POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Berbaringlah Disini dan Peluk Aku


__ADS_3

Setibanya di rumah Al, Dafi menyuruh Xela menunggu di luar sementara ia membawa Al masuk ke dalam kamarnya.


"Nona tunggu disini, saya akan mengurus bang Al sebentar." Dafi kemudian menutup pintu kamar Al. Xela menggunakan waktunya untuk berjalan-jalan di teras depan, tiba-tiba seorang kurir masuk membawa sebuah paper bag lalu memberikannya kepada Xela.


"Apakah ini dengan nona Xela?"


Kurir itu bertanya sebelum memberikan paper bag itu kepada Xela.


"Iya benar."


"Ini paket dari tuan Dafi untuk nona Xela. Saya permisi." Kurir pamit.


"Terima kasih." Xela sebenarnya kebingungan tetapi ia tetap menerima paper bag itu lalu segera masuk.


"Ini apa ya? kenapa kak Dafi memesannya untukku. Kira-kira tadi udah dibayar belum ya?"Xela bertanya didalam hati sembari kakinya melangkah masuk.


"Nona sudah menerima paketnya?" Suara Dafi mengejutkan Xela sampai Xela mengeluarkan gerakan refleksnya akibat kaget.


"Iya."


"Itu pakaian ganti untuk nona, Bang Al ..." Dafi menghentikan ucapanya dengan menutup mulutnya dengan tangan.


"Eh maksudnya ini pakaian ganti untuk anda karena nanti nona akan menemani bang Al." Dafi memperbaiki ucapannya yang salah. Xela sedikit merasa aneh, namun demi ingin tahu apa yang terjadi dengan Al. Ia rela menunggu sebentar.


"Baiklah. Tapi bagaimana dengan kak Al?"


"Belum siuman. Tapi sepertinya saya membutuhkan nona disini untuk merawatnya, soalnya saya harus keluar, ada kepentingan mendadak. Saya mohon temani bang Al sebentar saja." Dafi memohon dengan mengatakan kedua tangannya. Meskipun Xela merasa agak aneh tetapi ia menyetujui. Pengalamannya selama tinggal disini sebelumnya ia mengetahui kalau Dafi selalu ada di samping Al, tapi tidak untuk hari ini mengapa?


"Baiklah, aku akan menemaninya sampai ia sadar, setelah itu aku pulang." Jawab Xela sebelum akhirnya ia melangkah menuju kamar mandi,kebetulan ia hafal isi rumah Alfarel. Dafi juga sudah pergi meninggalkan rumah.


Di luar sana masih hujan, Xela sebenarnya ragu untuk masuk ke kamar Al tetapi ia sudah di beri kepercayaan untuk menjaga lelaki yang sedang sakit itu.

__ADS_1


Perlahan Xela memutar gagang pintu, matanya tertuju pada Al yang sedang terbaring lemah di atas kasur berukuran besar terlihat nyaman. Tubuh lelaki itu seluruhnya di tutup oleh selimut.


Xela berlutut disisi ranjang menopang kan kedua tangannya di ranjang sembari menatap wajah lelaki itu dengan tatapan sedih, mata bengkaknya sangat perih tambah perih lagi melihat keadaan Alfarel.


"Maafkan aku, akulah penyebabnya yang membuat kak Al sakit. Awalnya kak Al baik-baik saja. Apakah mungkin kak Al alergi terhadap hujan?" batin gadis itu masih memandang wajah pria yang berbaring.


"Air, aku haus." Dalam keadaan mata terpejam mulut Al berkata dengan nada lemas. Xela segera bergerak cepat, ia berlari ke dapur mengambil air hangat, air dingin tidak cocok untuk orang sakit.


Xela dengan telaten memberi minum kepada Al dengan mengangkat kepalanya sedikit kemudian menopangnya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya memberi minum air putih hangat.


"Aku mau air dingin." Alfarel yang sakit tanpa membuka matanya meminta air dingin setelah air hangat masuk ke mulutnya.


"Tapi kak Al sakit tidak boleh minum air dingin." Xela tidak membiarkannya.


"Airnya terlalu panas." Xela pun sadar selera orang sakit dan orang normal jelas berbeda. Akhirnya ia berlari lagi ke dapur hanya untuk mengganti air putih saja.


