruti saja layaknya seorang asisten yang setia.


Tiba-tiba Dafi menerima pesan dari Alfarel.


Dafi gimana perempuan itu. Apakah kau sudah memberinya makan?


Jangan sampai dia tidak makan, kalau dia pingsan awas aja!


Dafi tersenyum melihat pesan singkat dari Alfarel.


Betapa kuatirnya bang Al dengan perempuan ini. Bang Al pasti suka Xela.


Batin Dafi lalu membalas pesan.


Udah kok. Dia suka banget masakan Dafi yang super super enak ini, btw bang Al dimana?

__ADS_1


Kemudian Dafi mengambil foto Xela secara diam-diam disaat Xela sedang menyantap makanan tanpa diketahui oleh Xela.


Bersambung ...


__ADS_2