POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Drama Apa Lagi Ini?


__ADS_3

Xela seakan tidak percaya, Al mengatakan ia pacarnya? apalah lelaki di depannya ini gila.


Gilanya lagi Mira menuruti saja tanpa protes.


"Drama apa ini sebenarnya, kenapa mereka yang ku tahu sepasang kekasih tapi seperti ini?" batin Xela bertanya-tanya.


Setelah Mira pergi, Xela ingin mencoba untuk bertanya apa yang terjadi.


"Kak Al sama Kak Mira kenapa. Kalian bikin drama apa?" Xela protes.


"Drama?" Al menatapnya intens, lalu sejenak terdiam.


"Ya, kenapa sama pacar sendiri seperti itu. Aku tidak mau jadi penghancur hubungan."


"Dia bukan pacarku." Jawab Al santai.


"Lalu aku dipakai buat pemeran Drama Oh aku mengerti mungkin kalian sedang ada masalah."


Saat itu juga Mira datang, Alfarel yang belum menjelaskan apa-apa berusaha diam karena Mira sudah datang.


"Ini Al, cepat sembuh ya Xel." ucap Mira dengan nada selembut mungkin. Palsu bahkan senyumannya juga palsu.


"Terima kasih." Xela meneguk habis segelas air putih karena kehausan.


"Kamu mau istirahat? aku antar ke kamar ya." Xela mengangguk, sebenarnya tujuannya ingin membiarkan keduanya bisa ngobrol tanpa dirinya.


"Aku bantu ya Al." Mira hendak meraih tangan Xela bermaksud membantu mengiringnya ke kamar tetapi Al menolaknya.


"Tidak usah, biar pacarnya saja." jawab Al, Mira menarik kembali tangannya merasa ia di abaikan, tersenyum tentu saja untuk menyembunyikan sakit hatinya.


"Kak Al aku ingin sendiri di sini, lebih baik kak Al keluar temani Kak Mira." Xela menyuruh Al keluar untuk menemui Mira tetapi lelaki itu tidak mau, bahkan ia tanpa ragu merebahkan tubuhnya di atas ranjang di pangkuan Xela.


"Ini kenapa lagi?" Xela terkejut melihat tingkah lelaki itu, kenapa sekarang malah berbaring di pangkuannya?

__ADS_1


Mira akhirnya muncul melihat mereka mesra, dari depan pintu kamar yang terbuka lebar, ia pun memandangnya dengan sedih.


"Pria tampan itu dulu milikku, tapi sekarang sudah menjadi milik perempuan perebut itu. Apa kurangnya aku kalau Al juga belum tahu dulu aku pernah selingkuh darinya. Aku menginginkanmu mu kembali Al, tapi sekarang sudah ada dia." Mira menangis patah hati, lalu segera pergi meninggalkan rumah itu tanpa pamit dengan tuannya.


Xela menatap wajah tampan lelaki yang berbaring di pangkuannya, alisnya yang pas, netral biru yang menawan dan juga rambut lurus yang agak panjang, tangannya secara refleks menyentuh alis lelaki itu.


Alfarel menghentikan tangan Xela yang sedang memainkan alisnya menggenggam tangan itu lalu memejamkan matanya.


DEG!


Xela gugup secara tiba-tiba sebab Al menggenggam tangannya mengalirkan sebuah arus, ya seperti arus listrik yang bisa membuatnya deg deg an.


Smartphone Al berdering setelah itu, Alfarel melepaskan tautan tangan mereka.


(Dia sudah pulang)


Alfarel mendapat pesan itu dari Dafi, ia pun tersenyum langsung bangkit tidak mengatakan ia akan kemana. Xela juga masa bodo meskipun di hatinya ia penasaran kemana lelaki itu akan pergi.


"Benar aku hanya di pakai untuk sebuah drama saja, tidak lebih." Batin Xela lalu mulai berbaring lagi.


Smartphone miliknya berdering, Xela tidak jadi memejamkan matanya meskipun kepalanya terasa berat.


Nomor tidak di kenal meneleponnya, Xela tetap mengangkat meskipun ia tidak tahu siapa yang menelepon.


"Hallo, maaf ini dengan siapa?"


("Hallo Kak Xela, ini beneran kak Xela. Aku Chesi, Chesi kangen sama kakak.")


Chesi, ternyata dia adiknya, namun Xela merasa tidak senang saat Chesi meneleponnya.


