
Alfarel tahu Xela tidak menyukai Ario, ia tidak mungkin memarahi Xela agar gadis itu menurutinya. Harus tahu menghargai seorang perempuan agar tidak membuatnya terluka.
“Lo pamer kemesraan mulu Al.” Ario menegur Alfarel yang membuat matanya seakan terasa panas oleh kemesraan dua insan itu.
“Yo keknya lain kali aja ngobrolnya. Gue gak mau cewek gue denger.” Xela merasa Al selalu menyembunyikan sesuatu darinya.
“Kak Al, aku takut Ario tawarin kak Al cewe lain.” Bisikan Xela tidak sengaja di dengar oleh Ario.
"Possesif, sepertinya mereka berdua sangat cocok.” Batin Ario lalu menepuk pundak Alfarel.
“Gak apa-apa. Biarin aja cewek lo ikut. Percaya sama gue dia akan bosan sendiri ntar.” Bisik Ario di telinga sahabatnya. Alfarel berada di posisi dua bisikan, tetapi tetap ia mengangguk mendengar apa yang di katakan sahabatnya.
“Sayang, kita mau bicara. Kamu boleh ikut.” Betapa senangnya hati Xela, akhirnya ia bisa tetap berada di sisi kekasihnya.
“Yes,” Xela sangat senang sampai menunjukkan senyum sinisnya kepada Ario seperti telah memenangkan Alfarel dari tangan Ario.
Di depan api unggun yang masih menyala dengan besar, Xela bersandar di bahu Alfarel mendengar percakapan keduanya.
“Lo gak niat buat kuliah di luar negeri Al?” tanya Ario membuat Xela terbelalak.
“Niat tapi masih banyak hal yang harus gue urus di kota R.”
"Jadi kak Al ada niat buat kuliah di luar negeri.” gumam Xela dalam hati terus menyimak.
“Gue mau pindah bulan depan kuliah di luar negeri lanjut S2, S1 belum cukup rasanya. Rencananya kalau lo mau kita kuliah bareng di luar negeri.” Alfarel menatap sahabatnya dengan serius. Sahabat yang ia kenal sejak kecil, mereka tidak pernah berpisah jauh sebelumnya.
“Lo serius?” Ario menepuk pundak Alfarel, sepertinya mereka sangat saling menyayangi, Xela menyesal telah mengganggu pembicaraan keduanya.
“Kak Al aku duluan ke dalam tenda. Aku mengantuk.”
“Iya sayang.” Alfarel mengecup kening Xela sebelum kekasihnya itu pergi, mereka semakin romantis.
"Aku terlalu mengganggu mereka. Maafkan aku kak Al karna aku ingin tahu apa yang kalian bicarakan sekarang aku jadi sesak mengetahui apa yang kalian bicarakan. Kak Al punya niat buat kuliah di luar negeri? Apakah suatu hari Kak Al akan keluar negeri?” Batin Xela merebahkan badan lelahnya dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
“Pacar Lo udah pergi aja. Gue kira nemenin Lo sampai selesai.”
__ADS_1
“Biarin, dia butuh istirahat.”
“Oh iya cewek lo possesif sama kek lo.” Kritik Ario.
“Manja, sejak kita pacaran Xela manja. Tapi nggak ada yang buat gue nggak nyaman.” Tutur Al.
“Itu berarti dia nyaman sama Lo Al. Lo harus jaga dia." Ario terkekeh membuat Alfarel menoleh.
...****************...
Xela yang terlelap terbangun oleh tangan yang melingkar di pinggangnya, Xela menggeliat lalu membalikkan badannya, api unggun yang masih menyala di luar membuat keadaan tidak begitu gelap dan Xela dapat melihat wajah Alfarel.
“Tidur!” Alfarel memintanya untuk tidur, sebenarnya Xela merasa agak aneh karena mereka tidur bersama. Alfarel semakin mendekapnya.
“Kak Al sebenarnya mau kuliah di luar negeri ya?” Xela mulai bertanya karena tadi sempat mendengar pembicaraan Al dan sahabatnya.
“Mau tapi belum saatnya.” Jawab Alfarel sembari mengelus kepala Xela dengan lembut.
“Apa, jadi aku akan di tinggalin.” Xela menunjukkan muka cengengnya membuat Alfarel semakin gemas.
