
Alfarel kembali membawa gelas di tangannya terkejut dengan pemandangan yang ia lihat, Xela masih saja muntah sehingga membuatnya sangat kuatir. Alfarel segera bergerak cepat membopong Xela ke kamar mandi.
“Astaga kamu tidak bisa minum anggur merah jadinya berakhir seperti ini.” Gumam Al, ia tanpa jijik membantu Xela bahkan mencium aroma yang tidak enak itu.
“Huek ...” Xela sampai mengotori hodienya yang baru saja kemarin mereka membelinya bersama. Alfarel sangat direpotkan di waktu subuh begini harus mengurusnya, beruntung pria itu tulus.
Alfarel membersihkan dan menggantikan seprai dengan yang baru, dan juga terpaksa mengganti baju Xela yang sedang mabuk.
“Dadaku sakit.” Xela bersungut merengek sambil memukul dadanya.
“Kamu tidak makan kemarin?” Tanya Al, karena kemarin ia membiarkan Xela agar makan sendiri, Xela benar-benar mengangguk membuat Alfarel kesal, tetapi tetap ia tahan.
“Anak ini! Sepertinya saya harus mengawasimu untuk hal makan.” Alfarel segera mengambil smartphonenya untuk memesan makanan secara online.
Xela berbaring di ranjang merasakan dada yang sangat sakit, beginilah akibat mengabaikan waktu makan.
“Sudah tidak pusing lagi?” Alfarel merengkuh Xela dalam pelukannya, begitu tidak tega melihat kekasihnya menangis tanpa merespon pertanyaannya.
“Kak Al Kepalaku masih pusing tambah sakit lagi.” Xela menangis di pelukan Alfarel.
Alfarel tetap tenang sembari mengelus pucuk kepala Xela, ia masih menunggu pesanannya datang.
TOK TOK TOK
“Masuk!” Ucap Al, lalu muncullah Dafi di balik pintu mengantarkan makanan yang sudah di taruh didalam piring.
“Cepat! Jangan lama-lama, jalan seperti siput saja.” Protes Al kepada Dafi, padahal Dafi berusaha membuat langkahnya pelan agar tidak menimbulkan suara, akhirnya ia harus setengah berlari mengantar makanan.
“Maaf bang Al. Nona Xela kenapa?” tanya Dafi setelah piring beralih ke tangan Alfarel.
“Keluar sekarang! Tugas lo udah selesai.” Alfarel tidak menggubris pertanyaan Dafi dan lelaki itu menurut saja tidak mau mendapat masalah.
“Makan ya, perutmu kosong. Itulah yang membuatmu mabuk parah.” Xela masih dalam keadaan bersandar di dada Alfarel dengan wajah lesu.
“Nggak mau, nggak selera.” Xela menolak, namun Al tetap memaksanya agar makan. Alfarel menyuapi Xela meskipun sangat sulit gadis itu selalu menghindari suapannya.
“Nggak mau!” tolaknya sambil terus menghindar.
“Kalau tidak mau, kamu sendirian saja disini saya akan pergi!” Alfarel melepaskan pelukan Xela hendak pergi.
__ADS_1
“Nggak, jangan!” Xela menarik bajunya tidak membiarkannya pergi.
“Makanya kamu harus makan.”
“Hm.”
Akhirnya gadis mabuk itu menurut juga di suruh makan, suapan demi suapan berhasil masuk ke dalam mulutnya meskipun Xela sangat lama mengunyah. Alfarel tetap sabar disisinya sampai makanannya habis.
“Huam.” Xela akhirnya merasa ngantuk setelah beberapa saat menyelesaikan makannya. Alfarel membaringkannya agar Xela benar-benar tidur. Al juga masih menemaninya berbaring di sisinya, jujur lelaki itu masih terlihat kuatir jika meninggalkan kekasihnya sendirian.
“Cukup hari ini saja terjadi, besok jangan lagi." Gumam Al lalu membawa Xela dalam pelukannya, kepala Xela menyusup ke bawah dagunya mencari kenyamanan disana dan Al tidak keberatan sama sekali sampai ikut tidur bersama Xela. OMG mereka tidur satu ranjang.
...****************...
