
Alfarel diam menghadapi Xela yang sangat marah , bagaimanapun juga ini salahnya. Tetapi Al ingin mendekapnya tidak peduli semarah apapun Xela padanya, ia mengambil keputusan untuk menarik kekasihnya dalam dekapannya. Ada rasa penuh penyesalan bercampur rasa dendam, ini adalah perbuatan musuh yang ke sekian kali berusaha membuatnya hancur.
"Kak Al jahat kenapa? jangan peluk aku. Kau bukan siapa-siapa." Xela memukul Alfarel sekuat tenaganya tetapi sepertinya yang di pukul tidak merasakan apa-apa, Xela semakin kesal pada akhirnya membuat ia lelah dan membiarkan saja Al memeluknya, bibir dan lehernya sudah sangat sakit jika ia memberontak, Xela menangis sampai sesegukan seperti anak kecil.
"Maafkan saya Xela, saya terlalu sibuk dengan urusan saya sendiri dan lahirnya membuatmu seperti ini. Brengsek, mereka benar-benar brengsek!" Batin Al melihat keadaan Xela, bibitnya yang terluka dan leher Xela yang merah akibat di cekik, semuanya semakin membuat Alfarel terluka lalu ia kembali memeluk Xela yang sudah pasrah karena kesakitan.
"Mereka terlalu kurang ajar. Aku akan membalas mereka lebih parah dari ini." Batin Al dengan rahang yang mengeras tetapi tetap ia mendekap Xela berharap kekasihnya bisa tentang.
Al kemudian menggeser layar smartphonenya lalu mengirim pesan ke sebuah nomor.
Secepatnya datang ke lokasi yang saya bagikan, ada pekerjaan untuk kalian. Bawa dua laki-laki sekarat itu, jangan sampai mereka lepas sebelum saya datang menghajarnya.
Alfarel segera menutup latar smartphonenya lalu memeluk Xela dengan lembut, dan berbisik di telinga kekasihnya.
"Sayang, maafkan saya. Saya akan membuat mereka menderita dan kamu boleh menghajar mereka nanti." bisik Al di telinga Xela, mereka berdua tidak menyadari dari kejauhan datang beberapa orang yang di tugaskan Al untuk membawa Rey dan Rico yang sekarat.
"Terlambat! sekarang aku membenci mu, aku tidak mau memaafkan mu." Ucap Xela lagi disertai tangisan pilu yang membuat Alfarel semakin terluka.
"Kamu tidak bisa mengambil keputusan." balas Al masih mendekap Xela.
"Aku membenci mu." Ucap Xela lirih, Alfarel tidak menghiraukan ucapannya yang terpenting sekarang bagi Al adalah bagaimana memperbaiki semuanya.
...****************...
"Ghea gue benci sama cewek si Al. Caper banget." kata Cika kepada Ghea, mereka sedang duduk di tepi sungai melihat pemandangan indah di depannya.
"Gue tau lo suka sama Al." jawab Ghea dengan senyuman getir.
"Tapi bukannya lo juga suka sama Al?" kata Cika lagi.
__ADS_1
"Dari dulu." Ghea menjawab cepat. "Lalu selama ini, Rey?" Cika seakan tidak percaya.
"Pacar gue, tapi gue tidak sepenuhnya cinta sama dia masih ada Al di hati gue." Cika mengepalkan tangannya lalu menjambak rambut panjang Ghea.
"Hei lo apa-apaan!" Ghea juga membalas menjambak rambut Cika tidak terima hanya dirinya disakiti.
"Lo itu harusnya dukung gue sama Al, bukannya lo harus suka sama dia." Cika marah, seharusnya mereka sadar Al sama sekali tidak melirik mereka.
"Gue udah lama suka sama dia."
"Gue juga."
"Tapi Lo gak pernah di lirik, Ghea."
"Lo juga Cika. Lo harusnya singkirkan Xela kalau bisa." Mendengar ucapan Ghea, Cika berganti menjambak Ghea.
"Benar juga ya, tapi bagaimana menyingkirkannya?" batin Cika.
...****************...
"Ada apa ini Al?" Ario sudah kembali ke tenda bersama dua perempuan yang menemaninya melihat tenda Alfarel rusak dan Alfarel juga sedang mengobati luka bibir Xela.