“Kalau aku gak bisa ikut kak Al jangan cari cewek baru disana.” Alfarel segera membuka matanya.
“Saya tetap mau kamu ikut.” Jawab Al, lelaki itu sekarang kerap mencium Kening Xela, sepertinya sudah menjadi kebiasannya.
“Kenapa nggak cewek baru aja hehe?” Xela menggoda Al dengan pertanyaan seperti itu.
“Kalau kamu membolehkan Baiklah saya akan punya cewek lain lagi.” Alfarel hanya bermaksud memgerjainya saja.
“Tapi kalau kak Al punya cewek baru aku udah nggak jadi pacar kak Al lagi. Aku akan pergi kan?”
“Sudahlah sayang lebih baik kita tidur, besok piknik.” Dinginnya malam membuat keduanya membutuhkan satu sama lain, saling mendekap untuk melawan hawa dingin, Xela agak kecewa ucapan tidak penting dari mulutnya tidak mendapat jawaban.
KEESOKAN HARINYA
Semua orang bangun subuh, apa yang mereka lakukan,?
__ADS_1
Semuanya memasak air panas dan membuat minuman masing-masing. Yang mempunyai pasangan duduk bersama pasangannya sendiri.
Cika merasa sangat panas hatinya melihat Xela di dalam rangkulan Alfarel, lelaki yang ia idamkan sejak dulu sekarang bersama perempuan lain. Cika mengepalkan tangannya.
_"Xela, cewek kampungan. Lo mendapatkan semuanya, Alfarel berhasil di tangan Lo. Padahal gue yang mencintai Al dari dulu tapi masih belum bisa memenangkannya hatinya.”_ Cika membatin terluka karena melihat kemesraan keduanya.
“Al, Xel, gue minta maaf sama kalian berdua tentang semalam.” Rey dan Ghea mendatangi Alfarel dan Xela untuk meminta maaf.
“Minta maaf sama cewek gue.” Alfarel tidak menoleh sedikitpun untuk melihat lawan bicaranya.
“Xela gue minta maaf.” Ucap Rey.
“Iya nggak masalah.” Xela memaafkan tetapi Ghea diam saja sampai Rey mendesaknya.
“Kamu harus minta maaf. Jelas-jelas ini salah kamu.” Terpaksa Ghea mengulurkan tangannya meminta maaf meskipun terlihat jelas tidak ikhlas.
“Maaf.” Xela mengangguk saja. Setelah itu mereka pergi. Untuk Alfarel yang tetap diam dan memasang raut muka dingin mengundang perhatian Xela. Xela tahu Alfarel sulit memaafkan.
“Kak Al mereka sudah meminta maaf jadi kak Al harus senang dong.”
“Ya.” Jawabnya singkat.
Tidak terasa pagi hari menyambut, burung berkicau dimana-mana, hari ini mereka melakukan eksplorasi ke hutan lebat nan indah itu. Xela merentangkan tangannya menikmati sejuknya udara pegunungan, tetes embun tidak menjadi masalah meskipun membasahi pakaian mereka.
“Kak Al kalau campingnya kaya gini, rasanya pengen lama-lama. “ Alfarel berjalan mengikuti dari belakang tidak terlibat sedang menikmati alam tetapi sepertinya ia sedang berpikir bahkan tidak menjawab ucapan Xela.
“Kak Al kok nggak jawab aku sih?” Xela kesal lalu menoleh ke belakang meraih lengan Alfarel.
“Kenapa kamu melakukan itu?” terlihat Rey sedang mempertanyakan masalah semalam kepada Ghea, padahal seharusnya sekarang mereka menikmati jalan-jalan di hutan lebat itu tetapi terciptanya masalah akibat ulah Ghea semalam membuat Rey menjadi malu, ia telah mengatai Xela kurang ajar di depan Alfarel padahal Xela tidak salah.
“Jawab Ghea, aku pacar kamu yang belain kamu semalam tapi aku jadi malu di depan semua orang.” Sedikit dengan nada membentuk sehingga Ghea menundukkan kepalanya.
“Aku, aku-" Ghea benar-benar tidak bisa menjawab tetapi Rey menatapnya menuntut kalimat lanjutan.
“Aku tidak suka dengannya, dia sudah merebut kebahagiaanku. Dia sudah merebut Alfarel.” Rey baru mengetahui dari jawaban Ghea ternyata pacarnya mencintai orang lain.
__ADS_1