POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Di Interogasi


__ADS_3

Xela dibawa ke sebuah tempat wisata 'Cinta Alam'


yang merupakan kawasan perbukitan yang indah, segala pepohonan disana sangat terawat. Karena merupakan kawasan wisata tentunya tidak jarang mereka menemukan beberapa rumah toko yang menjual makanan maupun benda khas tempat tersebut. Ditengah perjalanan, tepatnya dijalan setapak Landry berhenti, Xela pun otomatis ikut berhenti.


"Xel kamu harus tutup mata dulu!" Landry memegang sebuah penutup mata dengan senyuman manis yang meneruskan. "Kenapa harus tutup mata, aku sudah melihat keindahan  alam ciptaan Tuhan ini, percuma saja."


" Ada sesuatu yang mau aku tunjukkan. Lagipula bukankah kamu belum pernah kesini sebelumnya, kamu belum tahu banyak tentang tempat ini." Ucap Landry tanpa aba-aba seenaknya saja menutup mata Xela. Seperti anak baik yang menuruti perintah orangtua, Xela membiarkan Landry menutup matanya dan membawanya melangkah entah kemana. Landry sangat hati-hati menuntun langkahnya.


"Lan kita akan kemana? Masih jauh ya?" Merasa sudah lama berjalan Xela bertanya saat masih dalam tuntunan Landry, matanya masih ditutupi kain berwarna silver. " Sebentar lagi sampai kamu bebas berteriak disana nanti." Ucap Landry, Xela nampaknya semakin penasaran, tempat apakah yang Landry katakan itu, bebas berteriak?


"Memangnya kita akan kemana, apakah kita akan ke kawasan hewan buas sehingga aku bebas berteriak?" Xela terdengar panik ketika ia berpikir yang belum pasti, Landry  terkekeh mendengar pertanyaan gadis yang sudah menjadi kekasih sungguhan nya itu, cukup terdengar lucu dan konyol. Mana mungkin perlakuan spesial seperti itu berakhir meresahkan dengan membawanya ke kawasan hewan liar.


"Kau lucu sekali Xela. Tujuan kita bukan kesana, Memangnya aku membawamu kemari untuk memberi makan gratis kepada hewan buas, bukanlah lebih baik kita yang makan gratis wkwkwk ... Tenang aja Xel aku tidak membawa mu ke tempat yang menakutkan." Xela merasa malu ketika mendengar Landry sedikit tertawa, mungkin ini karena kekonyolannya. Beberapa menit kemudian Xela merasakan kakinya menginjak papan yang memiliki bersela seperti sebuah jembatan.


" Ini seperti jembatan, apakah kita di sungai, kenapa tidak ada air yang mengalir?" Tanya Xela heran karena tidak mendengar riakan air yang mengalir.


"Ini bukan jembatan sungai." Jawab Landry yang semakin membuat Xela penasaran.

__ADS_1


"Ya udah bersiaplah tuan putri, kamu akan melihat keindahan ciptaan Tuhan yang membuat mu bahagia hari ini." Landry perlahan membuka ikatan kain silver yang menutup mata Xela dengan hati-hati.


" Wah ..."


Xela begitu takjub dengan pemandangan indah yang dilihatnya, hamparan danau yang luas di hadapannya berwarna biru langit begitu indah, rasanya saat ini jiwa Xela sedang melayang dengan pemandangan tersebut.


" Gimana Xel, kamu suka kan?" Xela mengangguk dengan semangat, ia tidak bisa berkata apa-apa terlalu terpesona dengan keindahan danau.


"Ayo ke sana, kamu bisa dengan puas melihatnya dari sana." Tunjuk Landry pada sebuah perahu berwarna hijau tidak jauh keberadaannya dari mereka. Xela menuruti saja dan mengikuti langkah Landry yang membawanya menuju perahu kayu. Karena danau yang tenang mendayungpun tidak dilakukan secara beruturut-turut. Landry begitu bahagia melihat kekasihnya juga bahagia saat ini, selalu tersenyum ke segala arah menikmati pemandangan indah. "Landry. Terima kasih banyak ya udah bawa aku kesini. Aku sangat bahagia bisa melihat perbukitan yang jauh disana. Bentuknya sangat indah."


gadis itu berdecak kagum tiada henti.


