
Xela merutuki dirinya sendiri, mengapa ia begitu bodoh. Para lelaki jahat sudah ada di depan matanya jika ia menyingkirkan telapak tangan dari wajahnya.
"Tolong jangan ganggu aku!" Xela memohon karena mereka mengelilinginya dan menertawakannya.
"Hahaha, kamu adalah perempuan yang kami temui. Otomatis kamu milik kami, hahaha. Jangan takut kamu tidak akan bertemu hantu." Salah satu lelaki brengsek itu mencolek dagunya.
"Keberuntungan, ayo bawa dia." kata lelaki yang lain, bahkan Xela tidak berani melihat mereka, ia hanya menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangan.
Tiba-tiba cahaya terang dari kejauhan semakin mendekat memergoki para lelaki yang berkumpul mengelilingi gadis bodoh itu, Xela.
Mobil hitam berhenti mendadak tepat di sisi jalan dimana Xela di kelilingi para anak motor yang tidak jelas wajahnya, namun jelas dari suaranya mereka adalah anak muda bukan orang tua.
"Wah pahlawan pasti ini." ucap salah satu dari salah satu lelaki itu.
"Tenang kita ini banyak, mungkin saja di dalam mobil hanya satu atau dua orang." Mereka merasa tenang sebelum pemilik mobil turun.
Xela ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk lari dari mereka tetapi salah satu lelaki menahan pergerakannya, mengunci badannya dari belakang.
"Tolong, lepaskan aku." Xela memberontak tetapi karena ia perempuan kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan lelaki, ia kalah dan badannya tetap terkunci.
Pemilik mobil langsung keluar dengan balutan jaket kulit berwarna hitam, kacamata hitam dan jeans hitam serta sepasang sepatu putih dikakinya menegaskan bentuk tubuhnya yang tinggi. Lelaki itu sangat familiar bagi Xela, tetapi ia tidak tahu siapa itu, mau melihat plat mobilnya juga tidak dapat, gelap malam membuatnya sulit menduga keadaan.
"Ohh, dia sendirian. Tenang ini eazy kita ber berapa? satu, dua, tiga, enam. Kita ada enam. Mengalahkan satu orang saja tidak sulit. Kita kuat, hahaha." ucap salah satu lelaki sambil tertawa diikuti juga oleh teman-temannya.
Lelaki berkaca mata hitam itu tidak gencar sedikitpun, ia hanya melipatkan kedua tangannya di dada melirik lawannya satu persatu. Terjadilah perlawanan antara mereka, dan akhirnya lima orang yang telah maju melawan lelaki itu kalah semua, tinggal satu orang yang menahan Xela saja masih mengunci tubuh Xela, terkejut melihat teman-temannya sudah terkalahkan semua.
"Ayo yang terakhir, maju!" Ucapnya menantang, Xela pun terlepaskan dari genggaman lelaki itu kemudian melawan lelaki yang disebutnya pahlawan tadi.
__ADS_1
KRAK
"Aakkhh." Lelaki yang mengganggu Xela tadi sudah berhasil di kalahkan, lelaki berkacamata hitam itu sudah mematahkan tangannya di depan mata Xela.
Mereka semua segera menolong satu sama lain untuk pergi meninggalkan tempat itu sebelum tangan mereka dipatahkan satu persatu oleh pahlawan berkacamata itu.
"Ayo pergi cepat. Dia bahaya, kita harus pergi." Teriak satu orang yang di duga ketua dari geng motor itu.
Xela berdiri mematung menatap lelaki berkacamata yang menolongnya dari para pria brengsek tadi. Lelaki yang familiar itu menghampirinya.
"Dasar bodoh, ini sudah malam beraninya berjalan sendirian."
Xela dimarahi langsung, ia semakin penasaran siapa lelaki itu.
"Siapa dia? dia menolongku, pasti dia orang yang ku kenal. Tapi aku juga harus waspada, kalau perlu aku pengen berlari aja deh." Xela ingin berbalik badan dan mengambil kopernya hendak berlari.
