
Xela yang masih membenamkan wajahnya di dada Alfarel hendak bangkit ketika mendengar bunyi pintu di bukakan namun Al tetap menyuruhnya diam.
“Jangan bergerak. Biarlah seperti ini.” Alfarel berbisik di telinga Xela. Xela tidak tahu siapa yang datang, tetapi ia tetap nurut saja dengan permintaan Al untuk bertahan si posisinya sekaligus menyembunyikan wajahnya di sana agar tidak terlihat memalukan dimata orang yang memergoki mereka.
Beruntung mereka tidak senang berciuman, kalau saja pintu terbuka saat mereka sedang berciuman itu adalah waktu yang kurang tepat dan sial.
“Hmm ...” Ternyata Dafi membawa segelas kopi untuk Alfarel di ruang kerjanya, ia tidak sengaja memergoki mereka, Xela yang sedang berbaring di pangkuan Alfarel. Dafi sudah terbiasa datang ke ruang kerja Alfarel tanpa mengetuk pintu, jadi ia merasa tidak bersalah masuk saja dalam keadaan seperti ini.
“Daf mulai hari ini, Lo ke ruangan gue ketuk dulu pintunya sebelum masuk.” Al menetapkan perubahan kebiasaan untuk Dafi sehingga asisten sekaligus sahabatnya itu tersenyum nakal, sebentar lagi ia melontarkan kata-kata nakal.
“Iya bos, tahu kok keadaannya kalau udah nggak jomblo. Setidaknya ...” Dafi menyatukan ujung jari telunjuknya mengejek Al sebelum akhirnya ia bergegas pergi lalu menutup pintu.
Xela hanya bisa mendengar apa yang di ucapkan Dafi tapi belum tentu mengerti karena tidak melihat sendiri Dafi mengejek Alfarel dan juga dirinya. Al menghela nafas berusaha sabar, biasanya jika Dafi menggodanya siap-siap saja bolpoin, bas bunga, bahkan kalender di meja kerjanya melayang ke wajah Dafi.
Xela mengintip raut wajah Al yang datar dan tegas tetapi ia tetap di posisi yang sama, tidak ada lagi amarah di hatinya. Secepat itu amarah Xela musnah berkat trik kiss dari Alfarel.
DRRTTT
Smartphone Alfarel berdering, tetapi dengan cepat lelaki itu menekan tombol hijau mengangkat telepon dari sahabatnya Ario.
“Hallo Yo, tumben.” Alfarel langsung saja melontarkan kalimat singkatnya kepada Ario yang meneleponnya, sementara Xela berbaring di pangkuannya sambil memejamkan mata, namun kenyataannya diam-diam menyimak Al yang sedang menelepon.
(“Gue ajak lo nonton di bioskop jam sembilan malam ini.”) jawab Ario, sahabatnya tanpa basa-basi, Xela yang bisa mendengar suara Ario dengan jelas dengan cepat membuka matanya menatap Al.
“Oh, berdua?” tanya Al lalu beralih pandangan ke pangkuannya, sembari tangan kanannya mengelus rambut panjang Xela kekasihnya, yang berbaring di pangkuannya.
(“Gue udah bawa dua cewe. Tapi kalau lo nggak mau, dua-duanya buat gue.”) Xela jelas mendengar semuanya, ia menatap Al dengan menyipitkan matanya setelah mendengar ucapan Ario di telepon mengatakan membawa dua cewek, berarti kalau Al pergi berdua dengan Ario, mereka akan di temani masing-masing satu cewe.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak terima.” Xela menyebikkan bibirnya seakan menyimpan dendam.
“Oh, buat lo aja deh Yo. Kalau nanti buat gue ntar ada yang marah.” Jawab Al sembari menebarkan senyumnya, ia tahu Xela mendengar semuanya dan gadisnya cemburu.
(“Hmm ... diam-diam lo udah punya pacar Al. Bawa aja ntar nonton me bioskop. Nonton film action hollywood terbaru, keren.abis!”) Ario berbicara dengan nada semangat.
“Oh iya kalau gue sendirian. Cewe satunya boleh buat gue ntar.” Ucap Alfarel sengaja manasin Xela sampai pacarnya benar-benar cemburu.
