POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Camping 2


__ADS_3

Malam tiba, mereka berkumpul mengelilingi api unggun sambil bermain gitar dan bernyanyi, Xela terlihat serba salah di sisi Alfarel.


“Kenapa sayang?” tanya Alfarel melihat kegelisahan itu.


“Aku kebelet pipis, aku pergi bentar.” Xela pamit lalu menyalakan flash di smartphonenya.


“Saya temani.”


“Nggak aku bisa sendiri.” Xela sudah pergi begitu saja meninggalkan Alfarel, ia merasa bisa pergi sendiri.


Xela mencari tempat yang nyaman di belakang tenda dan akhirnya ia merasa lega sudah membuang air kecil. Tetapi ada cahaya lain menghampirinya.


“Heh Lo jangan merasa menang karna Lo pacaran sama Al. Gue tau Lo perempuan yang hanya butuh duit doang, Alfarel kan kaya. Lo Cuma mau uangnya aja kan?” Suara familiar perempuan itu membuat Xela mengingat siapa dia. Ghea, perempuan itu menghampirinya lalu mendorongnya.


“Lo kenapa, gak ada lomba disini kan. Datang-datang udah bahas soal menang.” Xela mengabaikan ucapan lain dari perempuan itu bersiap untuk kembali.


PLAK


Belum sempat ia menjauh Ghea menamparnya, Xela tidak tinggal diam dia segera mengarahkan cahaya ke wajah Ghea lalu menamparnya.


“Xela.” Terdengar suara memanggil Xela, cahaya lain juga datang dari jauh menghampiri mereka berdua.


“Xela lo jahat, kenapa lo nampar gue. Apa salah gue sama Lo?” Ghea memulai sandiwara, dan ternyata yang datang adalah Rey dan Alfarel. Kedua lelaki itu masing-masing membawa pasangan mereka kembali.


“Apa? Jelas dia yang datang dan duluan nampar aku.” Xela tidak terima, beruntung Alfarel dan Rey segera memisahkan mereka.


Al membawa Xela menghampiri Ghea dengan wajah datarnya berkata kepada perempuan itu.


“Minta maaf ke cewek gue kalau lo memang salah.” Alfarel meminta Ghea untuk meminta maaf namun Rey melindungi Ghea di belakangnya.


“Al Jelas-jelas tadi Xela yang nampar cewek gue. Kok Lo nyuruh cewek gue yang minta maaf, harusnya cewe lu yang kurang ajar itu.” Tunjuk Rey pada Xela sementara Ghea yang bersembunyi di belakang Rey tersenyum penuh kemenangan.


“Dia yang tiba-tiba datang menamparku.” Xela mengatakan kebenarannya, tetapi malah mendapat bentakan dari Rey.


“Lo yang kurang ajar Xela. Al cewe lo yang benar-benar kurang ajar, jelas-jelas tadi gue udah liat dia nampar Ghea.”

__ADS_1


BUUGGH


Alfarel melayangkan tangannya ke pipi Rey tidak terima kekasihnya di katai kurang ajar.


“Lo jangan bentak cewek gue. Ada gue disini yang bisa aja habisi lo.” Alfarel memukulnya lagu tetapi Xela segera menghentikannya.


“Kak Al sudah jangan emosian.” Xela memeluknya dari belakang.


“Kamu terima begitu saja disalahkan?” Di sisi lain Xela bersyukur Alfarel mempercayai nya tetapi ia takut perkelahian ini menimbulkan kebencian dan bertambah lagi musuh Alfarel nantinya.


“Ada apa ini?” Rico dan Ario datang menjemput mereka.


Sesampainya di depan api unggun Ario sebagai penengah mengatasi konflik kecil itu.


“Al, Rey gue berharap kita disini menikmati liburan, tetapi kenapa kalian berdua malah bertengkar?”


“Gue gak terima cewe gue di bentak sama Rey. Xela tidak mungkin duluan nampar orang kalau bukan orang lain yang memulainya.” Jawab Al yakin.


“Jelas-jelas gue melihat Xela nampar Ghea.” Rey membela Ghea dan yang di bela sepertinya sangat menikmati kemenangannya dengan berpura-pura menangis di belakang Rey.


“Aku.” Jawab Xela dan Ghea serentak.


“Siapa yang duluan nyamperin?”


