
Alfarel tersenyum getir memandang kepergian ibu Yuli. Ia mulai mengerti tabiat ibu Yuli.
Alfarel juga tidak mudah percaya sebelum ia menyaksikan sendiri. Faktanya saat ia memasang cctv dan meninggalkan rumahnya beserta Xela yang berada didalamnya ia tidak menemukan kesalahan Xela disana.
"Bang Al, apa Lo semudah itu dekat dengan Xela. Gue pikir sampai sekarang Lo sama, lo menjadi laki-laki yang tidak mau mendekati perempuan setelah Alika tiada. Ternyata gue salah lo sangat mudah move on dari kesedihan. "
Landry mengucapkan kalimat tersebut karena ia tahu betul, bagaimana kondisi psikologis Alfarel setelah ditinggalkan Alika.
"Cukup lo ngomongin Alika. Gue udah ikhlas, tidak masalah bagi gue. Ini karena lo yang tidak benar-benar menjaga Alika, lo berteman dengan orang yang salah dan membuat Alika kehilangan segalanya."
Alfarel mulai emosi sambik menarik jaket Landry lalu tangannya yang sudah terkepal keras ingin sekali menonjok Landry.
"Pukul ayo pukul, sepuas lo. Asal lo tau juga, saat itu Alika lagi sedih dan merajuk karna lo nggak jadi pulang dari luar negeri. Lo ingat itu, itu semua gara-gara Lo. Lo yang membuat Alika nggak pulang dan gue udah cari kemana-mana tapi nggak ada.
Gue juga nggak tau kalau Marco menghianati gue dan menculik Alika."
Ucap Landry yang tidak kalah keras suaranya, Landry mulai membalas menarik jaket Alfarel.
Akhirnya terjadilah baku hantam diantara mereka berdua. Gerakan saling memukul dan gerakan elakan demi elakam terjadi.
Memang sepertinya tidak mudah bagi keduanya kalah ataupun mengalah.
Xela sudah selesai mengemasi barang-barangnya. Namun setelah membuka pintu kos, matanya menyaksikan perlawanan antara Alfarel dan Landry. Apa yang ditakutinya sekarang benar-benar terjadi. Ia telah melihat kedua laki-laki itu berantem di gelapnya malam yang disinari lampu.
"Kalian, berhentilah! Kenapa kalian berantem."
Dengan cepat ia berlari kearah mereka hendak melerai.
Sepertinya Alfarel dan Landry lebih cepat menyadari kelakuan mereka sendiri dan menghentikan pergerakan mereka.
"Apa yang kalian lakukan. Ini sudah malam."
"Ibu Yuli kemana?"
Tanya Xela, ia tidak melihat sosok ibu Yuli, kepalanya terus bergerak menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Udah jangan dipikirkan, ibu Yuli udah pulang. Sekarang masuk mobil!"
"Xel. Ini tas mu."
Landry menyodorkan tas milik Xela.
Tapi siapa sangka sebelum tangan Xela berhasil mencapai tas nya, Alfarel terlebih dahulu mengambil alih.
__ADS_1
"Oke makasih, sekarang silakan Lo pergi. Kita juga akan pergi!"
Titah Alfarel kepada Landry.
Xela menarik tangannya kembali dengan kosong, ia tidak berhasil menyambut tasnya dari Landry karena Alfarel.
"Lo apaan sih bang."
"Sudah, gue udah bilang lo pulang sekarang!" Tegas Alfarel sehingga Landry sepertinya akan mengalah. Alfarel melototkan matanya yang tajam kepada Landry.
"Xela aku pulang kamu baik-baik ya."
Akhirnya Landry duluan pamit mendahului mereka.
"Maaf ya Lan. Makasih udah bantuin, maaf banget karena udah ngerepotin."
Jarak Xela dan Landry agak dekat di mata Alfarel sehingga Alfarel menarik Xela agar berada di pihaknya.
"Lo jangan prnah ganggu Xela, pulang sekarang!"
Tegas Al.
Landry menuruti ucapan Alfarel lalu pergi dengan motor kerennya.
"Ayo pulang. Mulai sekarang jangan pernah dekat dengan Landry atau aku akan memberhentikan kamu dari pekerjaanmu dan membiarkan kamu dijalanan."
Ancam Alfarel kepadanya.