"Kak Al." dengan nada terkejut, Al tetap menggenggam tangannya lalu menarik koper yang berada di pinggir jalan.
Alfarel tidak menghiraukan sepatah kata yang keluar dari mulut Xela, tetapi lelaki itu menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
Ketika mobil itu melaju, Xela merasa canggung duduk di sisi lelaki itu. Ia tidak percaya, bukankah barusan tadi pagi ia di marahi bahkan di usir tetapi malam ini kenapa mereka di pertemukan lagi?
“Terima kasih banyak.” Xela hanya mengucapkan tiga kata untuk mencairkan suasana yang sunyi.
“Hmm.” Alfarel hanya berdehem sambil mengemudi, ia tampak cuek.
“Kenapa kau jalan malam malam begini. Apa kau tidak tahu bahaya yang bisa datang kapan saja?”
__ADS_1
“Maafkan aku, aku hanya ...” Xela tidak bisa melanjutkan ucapannya, tepatnya ragu. Ia ingin menjawab alasannya berjalan malam malam begini untuk mencari tempat tinggal dan alasannya tidak menggunakan angkutan umum karena ia harus berhemat.
“Hanya apa? Hanya mengharapkan kedatanganku untuk menolongmu?”
“Bukan begitu, aku hanya mencari tempat tinggal. Aku belum mendapatkannya sehingga terpaksa aku harus berjalan malam-malam.”
“Apa? Tidak salah dengar mencari tempat tinggal sampai harus berjalan malam hari. Banyak tempat tinggal terdekat, alasan saja ingin berjalan malam.” Balas Al sembari menunjukkan senyum sinisnya. Siapa yang tidak jengkel dengan ucapan kelirunya itu. Ya lelaki itu keliru sebab belum tahu apa yang Xela lakukan ada alasannya, berhemat.
“Aku tidak bisa tinggal di sekitar sini, karena memang aku harus tinggal jauh bahkan boleh sebisanya tinggal di kota lain saja meninggalkan kota ini.” Ucap Xela datar membuat lelaki itu tersenyum lagi.
“Bukannya pergi jauh dengan selamat. Kau masih saja akan tertangkap oleh serigala ganas di jalan.” Ucap Alfarel maksudnya serigala ganas adalah para lelaki yang tadi mengepungnya.
“Turunkan aku di tengah kota. Aku akan mencari tempat untuk menginap.” Xela mengatakannya sambil melirik pemandangan di tengah kota dari kaca mobil, ia mengamati adakah tempat yang bisa ia sewa.
“Malam-malam begini? Minta di turunkan di tengah kota? Perempuan seperti apa kamu?” Alfarel tersenyum getir, lelaki itu menggunakan kacamatanya lagi dan ia juga tidak menghiraukan Xela yang kesal padanya.
“Kau siapa seenaknya saja. Bukankah kau tidak berhak menilaiku bahkan mengaturku sekalipun. Hidupku ya hidupku, kau Urus saja hidupmu sendiri jangan Urus hidupku yang bukan siapa-siapa ini.” Xela mulai menunjukkan kemarahannya kepada lelaki tampan yang telah menolongnya.
Alfarel ternyata membawa Xela pulang ke rumahnya, rumah itu Xela mengingat setiap kenangan di sana.
“Kenapa kau membawaku ke sini. Aku mau menginap di tempat lain daripada disini.” Xela protes, Al hanya diam lalu turun dan berkata.
“Terserah, rumahku agak jauh dari kota jadi terserahmu mau berjalan kaki lagi ke kota. Silakan barangkali bertemu dengan mereka lagi.”
Xela tentu tidak mau, terpaksa ia harus turun dari mobil mengikuti langkah lelaki itu masuk ke dalam rumah mengingat di luar lebih bahaya daripada ia terancam di luar, gadis itu memutuskan untuk menginap disini saja, doakan saja semoga tidak ada uang sewanya untuk satu malam saja.
Sembari melangkah melewati pintu utama, Al tersenyum kecil mengetahui gadis itu ternyata mengikuti dari belakang.
__ADS_1