“Xela.”


“Ghea.”


Jawab mereka berdua menunjuk lawannya. Ario dengan tenang mendengarnya, ia tidak merasa bingung sedikitpun meskipun kedua perempuan itu saling menunjuk.


“Oke, kalian berdua lihat ke atas!” pinta Ario sehingga Xela dan Ghea menengadah. Mereka melihat benda kecil dengan lampu merah bergerak di udara. Yap! Itu sebuah drone. Ghea menunjukkan wajah pucat pasi sementara Alfarel langsung mendorong Ario.


“Apa maksudnya Lo masang drone?” Alfarel takut drone itu akan merekam kegiatan perempuan yang bersifat pribadi.


“Al tenang dulu, nggak ada maksud dengan drone ini. Lagian keadaan gelap seperti ini drone gue hanya bisa menangkap cahaya doang. Itu Cuma buat jaga-jaga sekaligus mencari tahu siapa yang benar dan siapa yang salah dari antara kalian daripada harus berkelahi.” Jelas Ario mereka pun memeriksa melalui memori yang terpasang di drone.

__ADS_1


Hasil menunjukkan Ghea yang salah. Ghea ternyata yang menyusul Xela dan fiks Ghea menjadi tersangka.


“Nggak mungkin, Ghea kamu tidak memulai duluan kan?” Tanya Rey seakan tak percaya, tetapi di sisi lain ia takut kalau benar-benar Ghea yang mencari perkara. Ghea hanya menunduk saja.


”Sial, kenapa harus ada drone itu. Hampir saja gue berhasil membuat Xela dibenci tapi drone itu menghancurkan kemenangan ini.” Batin Ghea.


“Udahlah lagian ini masalah kecil lebay amat di bahas, di perpanjang lagi.” Ketus Cika kemudian berlalu pergi masuk ke dalam tenda terlebih dahulu.


“Gue gak mau ikut campur, dan gue ngantuk. Cukup aja ya malam ini kita tidur, besok kita eksplorasi lagi.” Rico pun demikian, ia masuk ke tandanya melepas lelah.


“Jelas-jelas lo yang salah Ghea, Lo harus minta maaf sama cewek gue!” Alfarel meminta Ghea memintanya maaf. Ghea bukannya mau disuruh minta maaf, ia malah meminta perlindungan Rey, namun Rey melepas tautan tangannya dengan Ghea lalu pergi.


“Sayang tunggu!” Ghea hendak mengejar langkah Rey tetapi Alfarel mencengkram tangannya dengan kuat.


“Lo harus minta maaf sama pacar gue, kalau nggak kulit tangan lo bakal sobek.” Ancam Al mencengkram tangan perempuan itu lebih kuat lagi.


“Rey tolong, Al nyakitin aku.” Ghea meminta pertolongan dari kekasihnya.


“Kak Al udah, lepasin aja dia. Jangan memperbesar masalah lagi yang penting udah tau kalau dia yang salah.” Ucap Xela berusaha menarik tangan Al yang mencengkram kuat pergelangan tangan Ghea.


“Tapi tetap dia harus minta maaf.” Alfarel tetap kukuh.


“Kak biarkan saja, percuma kita ke sini hanya untuk membesarkan masalah, kita ke sini untuk menikmati damainya alam.” Xela perlahan memegang tangan Al, melepas jari-jari Al yang mengikat pergelangan tangan Ghea.


Akhirnya Alfarel membiarkan Ghea pergi begitu saja. Ario menepuk pundaknya lalu berbisik.


“Lo beruntung, cewek lo baik jadi nggak terlalu ngerepotin lo.” Alfarel menghela nafas berat, sulit sekali baginya untuk ikhlas.


“Oke semuanya udah pada istirahat. Xela kamu duluan masuk, saya masih ada urusan sama Ario.”


"Apa urusan sama Ario, pokoknya aku nggak akan ngelepasin kak Al. Ario pasti lagi nyediain stok cewek.” Batin Xela dengan prasangka buruknya, ia cemberut dan tidak mau bergerak.


“Selamat malam.” Al mencium pucuk kepala Xela sebelum menyuruhnya masuk ke dalam tenda.


“Aku gak mau.” Xela memeluk Alfarel dengan possesif lalu menatap Ario dengan menyipitkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2