POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Ternyata dibalik kesibukan Alfarel


__ADS_3

"Apa aku terlalu egois? Tidak tentu saja tidak. Ini semua untuk kebaikan ku. Kalau dia ikut pulang lihat saja Kak Fiana akan besar mulut. Xela tidak mau berdiam dikamar terus jadi ia memutuskan untuk keluar, sebenarnya Alfarel melarangnya keluar dan kebetulan sebelumya ia setuju karena enggan bertemu para penjaga yang membosankan.


Tapi sekarang, ia dalam masalah harus meminta maaf kepada Alfarel, ia tidak mau akhirnya menjadi perang dingin.


Di luar kamarnya ia kebingungan baginya mansion ini sangat luas, banyak ruangan yang mungkin pintunya tidak bisa dibuka, entahlah apa isinya nanti dulu ia akan bertanya sendiri pada Alfarel.


Karena tidak tahu harus ke mana, terpaksa harus bertanya kepada penjaga yang berada di depan pintu.


"Kak Al dimana?" tanyanya singkat tidak perlu panjang lebar ataupun formal.


"Saya akan menghubungi tuan." katanya tidak menjawab pertanyaan Xela sedikitpun. Lalu ia mengambil smartphone untuk menghubungi Alfarel.


"Ish, aku kan nanya dimana? kenapa gak langsung di anterin ke tempatnya malah di telepon orangnya."


Gerutu Xela, ia kesal dengan penjaga yang satu ini, penurut sih iya tapi hanya pada satu orang tidak bisa membantu orang lain.


"...."


"Baik Tuan."


Xela tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Alfarel dari seberang telepon, suara telepon pria penjaga itu terlalu pelit untuk sekedar mengaktifkan speaker agar Xela juga bisa mendengar.


Xela kesal, ia yakin setelah ini penjaga itu akan menyuruhnya kembali ke kamar.


"Tuan sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu sekarang." katanya berbicara dengan nada datar.


"Saya menanyakan dimana dia malah anda telepon sebaiknya tolong antar saya kepada kak Al." pinta Xela masih tetap pada pendirian.


"Tidak bisa nona lebih baik nona kembali ke kamar!" titahnya tapi siapa yang mau mendengarkannya, Xela tidak akan kembali, ia harus turun ke lantai dasar. Mungkin saja Alfarel sedang keluar jadi ia akan menunggunya hingga datang.


"Tidak mau!" bantahnya lalu pergi.


Xela mencari tangga untuk turun ke lantai dasar, memang sulit tapi ia harus berjalan-jalan sekalian mengenali sudut-sudut mansion ini.


Disisi lain, Alfarel masih memantau cctv termasuk pergerakan Xela sekarang dalam pengawasan matanya, di sebelahnya Calvin pemimpin pasukan terpercaya sedang memberi laporan.


"Tuan, hasil dari uji laboratorium. Jarum itu adalah jarum biasa namun cairan hijau di ujung jarum adalah jenis racun baru yang belum diketahui namanya, racun ini bekerja langsung menghentikan pembuluh darah dan juga jantung akan berhenti memompa darah." lapor Calvin.


"Apakah masih ada yang lain?" tanyanya untuk laporan lainnya.


"Korban yang diserang tidak bisa diselamatkan lagi karena dari hasil pengujian, zat racun itu telah menyebabkan kematian seketika bukan kelumpuhan ..." kata Calvin.

__ADS_1


"Tentu saja Calvin." jawab Alfarel tanpa menunggu kalimat Calvin selesai.


"Sekarang siapkan baju pelindung, semua penjaga wajib menggunakannya. Siapkan perlengkapan senjata mereka juga!" tinggal memberi perintah saja semuanya akan beres, begitulah enaknya menjadi seorang pemimpin yg di segani tapi kalau lawannya kuat, pemimpin akan bekerja lebih keras, lebih berisiko dari para pengikutnya.


Sepeninggalan Calvin, Alfarel kembali melihat layar dan Xela ternyata sudah tiba dipintu belakang yang mengarah pada taman bunga, ia tahu disana daerah yang jarang di tempati penjaga. Bergegaslah ia menyusul karena kuatir.


"Ngapain ke sana Xela." Alfarel melangkah lebih cepat menyusul gadisnya takut akan terjadi apa-apa.


"Wah, kenapa kak Al nggak kasi tahu kalau ada taman bunga secantik ini." Xela kagum melangkah lebih cepat untuk memetik salah satu bunga, ada bunga mawar biru yang sangat menarik, senyumannya semakin lebar melihat bunga cantik itu didepan mata lantas ia memetiknya lalu mencium bunga itu.


'TAP TAP TAP'


Suara langkah kaki terdengar membuat Xela mengalihkan pandangannya, ternyata yang datang tidak lain adalah Al. Tambah senang lah Xela, mungkin saja Alfarel sengaja ingin bertemu disini untuk ... ya mungkin untuk memberi kejutan.


Perlahan Alfarel menghampirinya, Xela tidak menangkap mimik datar pria itu karena terlampau senang.


"Kak Al aku ingin disini dalam waktu yang lama, lihatlah! keindahan bunganya bikin tenang." Xela menunjuk ke sekitar tak lupa mawar biru yang ada ditangannya terus membelai hidungnya.