"Kalau nggak ada yang penting jangan telepon, cepat habis kuotaku nanti." Bukannya menjawab sapaan hangat adiknya, Xela malah berbicara dengan kesan tidak bersahabat.


("Kakak kok gitu, aku telepon kakak juga ada hal penting yang mau aku omongin.") jawab Chesi dari seberang sana.

__ADS_1


"Apa? cepetan bilang aku nggak bisa teleponan terlalu lama." ingin sekali Xela mematikan telepon nya namun karena penasaran ia ingin mendengarkan apa yang akan adik bungsunya sampaikan.


("Mama sakit Kak. Kakak juga nggak pernah hubungi mama selama ini, ini juga karena aku berjuang cari akun sosial media kakak akhirnya aku dapat nomor baru kakak.")


Tubuh Xela melemah semua mendengar apa yang adiknya katakan, ibunya sedang sakit?


"Mama, maafkan aku tidak pernah mengabari Mama. Aku bahkan lupa menghubungimu Mama sampai aku mendengar kabar kalau Mama sakit. Rasanya aku ingin pulang, tapi aku ragu bagaimana jika aku bertemu dengan para brengsek itu lagi." Xela diam-diam menangis mengusap air matanya namun berusaha menyembunyikan isak tangis agar Chesy tidak mendengarnya.


("Kak, kakak kok diam aja. Kakak Mama tidak di kampung, tapi di rumah kita yang ada di bukit. Pulanglah Kak kita rawat Mama, sekarang aku sedang di puncak bukit untuk menghubungi kakak dan juga mengambil ramuan.")


"Iya kakak coba berpikir dulu, kakak akan pulang. Tunggu kakak ya, jaga Mama jangan pernah meninggalkan Mama sendirian."


("Iya kak. Kakak cepat pulang ya hanya sebentar saja, kasihan Mama cariin kakak terus.") ucapan Chesy membuat Xela tidak bisa menahan tangisnya, ia segera mematikan telepon. Kepalanya semakin sakit.


"Kenapa, apa ada yang sakit?" Al tiba-tiba saja berdiri di sampingnya dengan sebuah nampak berisi makanan di tangannya.


"Tidak, aku hanya ingin lekas sembuh saja dan setelah itu aku pergi.” Jawab Xela menyembunyikan masalahnya dari Al.


“Pergi?” Alfarel mengerutkan keningnya melihat gadis yang masih pucat berusaha bergerak merapikan selimut.


“Aku tidak mungkin selamanya disini.” Sementara Xela merapikan selimut dengan sisa tenaganya, selimut ia gunakan untuk menutup wajahnya tangisnya mau pecah tidak mungkin ia menangis di depan Al lagi. Upaya Xela tidak berhasil, Alfarel menarik selimut itu merebutnya dari Xela.


“Tidak mungkin melipat selimut selama itu, kenapa harus menyembunyikan tangismu dari saya?” Lelaki itu tahu Xela menyembunyikan wajahnya untuk menangis, ia sudah menaruh kecurigaan dari awal.


"Ya sudah kalau begitu makanlah!" Al meletakkan nampan di atas nakas kemudian memberikan pelukan kepada Xela.


“Saya tahu kamu merindukan ibumu. Kamu akan pulang, kamu tidak akan pergi dari kota ini. Saya sedang tahu impian mu belum terwujud.” Xela diberi perhatian, ini ke sekian kalinya Alfarel menyeka air matanya. Andai saja lelaki itu selalu memerhatikannya seperti ini. Xela merasa bersalah sebelumnya mau termakan omongan Landry nyatanya selama ia menginap disini Alfarel tidak pernah berbuat macam-macam atau berlebihan.


"Mama aku rindu Mama, andai aku bisa bicara dengan Mama secara langsung." Xela masih menangis dalam pelukan Alfarel, seorang lelaki yang peduli padanya.


“CUMAN Xela, Kak Al tidak seperti yang kamu duga. Dia baik, bukan seperti yang kamu pikirkan.” Batin Xela.


“Maafkan saya Xela kemarin saya memarahi mu dan membuatmu berjalan malam-malam. Beruntung saya menemukanmu.” Bukan mimpi, Xela mendengar Alfarel meminta maaf berarti lelaki itu tidak amnesia sama sekali, benar yang di katakan Dafi.

__ADS_1


“Iya kak, Aku tahu mood kakak sedang rusak.” Xela memaafkannya bahkan tidak segan mengeratkan pelukannya.


__ADS_2