DRRTTT
Matahari sudah naik ke langit sangat tinggi namun sepasang kekasih belum juga bangun sampai dering telepon membangunkannya. Alfarel meraih smartphone yang berdering di atas nakas sepagi ini, seingatnya ia tidak pernah memasang alarm. Tapi mungkin saja ada seseorang yang meneleponnya. Benar saja saat Alfarel membuka matanya dengan malas, ia melihat nama Ario tertera di layar Smartphonenya.
“Hallo. Masih pagi Yo, ada apa?” Al membuka pembicaraan.
(“Mau ajak lo beli perlengkapan, kita secepatnya camping.”)
“Gue keknya belum bisa, cewe gue lagi kurang sehat.” Jawab Al menolak ajakan sahabatnya.
Kata Ario didalam telepon sebelum telepon diakhiri.
“Iya iya,"
TUT TUT TUT
Alfarel kembali memandang Xela yang masih tidur pulas dalam pelukannya, Alfarel tersenyum mengelus pipi manis itu lalu mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.
“Manis, kamu memang sangat manis.” Alfarel kemudian mendekatkan wajahnya lagi dengan Xela menautkan bibir mereka, morning kiss.
Akibat ciuman itu Xela terbangun dengan terkejut mendapati dirinya di cium Alfarel lalu segera melepaskan diri.
“Kak Al Kenapa disini?” Xela yang sudah pulih total lupa akan kejadian tadi subuh. Alfarel sebelumnya memejamkan matanya sekarang perlahan membuka mata diiringi senyuman.
“Kamu lupa apa yang terjadi semalam?”
__ADS_1
Xela akhirnya ingat, ia akan malu parah di depan Al, segera menarik selimut untuk bersembunyi dibawah sana. Ia kira tidak akan mendapat tatapan dari Alfarel lagi nyatanya Al juga ikut masuk ke dalam selimut.
“Kamu tentu ingat? Jadi itulah jawaban saya ada disini.” Jawab Al.
“Tapi kak Al menciumku.”
“Memangnya salah?”
“Salah.”
Alfarel terkekeh kemudian ia membuka layar Smartphonenya menunjukkan rekaman video kepada Xela. Xela tentunya terkejut melihat isinya.
"Apa separah itu? Aku blak-blakan mengatakan kak Al ganteng dan juga minta di cium?” Batin Xela setelah melihat isi video tersebut, ia sangat malu sampai menutup matanya.
“Kak Al Kenapa merekamnya?” Xela masih menutup kedua matanya karena malu.
“Untuk momen romantis.” Jawab Al singkat tetapi Xela menggelengkan kepalanya tidak setuju.
“Sisi terpendam mu sudah saya ketahui jadi kamu tidak bisa berdusta.” Alfarel kembali menciumi Xela dengan lembut dan selalu berhasil membuat Xela terbawa.
“Jangan telat makan lagi lain kali tidak baik untuk kesehatan.” Alfarel memperingati setelah mengakhiri ciuman mereka.
“Maaf sepertinya aku sangat merepotkan kak Al.” Xela menundukkan kepalanya merasa bersalah.
“Tidak, sama sekali tidak. Tapi saya ingin kejadiannya cukup hari ini, saya tidak mau melihat kamu sakit.” Sembari mengelus pucuk kepala Xela.
“Iya sekarang udah sembuh kok, makasih kak Al.” Xela menunjukkan senyum manisnya.
“Pake sayang dong!”
“Terima kasih sayang.” Xela memperbaiki ucapannya sesuai yang Alfarel inginkan membuat lelaki itu tersenyum.
“Ario mengajak kita kamping di kota K, di alam bebas, kalau kamu sehat kamu akan ikut tapi kalau kamu belum sehat ...”
“Aku ikut, ikut.” Jawab Xela segera bahkan Alfarel belum selesai ngomong.
” Kalau aku nggak ikut pasti Ario bawa cewek untuk kak Al, ini tidak boleh.” ternyata pikiran itu yang selalu membuat Xela kuatir, ia tidak mau Al dengan perempuan lain.
“Bersemangat sekali.” Tutur Alfarel.
__ADS_1
“Aku gak mau kak Al pergi sendiri nanti kak Al selingkuh. “ timpal Xela.
“Siapa yang mau pergi sendiri, saya tidak akan pergi kalau kamu masih sakit.” Jawab Alfarel sambil terkekeh, Xela malu sendiri ia terlalu overthinking.