Alfarel hanya menoleh tidak menanggapi pertanyaan sahabatnya.
"Hahaha! lo main kasar sih padahal ini masih siang." Ario berpikir lain, mengira terjadi percintaan antara kedua pasangan itu. Alfarel kesal lalu melempar batu kecil sampai mengenai jidat Ario sampai Ario mendesis kesakitan, beruntung batu kecil itu tidak melukai jidatnya.
Pandangan Xela kosong, masih mengingat kejadian sebelumnya, dua laki-laki yang kurang ajar sangat melukai hatinya, baru saja bibirnya yang terluka di obati oleh Alfarel, ia membuatnya luka lagi dengan memukulnya. Begitu tidak bisa menerima bibirnya di renggut oleh orang yang salah, Xela menangis terluka. Alfarel segera menahan tangan kekasihnya lalu menyembunyikan wajah kekasihnya dalam dekapan. Ario baru menyadari ada yang terjadi di antara mereka, tidak mungkin Xela menangis jika Alfarel yang menyebabkan luka dibibir gadis itu, tetapi ia tidak dapat menemukan keanehan padahal didepan tenda itu adalah tempat perkelahian Alfarel dengan Rey dan Rico, karena Alfarel cepat memerintahkan anak buahnya maka dapat di jamin, Rey dan Rico tidak bisa di temukan, bahkan drone pun tidak bisa merekam jejak karena kemarin Al sudah meminta Ario untuk menyimpannya.
"Kenapa? kenapa harus terjadi. Dan kak Al, apakah dia tadi bersama salah satu dari perempuan yang bersama Ario?" batin Xela menyadari kehadiran Ario bersama dua wanitanya.
__ADS_1
"Itu wanitamu sudah datang, pergilah kalian bersenang-senang." kata Xela kepada Alfarel. Ario tercengang mendengar ucapan Xela.
"Al ada apa ini?" Ario ingin tahu.
"Lebih baik lo ajak kedua cewek lo itu pergi sekarang!" Ario hanya bisa menahan rasa penasaran kemudian pergi meninggalkan dua pasangan itu.
"Kenapa nggak pergi?" Al menatap sepasang mata bengkak Xela, gadis itu begitu menyedihkan sepertinya ia salah paham lagi.
"Kamu selalu saja salah paham, saya tidak bersama mereka."
"Bohong! pergi sana!" Xela membalikkan badannya tidak ingin melihat wajah Al, ia tidak mau memaafkan lelaki itu.
"Aku tidak mau memaafkannya, dia pembohong, dia membiarkanku di lukai orang lain dengan pergi entah kemana." Xela masih saja merasa terluka lalu menangis lagi tiada henti.
Alfarel tidak habis kesabaran, ia harus melupakan dulu masalahnya dan sekarang yang terpenting adalah membuat Xela mau memeluknya seperti kemarin, ia merindukan sikap manja itu.
"Maafkan saya, karena suatu masalah saya gagal melindungimu." Alfarel mendekap kekasihnya lagi meskipun berulang kali harus menahan sakit oleh pukulan Xela yang memberontak.
"Jangan meminta maaf, setelah ini mari kita memulai kehidupan yang baru ..." Al tersenyum mendengar ucapan yang masih di gantung Kehidupan baru berarti Kehidupan yang baik ke depannya, itulah yang ada di benak Al.
"Kehidupan baru, dimana kita tidak usah saling peduli. Pedulilah pada kehidupan masing-masing."
Alfarel terkejut, meskipun begitu Ia tetap tenang.
"Kalau saya tidak bisa meminta maaf, saya akan membunuh kedua orang itu. Mereka sudah melukaimu, saya tidak ingin melihat mereka hidup dan mengusik pikiranmu."
"Terserah dan sementara kau di penjara aku akan pergi." meskipun di dalam benaknya Xela mengatakannya tidak, namun ia harus bersikap masa bodo karena kemarahannya.
"Saya tidak akan berakhir di penjara dan kamu tidak akan pergi." Al masih memeluknya.
__ADS_1
"Saya menyayangimu," batin Al. Bisakah Xela mempercayai bahwa lelaki itu tulus padanya?