Alfarel memerhatikan gadisnya, sebenarnya ia tidak terima Xela berkeliaran. Dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku jasnya menambah kesan cool, ia perlahan maju mendekati Xela lalu merebut mawar biru dan membuangnya.


"Sampai kapan kamu mencium bunga itu?" Alfarel meraih tangan Xela untuk membawa gadis itu kembali ke dalam lantas Xela yang menerima perlakuan mendadak ini merasa aneh. Ia lupa kalau Alfarel sedang marah padanya.


"Biarkan aku disini sepuluh menit lagi. Aku akan kembali sendiri nanti." Xela masih ingin disana tetapi Alfarel tetap memaksanya kembali.


Alfarel menghentikan langkahnya tetapi tangannya masih tidak lepas menggenggam pergelangan tangan Xela, Xela sendiri mengira Alfarel baru mengingat hal itu.


'****'


Bertepatan dengan desit benda yang melintas cepat dari udara, Alfarel dengan sigap melindungi Xela, menariknya kedalam dekapannya melindunginya didalam jas anti senjata itu.


Alfarel menggertak ketika melihat benda yang sama sekarang menancap di kelopak bunga melati secara langsung bunga tersebut layu. Ya, masih serangan jarum beracun itu.


"Ada apa ini?"


Xela tidak tahu apa-apa, menurutnya perlakuan Alfarel secara tiba-tiba ini membingungkan, ia ingin mengeluarkan kepalanya dari bungkusan jas Alfarel yang besar itu cukup untuk membalut tubuh mereka.


"Jangan coba-coba untuk keluar!" Peringatan dari Alfarel membuat Xela pasrah, masalahnya posisinya saat ini membuat dirinya dag Dig dug. Ia harus menempel entah berapa lama dengan tubuh Alfarel, wajahnya mendekap di dada bidang itu, ia bahkan bisa merasakan detak jantung pria yang melindunginya.


Beruntung tidak ada lagi serangan selanjutnya, Alfarel mulai memanggil anak buahnya untuk memperhatikan sekitar Mansion.


"Perhatikan dengan teliti dan berhati-hati, jangan sampai mereka lolos!" titah Alfarel sebelum ia meninggalkan taman lalu membawa Xela naik ke lantai 3.

__ADS_1


Alfarel baru melepaskan Xela setelah mereka masuk ke dalam.


Selamat perjalanan ke lantai 3, sangat hening. Xela merasa canggung ketika menaiki tangga padahal hanya untuk menautkan jemarinya di lengan Alfarel, ia takut pria itu masih tidak baik keadaan hatinya.


"Kak Al keliatan cuek, apa mungkin dia bertambah marah?" batin Xela akhirnya menyerah untuk menciptakan suasana yang cair, bahkan sengaja berjalan lambat.


"Ayo!" Alfarel akhirnya meraih tangannya karena ia berjalan terlalu dibelakang. Tentulah Xela merasa senang untuk itu.


"Ku kira dia tidak peduli padaku, ternyata ini hanya ancaman sementara." batin Xela tak berhenti mengukur senyum.


Sampailah mereka ke sebuah ruangan, Xela yang dari tadi hanya mengikuti kemanapun Alfarel pergi, sekarang dibawa juga ke ruang cctv. Alfarel duduk di kursi putar sembari mengamati pergerakan anak buahnya yang berhasil menangkap salah satu penyusup. Xela juga melihat adegan itu.


"Sekarang kamu mengerti?"


Tanya Alfarel singkat. Xela baru sadar selama ini memang Alfarel tak berhenti melindunginya meskipun pria itu sedang marah. Ia sekarang benar-benar mengerti ternyata di luar sana berbahaya.


"Aku minta maaf." Xela segera menghampiri pria tampan itu, menundukkan kepalanya mengatakan ucapan bersalahnya.


Alfarel tersenyum singkat dalam sekejap Xela sudah berada di pangkuannya.


"Jangan memasang wajah bersalah seperti itu, terlihat menyedihkan sekali." Protes Alfarel sembari mengusap rambut gadisnya.


Xela merasa dag Dig dug lagi karena sekarang ia berada di posisi yang sangat intim, duduk di pangkuan pria tampan ini. Sebenarnya tidak seharusnya ia merasa gugup namun Alfarel penuh kejutan dan tidak bisa ia duga.


"Kenapa kak Al sangat baik bukankah kak Al sedang marah kepadaku?" Xela bertanya namun tidak di gubris, malah Alfarel yang sudah menatap lekat wajahnya menyiratkan maksud lain.


'CUP'


Semuanya terjadi begitu saja, Xela juga terbuai begitu saja. Ciuman hangat penuh kasih sayang itu tiba-tiba saja mendarat di bibirnya hingga mereka terbawa arus hasrat ingin saling memiliki.


Kini mereka telah berpindah ruangan, di kamar Alfarel. Masih dalam suasana yang sama saling memangut, menjamah dan membelai dengan penuh kasih sayang.


"Kak Al aku menyayangimu." ungkap Xela.


"Kamu baru sekarang, saya sudah sejak lama." jawab Al.


"Aku juga sudah ..."


"Panggil namaku sayang!"


"Kak Al, hmm."

__ADS_1


Sampai akhirnya pertahanan mereka runtuh.


Terjadilah waktu yang panjang untuk kedua insan melepaskan apa yang selama ini tergembok di dalam diri mereka masing-masing, menggempur, bergulat hingga keringat bercucuran.


__ADS_2