
Dalam lorong yang panjang, Xela mendapati dirinya berjalan sendirian. Tidak ada siapapun di sekitarnya hanya ada tembok di sisi kiri dan kanan, keadaan gelap membuatnya tidak bisa melihat apa-apa. Tetapi tiba-tiba suara tawa menyeramkan membuatnya ketakutan setengah mati, sosok bertopeng berlumurah darah muncul di depan matanya semakin ia menangis semakin banyak sosok bertopeng yang mengelilinginya, Xela tidak tahu siapa mereka tetapi mereka jelas menyeramkan. Xela berteriak, menangis karena ketakutan ia tidak bisa memejamkan matanya.
Ia ketakutan dalam waktu yang lama sampai suatu suara berbisik di telinganya
"Xela bangun, ini hanya mimpi dengar suaraku."
Xela akhirnya bisa menengadahkan kepalanya ke atas menghindari sosok menyeramkan di setiap sisi kemudian ia terbangun. Gadis itu merasakan tubuhnya bersandar di dada seseorang, lalu ia menengadah melihat wajah lelaki yang ia kenal, ia masih ketakutan sekaligus bersyukur dalam ketakutannya suara lelaki itu membuatnya terbangun, itulah sebabnya ia memeluk lelaki itu.
"Mimpi buruk?" tanya Al sembari memeluk gadis itu, Xela hanya bisa mengangguk di samping itu ia merasakan kepalanya mulai sakit, ia kedinginan lalu menarik selimut tebal agar menutupi tubuhnya masih dalam posisi bersandar di dada Alfarel. Lelaki itu tidak keberatan mengetahui keadaannya Xela sedang ketakutan. Terus bertahan bersandar di dada Alfarel sampai akhirnya Xela terlelap lagi. Al memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil air kompres untuk Xela.
"Mimpi apa yang membuatmu sampai demam. Apakah ini sering terjadi?" gumam Al ketika lelaki itu sedang memperbaiki selimut untuk Xela sebelum ia berlalu pergi dan beristirahat ia juga mengecup kening gadis itu dulu.
...****************...
TOK TOK TOK
Masih pagi terdengar ketukan pintu kamar Al, si pemilik kamar pun segera bangun karena pintunya di ketuk.
Dengan muka kusutnya Al terbangun mengambil smartphone si atas nakas. Matanya terbelalak karena terkejut ini sudah jam delapan pagi.
Ia pun membuka pintu terlebih dahulu melihat dua manusia disana sedang menantinya. Dafi dan Mira sepagi ini sudah menunggunya di depan pintu.
"Astaga kenapa kalian ada disini?" Alfarel mengusap matanya, lalu Dafi dengan jari telunjuknya menunjuk Mira di sebelahnya, Mira juga dengan semangat menyapanya.
"Al aku kangen jadi aku sepagi ini mengunjungimu." Mira memeluk Al tidak peduli lelaki yang di peluknya belum mandi maupun cuci muka.
"Udah Mir, gue belum mandi." Al merasa risih lalu memberi isyarat kepada Dafi agar mengalihkan perhatian Mira dengan segera Dafi mendapatkan ide.
"Nona Mira, bagaimana kalau nona Mira membuat minuman untuk Bang Al. Biarkan bang Al." Mira pun melepas pelukannya.
"Wah ide bagus, aku akan membuat min-"
__ADS_1
PRAK
Alfarel membanting pintu sehingga ucapan Mira terpotong karena kaget.
"Yah Al kasar banget sih." Mira cemberut melihat pintu kamar Al yang sudah tertutup rapat.
"Bang Al malu non, kan belum mandi tapi udah di peluk aja sama cewek." ucap Dafi sekedar menyenangkan hati Mira dan benar saja, Mira terlihat salah tingkah.
"Sialan, kenapa sepagi ini perempuan itu kemari. Seperti tidak ada kegiatan lain saja." Al mengumpat sambil melangkah ke kamar mandi, siapa yang tidak kesal masih pagi di kejutkan dengan kedatangan orang yang tak di duga tepatnya tak di inginkan, kalau di datangi orang yang di sukai boleh saja senang, ini malah di datangi mantan.
