POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Teror Musuh


__ADS_3

Lo tidak tahu keberadaan gue tapi gue melihat gerak-gerik Lo dari jauh. Nikmati perjalanan Lo dan pacar baru Lo. Pacar Lo manis meskipun masih kalah cantik dari Alika. Oh iya gue bakal kasi kejutan demi kejutan, semoga selamat ya! Kalau tidak selamat cewek Lo gue ambil.


Alfarel merobek kertas tersebut lalu membuangnya ke luar.


"Marco ... Gue pastikan Lo yang akan kalah.” batin Al mulai melajukan mobilnya sangat kencang.


‘TAK’


“Kak Al aku takut!” mendengar suara sesuatu yang menimpa atas mobil Xela sangat ketakutan.


“Tenanglah Xela, kita aman.”


“Lalu kertas tadi?”


“Tidak ada apa-apa dengan kertas itu.” Jawaban Al seperti itu mana mungkin mengusir rasa penasaran dari benak Xela.


“Apa pun yang terjadi jangan pernah mengubah posisimu!” Alfarel mengingatkan.


‘TAK’


“Sial.” Alfarel mengumpat kecil.


Lagi-lagi suara itu menghantam kaca mobil, dan ternyata kepala manusia dan parahnya kepala manusia yang di penuhi darah menyangkut di windscreen wiper, Alfarel segera menyingkirkan dan menggerakkan windscreen wiper sehingga kepala manusia itu jatuh meninggalkan noda darah di kaca mobil. Alfarel segera menyambungkan smartphone dengan earphone memanggil seseorang.


“Halo, perhatikan lokasi saya dan Ario. Awasi dari atas dan cegah sesuatu yang berbahaya, segera!” Al mematikan teleponnya lalu beralih pada nomor lain.


“Halo Yo, Lo hati-hati di jalan. Gue udah hubungi tim keamanan gue.”


(“Ada apa sebenarnya Al?”)


“Teror si brengsek itu.”


"Apa. Teror?” Xela membatin dalam ketakutan, perjalanan yang mereka jalani sangat tegang.

__ADS_1


“Teror? Setelah kejadian dua brengsek itu ... apa teror ini berkaitan dengan kejadian yang aku alami?” Batin Xela mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Sungguh ia menyesal menyalahkan Alfarel, mungkin saja ini semua adalah teror untuk mereka berdua agar salah paham.


“Kak Al.” Xela yang sedari tadi ketakutan sekarang menangis, menangis ketakutan dan menangis untuk penyesalan.


“Xela, kita akan selesaikan masalah setelah sampai. Jangan mengganggu konsentrasi saya!” Alfarel mengingatkan karena ia berusaha fokus dengan telinganya yang kembali berdengung, tandanya sesuai akan mendekat.


‘TAK'


Tertancap lagi anak panah yang menembus kaca mobil, kali ini anak panah yang terbuat dari besi tajam menancap di bahu Alfarel, ini karena anah panah dan juga mobil yang di kendarai oleh Alfarel sama-sama cepat kelajuannya, Al segera menghentikan mobilnya.


“Auh.” Alfarel meringis, anak panah yang menancap di bahunya membuatnya merasa nyeri teramat sangat.


“Kak Al.” Xela terkejut lalu segera bangkit.


“Jangan sesekali bergerak Xela!” Alfarel memperingatkan.


“Panah itu hiks ...” Xela hendak menyentuhnya tetapi Al mencegah pergerakan tangannya.


“Tidak apa, kembalilah seperti tadi.” Maksudnya menyuruh Xela untuk kembali ke posisi aman sebelumnya.


“Cepatlah, kita akan melanjutkan perjalanan lagi!” Xela akhirnya menuruti Alfarel, air matanya tidak berhenti mengalir, gadis mana yang tidak sedih melihat keadaan kekasihnya seperti Al sudah terluka tapi tetap berusaha mengemudi berusaha melindunginya.


Alfarel mendengar suara jet tim keamanannya sudah berada di atas sejalur dengan mobilnya yang melaju sepanjang perjalanan, bukan hanya satu jet tetapi ada beberapa.


Smartphone Alfarel menyala dalam keadaan masih terpasang earphone, segera Alfarel menekan tombol hijau untuk menyambungkan telepon.