Xela kembali membawa air putih yang dingin, namun tidak terlalu kemudian memberi minum Alfarel.


"Aku akan mengambil makanan kemudian memberikan obat untukmu." jawab Xela hendak bergegas pergi.


"Jangan, aku tidak bisa sendiri. Kalau aku sendirian seperti aku melihat ruangan ini kosong, tidak ada yang menemaniku." Alfarel menahan tangan Xela.


"Tapi kak Al memerlukan obat." Xela mau Al makan kemudian meminum obat tetapi Al tidak mau.


"Aku takut, nafasku sesak." Al megap-megap sambil memukul dadanya, Xela serba salah ia panik.


"Apa yang harus aku lakukan, kak Dafi juga pergi. Kalau dia ada disini kak Al pasti bisa ke rumah sakit." Xela melihat Al yang masih megap-megap mencari udara. Dalam kepanikannya Xela terpaksa harus merelakan pangkuannya untuk Al bersandar, agar Alfarel bisa bernafas lebih lancar.


Setelah Xela menyadarkan Kepala Al di pangkuannya dengan beralaskan bantal agar lebih tinggi, lama-lama Alfarel bisa bernafas normal kemudian tertidur.


Xela merasa tugasnya sudah selesai ia hendak bangkit namun Alfarel kembali sesak nafas lagi.

__ADS_1


"Bagaimana bisa? sebenarnya apa penyakit yang kak Al alami. Aku harus membiarkannya di pangkuanku berapa lama?" Xela tidak bisa berkutik, menghubungi Dafi juga tidak bisa karena ia tidak tahu smartphone Al di letakkan dimana, mau pergi juga tidak bisa.


"Dingin." Lelaki itu mulai bersungut lagi dan terlihat kedinginan, apa lagi yang harus Xela lakukan.


"Apa aku harus mengambilkan air panas untukmu?"


"Tidak. Selimut ini rasanya tidak cukup, tapi tidak ada lagi selimut lain."


"Aku akan mengambilnya di kamar lain."


"Aku tidak mau selimut bekas. Berbaringlah disini dan peluk aku, mungkin itu cukup."


Tidak salah dengar! Xela disuruh berbaring disana untuk memeluknya.


"Kak Al sakit atau pura-pura sih, permintaannya di luar batas." Xela protes dengan nada marah.


"Aku tidak bisa menahan dingin lagi, mungkin setelah ini aku akan pingsan. Ini terlalu dingin. Huuheee .... Huuheee ... Ini juga salahmu membuatku sakit." Alfarel sangat kedinginan parah, Xela tidak tegaan jadi ia akhirnya menerima permintaan Al untuk memeluk lelaki itu lagian ini juga gara-gara dia.


Perlahan ia naik ke atas ranjang dan berbaring disana.


"Peluk aku. Aku sangat dingin." Xela hanya menuruti saja lalu memeluk lelaki itu, Alfarel dengan tubuh panasnya juga membalas pelukan Xela sampai ia terlelap.


"Mimpi apa aku, kenapa bisa aku berbaring satu ranjang dengan lelaki ini untuk pertama kalinya. Tuhan semoga ini tidak dosa, aku menurutinya karena dia sedang sakit. Bukankah aku sudah melakukan kebaikan?." Batin Xela bermaksud menenangkan dirinya sendiri, ia takut terjadi apa-apa dengan lelaki itu jika permintaannya tidak di turuti.


Xela menatap wajah Al sampai akhirnya ia menyadari hujan sudah reda, tidak ada lagi suara berisik di luar sana dan Alfarel pun sudah tidur pulas, saat ia meletakkan telapak tangannya di dahinya, panasnya sudah tidak terasa lagi. Xela yakin lelaki itu sudah sembuh.


"Yes akhirnya kak Al sembuh. Aku akan pergi sekarang." Xela membatin senang, Ia pun hendak beranjak namun pelukan erat membuatnya kaget.


"Aku masih kedinginan, temani aku sampai Dafi datang." Alfarel merasakan pergerakan Xela langsung menariknya kembali dalam pelukannya.


Xela menabahkan hatinya untuk bertahan disana meskipun banyak pertanyaan yang muncul di benaknya bahkan pikiran pikiran buruk karena takut.

__ADS_1


__ADS_2