Xela hanya menuruti kata bos atau majikannya, ia pun tidak tahu apa yang akan terjadi kepadanya kedepannya.
"Sejak kapan kau kenal dengan Landry. Jawab yang jujur dan lengkap. Aku tidak mau jawaban nyicil."
Tanya Alfarel setelah mereka menempuh perjalanan kembali ke rumah Alfarel.
Apaan sih manusia satu ini ada-ada aja deh. Ngapain pula tandanya gitu kaya' soal matematika aja.
Batin Xela kesal, menurutnya pertanyaan Alfarel seperti soal matematika karena sial matematika selalu meminta jawaban yang benar dan tepat beserta jalan cara pengerjaan soal.
"Sejak kelas 1 SMA semester dua."
"Apa kamu pernah akrab dengannya?"
"Pernah."
__ADS_1
Mendengar jawaban Xela, Alfarel menggertakkan giginya, entah mengapa perasaannya tidak ingin Xela dekat dengan Landry.
"Apa saja yang pernah kalian lakukan selama berteman karib?"
Xela menoleh, pertanyaan macam apa ini? Kenapa Alfarel selalu ingin tahu saja tentang dirinya.
Laki-laki aneh. Kenapa sih tiba-tiba nanyain gitu, aneh banget tingkat curiganya tinggi banget padahal cuma jadi bos gue aja.
"Kami pernah jalan-jalan, mengerjakan tugas kelompok. Gitu aja. Aku mau bersandar, capek banget."
"Hoam ..."
Xela sengaja ingin duluan tidur karena la tahu pasti kalau Alfarel bertanya harus dari akar sampai daun .
"Kamu tidak sopan ya, berani-beraninya duluan tidur. Pokoknya nggak boleh, atau setelah sampai aku akan meninggalkan mu didalami mobil, tidak ada bos memborong asisten."
Ucap Alfarel dengan nada sombongnya.
Xela yang mendengar ucapan Alfarel hanya bisa diam, ia tidak mau lagi berbicara. Mungkin biarlah saja Alfarel bertanya banyak, ia cukup menjawab saja.
\*\*\*
Setelah lama di perjalanan, mereka pun sampai di perumahan mewah milik Alfarel. Kali ini ia terpaksa harus kembali ke rumah tersebut karena sudah keluar dari kost nya, sebenarnya bisa saja Xela bertahan tinggal di kost, tetapi tahu sendiri bagaimana gelagat ibu Yuli.
Ibu Yuli pasti menjadikannya sebagai bahannya gosipan saat berkumpul arisan. Xela tahu karena ia sendiri pernah menyaksikannya tampak sengaja, saat itu ia hendak mencicil uang kost, namun ternyata dengan telinga dan matanya ia melihat sekumpulan ibu-ibu disana dan telinganya mendengar namanya disebut dan diperbincangkan.
Saat itu Xela hanya berpura-pura bodoh saja, ia bertindak seolah tidak mendengar omongan mereka. Namun begitu kembali ke kamar kost, betapa sakit hatinya tidak tertahan dan betapa jenuhnya air mata yang sedari tadi dibendung, ia pun menangis menghadap ke dinding, hatinya menjerit kesakitan.
Xela berdiri di depan pintu kamar yang didalamnya di penuhi warna putih cerah dan ranjang yang juga berwarna putih. Kamar itu adalah kamar dirumah Alfarel yang ia masuki pertama kali.
Xela sebenarnya merasa tidak enak karena harus menginap di rumah majikannya.
Ia merasa lelah dengan pertanyaan dari Alfarel sepanjang perjalanan, tetapi syukurlah saat mereka sampai dirumah, Xela diminta untuk istirahat dan Alfarel tadi sepertinya juga sangat kelelahan.
"Mungkin ini hanya sementara, secepatnya aku akan pergi dan harus mencari tempat baru. Tidak mungkin aku selamanya tinggal bersama kak Al."
Alfarel merebahkan tubuhnya dikasur empuk kesayangannya setelah menggantikan pakaiannya dengan piyama.
"Kenapa aku bisa bertemu dengan Landry, jadi selama ini mereka satu sekolahan. Aku tidak akan membiarkan mereka dekat ataupun berteman. Ini tidak boleh."
Itulah ucapan singkat Alfarel sebelum ia memejamkan mata lelahnya dan beralih ke alam mimpi.
__ADS_1
bersambung ....