
Alfarel mengemudi mobilnya dengan kecepatan sedang.
Smartphonenya dari tadi berdering, namun ia tidak menghiraukannya.
Karena deringan telepon terlalu mengganggu, akhirnya laki-laki tampan netra biru itu memarkirkan mobilnya di tepi jala. Kebetulan lokasi yang ia singgahi sangat sepi, jarang ada kendaraan yang melintas.
*R*ico? Ngapain telepon berulang kali.
Alfarel mengangkat telepon dari Rico.
"Hallo Ric, ada apa pagi-pagi gini?"
"Al, lo biasanya awal dateng, tapi kok hari ini lama amat?"
Sahut seseorang dari seberang telepon yang sudah diketahui namanya, Rico.
"Gue nggak masuk. Ada urusan, mungkin besok."
"Yah. Enak banget hidup lo jadi anak sultan."
Ketus Rico yang terdengar dari dalam telepon.
"Ya dong, emang kenapa lo?"
Balas Al cuek. Al terpaksa mengangkat telepon yang sungguh sangat mengganggunya.
"Al, tuh si Cika maksa gue buat hubungin lo. Dia tanya lo terus, ada apa sih di antara kalian? "
Alfarel heran dengan pertanyaan yang dilontarkan Rico diseberang sana. Memang di kampus Cika selalu mengganggunya tetapi mengapa Rico bertanya begitu, pasalnya tidak ada apa-apa antara Al dan Cika.
"Lo ngomong jangan asalan ya. Gue nggak ada apa-apa sama dia."
Balas Alfarel.
"Al. Aku tunggu, kamu dimana? Aku udah bawakan cake dengan krim vanila yang kamu suka. Aku takut kalau kamu tidak datang mengambilnya."
Suara dari dalam telepon berubah menjadi suara perempuan yang Al kenal. Ya orangnya adalah Cika, suaranya nyaring terdengar bahkan Alfarel sampai menjauhkan smartphonenya dari telinga.
Dasar perempuan. Lo kira gue mau terima. Memalukan jadi cewek, padahal udah di tolak berulang kali masih aja minta perhatian.
gumam Alfarel.
Al mematikan teleponnya tidak ingin meladeni ucapan Cika. Begitu menyebalkan dan membuatnya risi saja. Malah ia teringat pada Xela, perempuan yang ia suka disaat sedang marah atau dipancing amarahnya.
__ADS_1
Alfarel melanjutkan perjalanan menuju ke Rose Room sesuai perjanjiannya dengan Ario kemarin.
Kok segini penasaran gue sama tu perempuan. Gue gak tau dia tapi level kepo meningkat. Aneh! Kalau gue batalin buat selidiki, ada perasaan kurang enak dan kurang lengkap dihati. Apa gue udah gak waras. Apa gue juga butuh seorang dokter buat sembuhin rasa ini?
Alfarel membatin heran, ia heran dengan dirinya sendiri yang berusaha menguak kisah hidup Xela dan masalah yang Xela hadapi. Padahal baru kemarin ia mengenali gadis tersebut.
Lihat saja perempuan aneh. Gue bakal cari tahu kisah kehidupan lo, gue bakal tahu siapa lo. Tamparan lo kemarin membuat gue semakin kuat keinginan untuk mencari informasi tentang lo.
Alfarel berguman sambil senyuman miring terukir di bibirnya.
Alfarel tiba juga di sebuah bangunan bernama Rose Room. Al masuk menghampiri Ario yang sudah duduk menunggunya disana.
"Hei man, lo sehat?"
Basa-basi Ario disertai langkah kakinya menjemput Alfarel dari arah pintu masuk.
"Baik Io, ayo kita langsung aja ke bu Maya."
Ajak Alfarel yang melangkah sedikit menuju ruangan yang berada di pojok. Bu Maya adalah pemilik Rose Room. Ciri-ciri bu Maya adalah memiliki rambut sebahu dengan warna rambut seperti kuning rambut jagung. Wajahnya selalu saja dipolesi make up tebal.
"Hallo tampan tampan ku. Ada yang bisa saya bantu, apa butuh pelayanan yang memuaskan." Sapa ibu Maya kepadamu Al dan Ario.
