POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Seakan Hilang Ingatan


__ADS_3

Xela tidak boleh terlelap, ia menjaga matanya agar tidak terpejam sedikitpun. Kondisinya saat ini ia sedang berbaring dengan Alfarel, hanya perlu menunggu lelaki itu terlelap kemudian ia akan menunggu di luar saja.


Alfarel tiba-tiba saja bangun, ia bangkit meninggalkan tempat tidur, Xela pun menyusul. Alfarel keluar dari kamarnya menuju ke arah dapur, Xela mengikutinya dari belakang.


"Kak Al, kenapa gak bilang aja kalau butuh sesuatu?" Xela memegang lengan lelaki itu, lelaki itu tetap diam dan terus melangkah.


Xela di diamkan, ia hanya bisa melihat pergerakan Alfarel membuka beberapa laci di dapur secara bergantian, ia tidak tahu apa yang lelaki itu cari.


"Aneh, apakah saat ia sakit memang seperti ini?"


Xela mengamati Alfarel menemukan kotak obat lalu mengambil obat disana dan meminum nya. Apakah dia meminum obat sembarangan, Xela kuatir hendak mencegahnya,terapi lelaki itu mengabaikannya.


"Kak sebaiknya jangan minum obat sembarangan." Xela mengingkatkan. Al setelah meneguk segelas air berbalik ke arah Xela menatap Xela sekilas lalu pergi begitu saja, wajahya terlihat sangat pucat. Xela berusaha menuntunnya tetapi Alfarel menepis tangannya, maunya berjalan sendirian tanpa Xela.


"Apa yang terjadi, udah syukur mau di bantu malah nolak." Batin Xela kesal, ia hanya memandang lelaki yang berjalan terhuyung sedikit kuatir dengan keadaannya.


Sesampainya di depan pintu langkah Al terhenti, otomatis Xela juga berhenti.


"Pergilah, kenapa disini?" Yang benar saja, Alfarel mengusirnya?


"Kak Al, aku gak bisa pergi sebelum Kak Dafi datang."


"Terserah! tapi jangan dekat-dekat."


Xela patah hati, Al menjadi berubah, ini benar gara-gara ia sendiri. Ucapannya seperti ucapan orang asing, mereka kembali ke keadaan dimana keduanya tidak saling kenal.


"Oke."


"Satu lagi! jangan masuk ke kamarku." Alfarel kemudian masuk lalu menbanting pintu sangat keras bagaimana Xela menghindari terkejut kalau begini?


"Kak Dafi lama amat perginya, kemana aja dia?" Xela melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul delapan malam, ia mengantuk pada akhirnya berbaring di atas sofa dan tertidur disana.


...****************...


Pagi harinya Xela terbangun langsung terkejut mendapati Al sudah berdiri di depannya lalu melemparkan smartphone ke arahnya, beruntung ia sudah siap siap untuk menyambutnya, jika tidak smarphone tersebut akan jatuh ke lantai.

__ADS_1


Xela melirik smartphone yang ternyata miliknya, smartphone yang tenggelam di dasar danau beberapa hari yang lalu, ia mengingat kejadian itu lagi. Ciuman!


"Barangmu yang kau lupakan." ucap Al cuek, lelaki itu sudah terlihat sehat hari ini, apakah karena obat yang ia minum kemarin?


"Kak Al, aku mau minta maaf atas kejadian kemarin." Xela mengungkapkannya.


"Kejadian kemarin? yang mana?" Alfarel malah bertanya, seperti ia sudah melupakan apa yang terjadi kemarin layaknya seperti orang yang amnesia.


"Kak Al pingsan di bawah hujan itu karena aku?" Xela memastikan.


"Sejak kapan? mungkin kamu mimpi."


"Apa? aku mimpi. Kenapa kak Al tiba-tiba berubah seperti ini, seperti amnesia? perasaan kemarin aku sudah memastikannya tidak tersambar petir, apakah hujan membuatnya amnesia?" batin Xela tidak percaya dengan kenyataan di depannya.


"Kak Al aku serius, aku minta maaf atas kejadian kemarin. Andai aku mengakuinya kalau aku percaya padamu." Xela berusaha membuat Alfarel mengingat lalu memaafkannya.


