
"Ini adalah hari terakhir aku meninggalkan rumah ini. Dulu aku pernah ingin kabur, seharusnya aku senang. Tapi kenapa rasanya ada yang kurang." Batin Xela sembari ia mengemas seluruh pakaiannya ke koper.
"Xela."
Sebuah panggilan dari luar menyadarkan gadis itu membuat gerakannya berkemas semakin cepat.
Setelah Xela keluar, Alfarel sudah menunggunya, berada di ruang tamu bersandar di sofa sambil melirik ke arahnya, kedua tangan di lipatkan di dada serta kaki yang di silangkan, gayanya sungguh membuat siapapun bisa gugur termasuk Xela, ia sudah di tunggu sedari tadi.
Gadis itu menarik koper nya berjalan ke arah Alfarel, namun langkahnya di henti kan oleh seseorang.
"Xela, kamu mau kemana?" Dia Landry, lelaki yang menyatakan perang dingin dengannya kemarin, hari ini telah menyelesaikannya buktinya ia yang terlebih dahulu memberikan deretan kalimat pertanyaan kepada Xela.
"Aku akan pindah." Jawab Xela membuat Landry menatap gadis itu dengan tatapan sayu kemudian Landry melirik kakaknya selaku bos sudah berdiri dengan gaya otoriternya.
"Bang Xela akan di pindahkan kemana?" Tanya Landry pada akhirnya meski sebenarnya ada rasa cemburu kenapa Xela sepagi ini sudah menemui kakaknya.
"Suuhh, singkirkan tanganmu itu." bukannya menyahut, Alfarel malah menyingkirkan tangan kedua orang di hadapannya yang sedang bertautan agar terpisah
"Bang gue nanya Xela akan di pindahkan kemana?" sekali lagi Landry bertanya dengan emosi.
"Lo Tanya sendiri dong, dia udah ada di depan lo, otak mana otak. Dasar bocil." ucap Al dengan nada mengejek.
Landry menjadi malu karena ia malah bertanya pada kakaknya yang pelit info, parahnya lagi sebenarnya ia bisa bertanya langsung pada Xela yang sudah ada di depannya, sayangnya ia lupa saking kacau pikirannya mengingat Xela akan pergi dari rumah ini.
"Xel kamu akan pindah kemana?"
Xela menatap lelaki itu sejenak, lelaki yang kemarin marah padanya karena cemburu sekarang sudah menyapanya. Xela tersenyum lalu menghela nafasnya.
"Aku pindah ke asrama."
"Asrama? asrama yang mana?" Xela hanya menggeleng tidak tahu asrama yang mana karena ini semua Alfarel yang mengatur.
__ADS_1
Landry akhirnya mengerti, ini semua Alfarel yang merancangnya, pupus sudah harapan untuk tiap hari bertemu, saling menyapa dan saling memantau satu sama lain.
"Bang, asrama mana bang. Ini semua abang yang ngatur kan?" Landry menuntut jawaban dari sang kakak.
"Ya, asrama ALKA, bukankah itu tempat yang cocok dan Xela juga mau, ya kan Xel?" langsung Alfarel membuat Xela menganggukan kepalanya, Landry melihat pacarnya sangat penurut, oh tidak nurutnya ya sama Al, bagaimana ia tidak cemburu coba?
"Xela, kenapa kamu nurut aja sama bang Al. Kamu bisa nolak Xela, kamu bisa tetap disini tanpa harus pindah ke asrama. Kalau pun pindah kenapa nggak beri tahu aku."
Xela hanya bisa menatap Landry dengan datar, bagaimana bisa ia protes atas keputusan yang Alfarel buat, semalam ia ingin mengatakan bahwa ia akan mencari tempat tinggal baru sendirian, Al menghentikannya dan Xela harus menuruti apa kata Al.
"Hei cukup. Waktu, ntar kelamaan. Xela harus istirahat do asrama nanti. Landry masuk, lo nggak liat Xela aja udah kek bosan ngomong sama Lo. Ayo Xel."
Alfarel membuat Landry kesal, disini Landry serasa tidak di hargai apalagi Xela yang bersikap dingin, apakah Xela masih marah padanya.
"Xela maafin aku." Landry berlari ke arah Xela, tangan Xela sekarang sedang di pegang oleh Al, tetapi Landry yang datang bermaksud memeluk pacarnya tidak peduli, Landry memeluk Xela sementara tangan Xela bertautan dengan tangan Al. Pemandangan yang membanggongkan bukan?
Xela deg deg an, bisa-bisanya hari ini ia mendapat kondisi seperti ini, lalu akhirnya ia memilih untuk melepas tangan Al bermaksud untuk membalas pelukan Landry tetapi tuan Alfarel malah mengeratkan genggamannya yang sekarang berganti menjadi tautan jemari yang tidak bisa di lepaskan.
"Sudah, sudah. Cukup kau kira menunggu itu kalian begini gak makan waktu."