" Buka aja Xel. Semoga kamu suka." Tutur Landry dengan lembut sehingga keberadaan dan suasana mereka terkesan romantis.   Xela membuka kotak tersebut dengan terkejut, ia tidak menyangka isinya ternyata smartphone realme 5A yang sedang populer kala itu. Xela terlihat murung, bukannya senang dan berterima kasih. Landry merasa kuatir kalau Xela tidak menyukai hadiah darinya.


" Kenapa Xela apa kamu tidak suka?" "Nggak. Aku suka tapi ku rasa ini berlebihan Lan." Ucap Xela merasa tidak enak, pemberian Landry menurutnya sangat berlebihan. "Lho Memangnya berlebihan dimana? Aku tahu Xel saat ini kamu sangat membutuhkan hp untuk memberi kabar kepada keluargamu. Aku tahu saat ini kamu membutuhkannya, bisa kah kamu menerima ini sebagai rasa sayang ku pada mu Xel?"


Xela terharu mendengar penuturan Landry yang sangat menyentuh hatinya, ternyata laki-laki yang akan ia jadikan pelampiasan ini begitu memperhatikannya.

__ADS_1


Kamu sangat baik Lan.  Andai kamu tahu aku hanya menjadikan mu pelampiasan dan alasan kecemburuan ku kepada kak Al. Tapi aku akan berusaha untuk bisa menerima mu dengan tulus.


batin Xela sesal pada dirinya sendiri.


Di kediaman Alfarel, terlihat pemilik rumah itu sedang mengintip dari kaca jendela yang lebar dan tertutup gorden berwarna jingga. Senja mulai menyongsong, Alfarel heran mengapa Xela belum juga kembali, seharusnya ia sudah lama berada di rumah.


Kemana perempuan itu. Apa dia pergi? Tidak ini tidak boleh. Aku tidak akan membiarkannya.


Alfarel mengetik sebuah nama Xela di WhatsApp akhirnya ia menemukan nya, sayangnya nomor Xela yang ia hubungi sekarang tidak aktif lagi. Alfarel semakin resah, ia takut kalau Xela benar-benar pergi, segera kakinya melangkah dan mengambil kunci mobil yang terletak di atas meja. Ketika akan membuka pintu,  ia mendengar bunyi kendaraan roda dua yang sangat familiar. Alfarel mengurung kan niatnya untuk pergi, kembali ia membuka gorden dan memerhatikan Xela yang sudah melambaikan tangannya ke arah seseorang yang mengendarai motor memutar balik keluar gerbang.


"Dari mana saja kamu Xela? Apa kamu melupakan tugas mu di rumah?" Tanya Alfarel tiba tiba saja membuka pintu lalu berdiri tegak di belakang Xela. Xela terlonjak kaget oleh suara tinggi khas Alfarel yang bersumber dari belakangnya. Xela menoleh mendapati Alfarel menghadang di depan pintu. Sebenarnya Alfarel sengaja diam di depan pintu agar Xela tidak bisa masuk, dengan  begitu ia dapat menginterogasi Xela.  Al juga tahu siapa yang mengantarkan Xela pulang adalah Landry.


Aduh berhadapan dengan bos angkuh ini sulit sekali, pasti setelah ini dia banyak bertanya.


batin Xela menebak.


"Dari mana saja kamu sampai pulang se sore ini, kemana Landry membawamu? Apa ke rumahnya? Apa kamu sudah lupa dengan  pekerjaan  rumah yang banyak. Kamu malah enak-enaknya di luar sana, ngapain aja?" Rentetan pertanyaan secara bertubi-tubi terdengar menegangkan, Xela tidak tahu harus menjawab apa.  Sebagai seseorang yang tahu diri, ia hanya diam tanpa melawan dengan  kata- kata. Xela sadar ia telah meninggalkan tanggung jawab sebagai asisten di rumah Alfarel.

__ADS_1


bersambung ...


__ADS_2