"Apa! Dia mau sama cewe lain. Oke, liat aja.” Batin Xela terpancing oleh bualan Alfarel.
Xela berusaha bangkit dan melawan pencegahan dari Al, sampai akhirnya.
BRAKK
“Auuu.” Kursi putar yang ditempati kedua pasangan itu tidak seimbang karena kemarahan Xela dan kesalahan keduanya. Akhirnya mereka berdua jatuh di lantai dengan posisi Xela berada di atas Al.
(“Hayo, lagi pada ngapain. Suara cewe lu itu Al kentara. Makanya jangan main pas lagi teleponan sama teman.”) Ario mengeluarkan kalimat nakalnya akibat salah paham dari seberang sana.
“Sembarangan lo!” Jawab Al.
Xela tidak mau berlama-lama di atas Alfarel, ia kembali marah karena omongan Alfarel tadi. Sialnya sebelum ia lolos, Alfarel tidak membiarkannya pergi. Alfarel tetap ingin kepala Xela ada di atas dadanya agar gadis itu bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Kenapa melarangku pergi. Sialan dia hanya ingin memanasiku.” Xela membatin kemudian ia memukul dada Alfarel.
“Uhuk uhuk ...”
(“Tersedak apaan lu Al, tolong ya jadi temen jangan dajal. Lagi teleponan ya teleponan jangan sambil yang lain-lain.”) Xela terbelalak mendengarnya, sepertinya orang yang menelepon pacarnya salah paham. Al meletakkan jari telunjuknya melintang bibirnya memberi isyarat kepada Xela agar diam
__ADS_1
"Sialan, isi kepala lelaki memang mesum. Bagaimana bisa kak Al berteman dengan orang seperti itu. Jangan-jangan sifat kak Al juga sama seperti temannya itu.” Xela berprasangka dalam hati merasa ngeri.
“Tenggorokan gue gatal.” Jawab Al.
(“Tapi gak masuk akal pren. Tadi gue denger suara aneh, hentakan kecil gitu.”) Ario semakin salah paham dan obrolannya semakin miring.
“Semua laki-laki Sialan! Otak mesum. Kami disini tidak melakukan apapun.” Xela tidak tahan mendengar perkataan tidak benar itu, jadi ia berteriak ke arah smartphone Alfarel. Xela ngamuk sampai menggertakan giginya.
“Ario sorry, pacar gue marah. Lo udah banyak salah paham, kita nggak ngapa-ngapain. Tar gue hubungi lagi.” Alfarel mematikan teleponnya secara sepihak siap-siap bicara kepada kekasihnya.
Xela yang masih meletakkan dagunya di dada Al dan mereka masih dalam keadaan berbaring di lantai, namun berbeda posisi. Ak terlentang di lantai dan Xela tengkurap di lantai dengan kepala menopang di dada Al. Xela sudah menunjukkan muka masamnya sedari tadi.
“Kak Al Kenapa berteman sama orang seperti itu. Omongannya saja terdengar vulgar apalagi orangnya.” Xela benar-benar marah, ia tidak suka.
Alfarel selalu menghela nafas saat akan berbicara. Bagaimanapun Xela marah, ia tetap tenang menghadapinya.
“Namanya juga sifat seseorang. Kamu juga ngapain nggak bisa diam.” Al terdengar menyalahkannya sehingga gadis itu berusaha merebut smartphone Al hendak melemparnya.
“Kak Al juga kenapa tadi mau pergi sama cewek itu. Aku yakin kak Al sama aja seperti teman Kak Al yang tadi.” Xela berusaha melepaskan kepalanya lagi yang sedang dikunci oleh lengan Al.
“Sama apanya sayang. Beda, manusia itu tetap berbeda.” Jawab Al.
“Beda sih iya, tapi nanti terpengaruh.” Xela tidak bisa menerima.
“Kami sudah lama kenal. Buktinya?”
Masuk akal kalau memang Al mengenal Ario sudah lama sekali buktinya sampai sekarang tidak ada apa pun yang berpengaruh diantara mereka.
__ADS_1
“Siapa tau kak Al punya sifat terpendam.” Xela meninggalkan ruangan itu, untung Al tidak berupaya mencegahnya lagi.