Alfarel segera memisahkan keduanya, ya jadi kesannya mereka berpacaran tetapi sangat di batasi.
"Dasar anak SMA, sepertinya kalau aku yang menjadi kepala sekolahnya akan ku keluarkan siswa seperti kalian." ucap Alfarel kesal, ia pun dengan mutlak membawa Xela bersamanya meninggalkan Landry yang masih sulit menerima kenyataan.
"Bang hati-hati bawa pacar gue." teriak Landry ketika mobil yang di kendarai Alfarel hendak melaju mengantar Xela.
"Sampai jumpa Landry, kita masih bisa bertemu di sekolah."
Mobil berhenti di sebuah gedung berlantai tiga, terlihat sangat megah. Xela di ajak turun oleh Al.
"Ayo turun kita sudah sampai." Alfarel menautkan jemari mereka berdua berjalan menuju pintu utama.
__ADS_1
ASRAMA ALKA
Xela dapat membaca deretan huruf di atas gedung itu terpampang jelas.
Sesampainya di dalam, ada dua pintu lagi yang memberi mereka pilihan, pintu kiri dan pintu kanan, tetapi sepertinya Alfarel yang mengiringnya sudah hafal tempat ini. Mereka masuk ke sebuah ruangan di sambut oleh wanita paruh baya berkacamata.
"Tuan Al, selamat datang. Sudah lama tidak berjumpa, padahal Asrama ini milik tuan, tetapi tuan jarang kemari." Alfarel hanya memberi senyuman manisnya.
Mereka berdua dipersilakan duduk bersebelahan, Xela yang merasakan tangan mereka sedari tadi bertautan berniat untuk melepaskannya, ia menarik tangannya tetapi Alfarel tidak peduli tetap mengeratkan genggamannya meskipun ia sedang berbicara kepada wanita paruh baya di depannya.
"Saya mau Xela disini dalam pengawasan yang baik, karena anaknya lumayan nakal."
Xela tercengang mendengar ucapan Al, tidak salah? ia dikatakan nakal, sejak kapan?
"Nakal? sejak kapan aku nakal disini? hari-hariku selalu diisi untuk bekerja cari uang, bisa-bisanya dia mengatakan ini." Xela memutar bola matanya menanggapi pernyataan tidak benar yang ia sendiri tidak dapat bantah.
"Baiklah, saya mengerti anak SMA seperti ini bagaimana kehidupannya jika tidak di awasi." Wanita paruh baya itu menatap mereka berdua lalu tersenyum.
Usai berbicara dengan wanita paruh baya yang merupakan pembina di asrama Alka, Alfarel menarik tangan Xela menuju mobilnya, entah apa lagi yang di pikirkan lelaki itu, mereka berhenti tepat di depan mobil.
"Aku lelah kak Al, kenapa membawaku ke sini, bukankah seharusnya aku masuk?"
"Bahkan kamu tidak mengingatkan aku dan memberi ku salam perpisahan, siapa tahu kita jarang bertemu." ucap Alfarel menatapnya dengan wajah datar khas lelaki itu.
"Itu adalah kemungkinan yang sangat bagus, karna aku tidak ingin bertemu dengan kak Al lagi besok-besok." jawab Xela senang dengan senyuman yang lebar.
Al hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan, sampai membawa Xela pada tahap gugup, lalu siapa sangka Alfarel tiba-tiba saja menarik Xela dalam pelukannya. Pelukan erat yang pertama kali Xela rasakan dari seseorang yang diam-diam ia kagumi selama ini. Rasanya sangat berbeda seakan hendak membawanya terbang seketika. Pelukan yang semakin dalam membuat Xela hanyut dalam pikirannya.
"Kak Al, apakah hari ini aku bermimpi memelukmu? Aroma mu yang khas membuatku ingin menangis, ini seperti pelukan perpisahan. Aku tidak bisa menyangkalnya lagi bahwa aku menyukaimu. Kau begitu istimewa untukku meskipun sikapmu sering membuatku patah hati." Xela membalas pelukan Alfarel, membuat ia semakin deg deg an bahkan perutnya seperti digelitik oleh kupu-kupu. Al kemudian mencium keningnya secara tiba-tiba membuat gadis itu semakin terkejut.
"Aku percaya kau baik-baik saja disini dan jauh dari lelaki manapun, aku tidak suka kamu didekati oleh siapapun karena aku menyukaimu, yang aku sukai tidak boleh di sukai orang lain." sembari menopang telapak tangannya di atas kepala Xela, Xela hanya diam mematung sampai akhirnya Alfarel berjalan perlahan menuju mobilnya lalu mobil itu melaju, menjauh meninggalkannya.
__ADS_1
"It's sure, her as Mr. possesif." Gumam Xela sambil menempelkan telapak tangannya telat di keningnya, disana masih terasa bekas ciuman lelaki idamannya.