"Saya tidak mengerti. Apa maksudnya kejadian kemarin, Pingsan dibawah hujan? kau terlalu lama tidur di sofa nyaman itu sampai bermimpi begitu lama." Alfarel tersenyum getir, ini menyakitkan!


Terluka, sangat terluka. Apakah tidak ada kesempatan lagi bagi Xela hanya sekedar meminta maaf?


CEKLEK


"Maaf mengganggu bang, kalau gitu permisi." Dafi membalikkan badannya hendak melangkah, tetapi sebelum itu terjadi Al segera memanggilnya.


"Daf, sini!"


Lantas Dafi langsung mengampirinya.


"Bawa dia pulang, aku tidak mau ada perempuan di rumahku. Ingat, jangan lupa cepat kembali. Masih ada hal penting yang mau ku bicarakan." Dafi bingung merasakan Al berubah.


"Bang Al bukannya ..."


"Cepat antar dia pulang ke rumahnya. Aku tidak mau melihatnya berlama-lama disini!" Ucapnya tegas,siapa yang bisa membantah.


"Kak Al bahkan tidak mengingatku. Apakah aku terlalu menyakiti Kak Al?" Xela sedih.

__ADS_1


"Terlalu menyakiti?ku rasa belum ada perempuan mana pun yang menyakitiku secara fatal. Jadi jangan terlalu percaya diri, bahkan aku sangat asing melihatmu sekarang." tutur Al dengan senyuman getirnya, Dafi juga terkejut sekaligus heran.


"Bang Al." Ucapnya sembari memberi isyarat dengan memainkan alisnya.


"Kenapa dengan alismu? cepat bawa dia pergi!" Lelaki itu mendadak bersikap seolah tidak pernah kenal.


"Kak Al." Lirih Xela.


"Jangan memasang muka memelas, saya tidak kasihan. Saya lebih kasihan pada diri saya sendiri daripada orang lain." penuturan yang sangat tegas dari lelaki yang seakan mendadak amnesia menambah luka di hati Xela.


"Kenapa dia seakan hilang ingatan. Apakah kemarin saat aku memeluknya adalah waktu terakhir dia mengingatku. Kenapa jadi seperti ini, aku yang sebelumya berharap dia sembuh kemudian berbicara baik-baik, nyatanya menjadi seperti ini."


Xela cepat melangkah meninggalkan rumah itu diikuti oleh Dafi.


"Biar saya antar." Dafi menarik tangannya lalu membawanya ke mobil.


"Apakah dia amnesia Kak Dafi?" tanya Xela bersandar di bangku belakang sembari pandangannya di lempar ke luar jendela.


"Tidak tahu, mungkin mood nya sedang buruk." jawab Dafi.


Xela tidak bertanya lagi atau merespon ucapan Dafi.


...****************...


Sesampainya di asrama Xela masuk ke kamarnya dengan muka lesu, Veoni dan Gesha segera menyambut kedatangannya lalu memeluknya.


"Xel semalaman kamu kemana aja. Maafin kita ya." Ucap Gesha.


Bukannya membalas Gesha, ia malah berkemas, mengemasi semua pakaiannya, sontak kedua temannya terkejut. Apakah mereka membuat masalah besar sehingga berdampak seperti ini?


"Xel plis jangan pergi, maafin kita Xel. Maafin kita kalau kita ada salah, kita janji gak akan ngomong yang nyakitin hati kamu." Veoni memohon begitu juga dengan Gesha.


"Tidak, bukan karena kalian. Kalian berdua baik-baik disini, aku akan tinggal di luar." Xela memeluk kedua temannya sebagai ucapan selamat tinggal.


"Tapi Xel, baru saja kamu tinggal beberapa hari disini masa pergi lagi." Veona sudah menangis.

__ADS_1


"Kamu akan tinggal dimana? mudah-mudahan kita bisa jenguk nanti kalau ada apa-apa." tanya Gesha yang menahan kesedihannya.


"Nanti aku kabari." Xela memeluk kedua temannya dengan erat, ia menangis tetapi bukan karena perpisahan dengan Gesha dan Veona, tetapi luka hatinya atas apa yang terjadi hari ini. Ia dianggap asing oleh lelaki yang ia kagumi, lelaki itu seakan hilang ingatan.


__ADS_2