Ario menunjukkan sikap salah tingkah, ia pun menelan salivanya karena grogi. Sementara dengan Al, ia terlihat biasa saja, ia hanya ingin melanjutkan aksinya sesuai tujuannya ingin mencari tahu informasi tentang Xela.
"Oh, itu, tidak ada babang tampan. Memangnya ada apa?"
Bu Maya berucap dengan centilnya.
"Oh begitu. Bolehkan kami melihat cctv sebentar, sepertinya kemarin di meja santai saja kehilangan dompet."
Alfarel meminta dengan nada memohon agar bisa meluluhkan hati seorang bos Rose Room berusia 44 tahun itu.
"Aduh tampan, kalau gitu boleh banget deh. Silakan! "
Ibu Maya yang langsung klepek-klepek dengan ketampanan yang dimiliki Alfarel dengan senang hati menuruti permintaan Al.
Al dan Ario sudah berada di ruangan pengawas, mereka sudah mengecek cctv disana, namun ternyata informasi tentang Xela sudah jelas mereka dapatkan.
Xela memang benar di jebak. Alfarel juga menangkap wajah perempuan yang ia kenal disana sebagai tersangka yang membuat Xela didalam masalah.
"Ghea. Benar dia Ghea, beraninya dia melakukan ini."
Ucap Alfarel, ia menunjukkan wajah gusarnya, entah ada apa perasaannya. Apakah Alfarel ada rasa dengan Xela?
__ADS_1
Disisi lain, Xela mulai lagi menempuh perjalanan dengan berjalan kaki ke rumah mewah yang pernah ia singgahi kemarin oleh karena laki-laki yang bernama Alfarel.
Xela kesana untuk mengembalikan jaket dan juga KTP milik Alfarel.
Duh, sampai lagi disini, tempat yang paling ku benci. Kalau nggak kesini bagaimana dengan barang laki-laki tidak punya akhlak itu.
Batin Xela saat langkahnya berhenti didepan pagar yang terbuka lebar seakan menyambut kedatangannya. Ia ragu untuk melangkah ke dalam menapaki halaman rumah mewah tersebut.
Pada Akhirnya Xela memberanikan diri untuk memasuki rumah mewah tersebut dan memijat bel.
Tidak lama setelah memijat bel, seseorang membuka pintu, namun orang itu ternyata bukan Alfarel tetapi sosok laki-laki yang menggunakan celemek dan nampak feminim.
Xela saat ini berdiri dengan penampilan seadanya, karena ia baru pulang dari sekolahnya, maka ia masih menggunakan seragam putih abu-abu SMA.
"Eh, ini nona yang kemarin kan?"
Tanyanya dengan tersenyum ramah, Xela kagum dengan keramahan laki-laki tersebut, tidak seperti Alfarel yang sangat menyebalkan, Xela bisa membandingkan senyuman Alfarel dan laki-laki yang ada didepannya ini.
Senyuman Alfarel menurutnya adalah senyuman tidak ikhlas, senyuman sinis penuh sindiran dan penuh dengan pisau yang menyayat hati.
"Iya betul. Kak Al nya ada?"
Tanya Xela sambil sedikit melirik ke dalam.
"Kak Al pergi ke kampus hari ini."
Jawab Dafi yang belum tahu kalau Al tidak pergi ke kampus.
"Oh. Gitu, syukurlah."
Dafi heran mendengar jawaban Perempuan yang kedua kalinya ia temui itu, kok malahan bersyukur tidak bertemu dengan seorang Alfarel, padahal di luar sana banyak sekali perempuan yang sangat menginginkan Alfarel untuk bertemu dan memilikinya.
"Kenapa nona. Ada yang bisa saya bantu?"
Tanya Dafi ramah. Akhirnya keinginan Dafi kemarin terwujudkan, ia bertemu kembali dengan perempuan ini.
"Saya mau mengembalikan jaket ini. Sampaikan terimakasih saya untuk Kak Al."
Xela sambil memberi jaket tersebut, namun Dafi mengangkat tangannya tidak mau menyambut jaket yang Xela kembalikan.
"Maaf nona alangkah baiknya nona masuk dulu dan menunggu bang Al datang." Tuturnya sembari mempersilakan Xela masuk. Xela tidak ada pilihan selain menuruti karena memang ia harus menanggungnya karena ia memakai jaket tersebut.
bersambung ...
__ADS_1