Usai mandi Al pergi ke dapur melihat Mira ada disana sedang berdiri di depan jendela yang mengarahk ke belakang rumah.
"Mira." sapa Al sembari berjalan ke arah perempuan itu.
"Hai, ini aku sudah membuat kopi panas kesukaanmu." Mira menyodorkan segelas kopi panas dan Al menyambutnya disertai senyuman paksa.
"Terima kasih." Al berterima kasih saja sudah membuat Mira klelek klepek lagi, perempuan itu nampaknya sangat senang.
Setibanya di dapur, ia melihat Mira dan Alfarel sedang asyik berbincang sambil melihat pemandangan di luar sana.
Awalnya mereka tidak menyadari kehadiran Xela, sehingga gadis itu mengurungkan niatnya mengambil air putih.
"Yah sepertinya aku mengganggu. Aku akan kembali." Xela berbalik arah, ia bermaksud tidak mau mengganggu kedua manusia itu, ada perasaan tidak senang dihatinya. Namun tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas di atas meja sehingga gelas tersebut jatuh dan pecah tepat di dekat kakinya. Akibat kecerobohannya kakinya terluka oleh pecahan gelas itu. Kedua manusia yang sedang tertawa dengan cerita mereka teralihkan oleh suara pecahan gelas.
Alfarel menoleh, terkejut melihat Xela yang sedang jongkok untuk membersihkan pecahan gelas. Alfarel kuatir segera menghentikan pergerakan Xela, ia tahu gadis itu sedang demam. Alfarel akhirnya melihat kaki Xela yang terluka.
"Berhenti, jangan sentuh serpihan gelas itu." Al menahan tangan Xela lalu membopong Xela meninggalkan dapur itu dan juga meninggalkan Mira yang masih menganga karena terkejut.
"Aku baik-baik saja, turunkan aku!" Xela terkejut menerima perlakuan Al.
"Baik-baik saja lalu kakimu?"
__ADS_1
Xela melihat darah kakinya yang keluar sangar banyak.
"Aku bisa berjalan sendiri, tidak perlu menggendongku seperti ini." Xela hendak turun untuk berjalan sendiri.
"Ini sedang naik tangga."
"Al." suara Mira membuat Al menoleh ke belakang begitu juga dengan Xela.
"Kak Mira? kenapa dia tidak marah sama sekali kak Al membawaku seperti ini. Malah aku yang merasa tidak nyaman." Batin Xela.
Mira berjalan menyusul mereka dari belakang.
"Diamlah! dan bersikaplah kita sedang baik-baik saja!" titah Al sedikit berbisik.
Sampai Al mengobati luka kaki Xela di balkon atas, Mira juga ada di sana melihat dengan muka yang suram.
"Ternyata benar, dia mirip sekali dengan Alika. Tetapi kalau di bandingkan, aku yang lebih cantik darinya. Kenapa Al malah menyukainya daripada Aku. Tubuh pendek sepertinya mana cocok bersanding dengan Al yang lebih tinggi. Al sebenarnya cocok untukku." Batin Mira sembari menatap Xela penuh kebencian.
"Sayang lain kali hati-hati, kalau butuh apa-apa panggil aja." Alfarel mengatakan sayang pada Xela, apa maksudnya?
Xela sampai melirik ke arah Mira yang hanya
diam.
"Kenapa kak Mira hanya diam? seharusnya dia cemburu." Xela melirik Al lagi, lelaki itu seakan memberi isyarat membuat Xela mengerti, ia harus berpura-pura menjadi pacarnya.
"Hm iya." jawab Xela sembari tersenyum, tetapi ketika melihat Mira raut wajahnya berubah.
"Kamu ngapain tadi sampai berakhir seperti ini?" Al bertanya sambil masih membalut luka kaki Xela.
"Aku hanya ingin minum."
__ADS_1
"Baiklah, Mir tolong ambilkan minuman untuk pacarku!"