(“Halo tuan, beberapa jet yang dibawa tim yang lain singgah di tempat yang di curiga.”)


Salah satu tim Alfarel mengabarkan, lelaki itu bernafas lega.


“Pastikan keamanan yang benar, jangan sampai keliru.”


(“Sudah aman tuan, kami sudah memakai perangkat untuk mendeteksi isi hutan ini, beberapa tempat yang mencurigakan sudah di telusuri.”)

__ADS_1


“Saya belum yakin, bisa saja perangkat yang kalian gunakan keliru, pastikan untuk menangkap pelakunya!”


(“Baik Tuan.”)


Sambungan telepon pun di putuskan, Alfarel semakin melemah lalu menghentikan mobilnya.


Xela tidak bisa baring dengan tenang lagi, ia segera bangkit dan Alfarel juga menggenggam tangannya dalam kondisi yang melemah.


“Apa yang terjadi jangan pernah pergi. Dan kamu harus memegang tangan saya, jangan pernah melepaskannya.”


Alfarel kesakitan membuat Xela semakin panik, perjalanan yang berbahaya ini membuatnya terpukul.


“Kak Al bertahanlah hiks.” Xela sudah menangis dan jet yang mengikuti mereka juga berhenti di atas mobil, seorang pria paruh baya turun lalu membuka pintu mobil.


“Kak Al ...” Xela menangis lagi atas situasi ini, Alfarel sudah tidak mendengar suaranya lagi, ia terlalu sakit menahan perihnya tusukan anak panah yang tajam.


“Nona sebaiknya di belakang bersama tuan.” Kata lelaki itu tetapi Xela tidak mau, tidak mau melepas tangan Alfarel.


“Tidak.” Xela menatap lelaki itu dengan tajam, ia tidak mau lelaki itu memisahkan dirinya dan Alfarel.


“Nona, cepatlah kita akan menolong tuan. Tolong kerja samanya, saya tim keamanan tuan Al bukan orang jahat.” Ucap lelaki itu mengetahui Xela takut mempercayainya dan berkat penjelasan lelaki itu Xela menuruti.


“Kak Al apakah ini salahku? Semuanya karena teror yang membuat aku salah paham kan? Aku terlalu bodoh mudah sekali salah paham. Aku menyesal kak.” Batin Xela yang terus saja menangis menyesali amarahnya kepada Alfarel sebelumnya sambil memangku Alfarel, menatap wajah tampan yang pucat itu. Hancur, hati Xela benar-benar hancur, tangannya menggenggam jemari Alfarel yang sudah lunglai.


Tidak lama setelah mobil yang di kendarai salah satu tim keamanan Al berhenti di sebuah halaman luas, disana juga sebuah jet sudah menunggu. Lelaki itu bergerak cepat segera memapah Alfarel dan membawa Xela menuju jet.


“Kau akan membawa kami ke mana?” Tanya Xela masih dengan wajah panik.


“Kita akan segera membawa tuan Al, tuan Al dalam keadaan darurat. Tolong nona kerja samanya.” Lelaki itu tidak bisa fokus jika di tanya terus oleh Xela. Mau tidak mau, Xela yang sebenarnya sangat takut tetap mengikuti mereka, lagi pula di dalam jet Xela selalu di tempatkan dekat dengan Alfarel.


.....


Jet menuju ke tempat yang tidak dikenal melalui hutan-hutan lebat. Xela melihat ke bawah, tidak ada lagi pemandangan kota.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu yang lama di perjalanan, jet masuk ke sebuah bangunan besar seperti kastil. Bangunan yang megah setelah jet itu mendarat sempurna di dalam, banyak orang-orang yang datang mengambil alih Alfarel dari pangkuan Xela.


“Kak Al, mau dibawa ke mana?’ tidak seorang pun menggubris ucapan Xela sampai Xela harus cepat melangkah mengikuti dari belakang, Alfarel dibawa ke sebuah ruangan dimana orang-orang disana merupakan dokter yang sibuk menyiapkan peralatan medis. Di depan matanya, Xela melihat para dokter mencabut panah dari bahu Alfarel, memasang infus, dan darah yang keluar menembus baju yang Al pakai, sungguh pemandangan yang menakutkan bagi Xela akibatnya saking panik pandangan Xela semakin kabur kemudian ia terjatuh di lantai tidak sadarkan diri.


__ADS_2