POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Terjebak Di Kastil


__ADS_3

Di sebuah ruangan berbaringlah Xela yang sebelumnya pingsan, memang dari awal Xela merasa pusing dan tidak enak badan. Gadis itu membuka matanya, sekarang meskipun ranjang yang ditempatinya sangat nyaman, namun ia tetap merasa tidak tenang karena di dalam pikirannya hanya Alfarel, bagaimana keadaan kekasihnya itu. Xela langsung bangkit, perutnya lapar dan ternyata sudah ada makanan di atas nakas, kendatipun ada ia tidak menyentuhnya terlebih dahulu tetapi ia memilih untuk keluar mencari keberadaan Alfarel.


"Aku harus tahu bagaimana keadaannya sekarang.” Batin Xela. Baru saja gadis itu keluar dari dalam kamar, dua lelaki yang sedang berada di sisi kanan dan kiri kamar itu mencegah pergerakannya.


“Aku mau menemui kak Al. Jangan mencegahku!” Xela memberontak ketika kedua lelaki itu mendorongnya masuk.


“Tidak bisa nona, tuan masih dalam pengobatan.” Kata salah satu di antara mereka.


“Apa salahnya aku hanya ingin menemuinya!"


Xela harus memutar otak ketika pintu kembali di tutup oleh penjaga.


"Jendela, ya aku harus bisa melewati jendela." Xela mulai berlari menuju jendela dan ternyata cukup tinggi. mungkin bangunan ini sekitar ratusan meter, Xela tidak percaya bahwa saat ini ia sedang berada di ruangan paling atas.


Xela melihat ada jendela yang terbuka di bagian kiri ruangan kamarnya, karena ingin lepas dari kurungan yang entah berapa lama ia akan tetap di kamar ini. Xela nekat, intinya ia tidak melihat ke bawah.


"Eits tunggu. resikonya sangat besar, jatuh sekali mungkin aku langsung mati." gumam Xela, mulai terpikirkan lagi ide lain, Xela memgambil seprai untuk dijadikan pegangan agar bisa selamat sampai di sebelah.


Xela menyelinap seperti pencuri memgikuti beberapa dokter dengan pakaian medis mereka.


"Tempat apa ini, kenapa jadi ramai. Dokternya juga banyak seperti mengurus banyak pasien saja." gumam Xela penasaran masih mengikuti arah mereka pergi dengan menyelinap sampai di depan sebuah ruangan ia mendengar tawa seorang pria.



"Hahaha, bagaimanapun kalian harus berhasil melumpuhkan sarafnya sehingga dia tidak bisa mengingat apa pun, termasuk masa lalunya. Kemudian biarkan dia dibuang menjadi pengemis di jalanan sampai mati."


Xela bisa mengintip dari balik pintu, seorang lelaki dengan tubuh tinggi dan otot besar berbicara kepada seorang dokter dengan nada menekan.


"Maaf Tuan, untuk proses melumpuhkan sarafnya , ini terlalu kejam." jawab sang dokter.

__ADS_1



Xela baru fokus dan konek kalau Alfarel sedang dalam bahaya, itu artinya mereka dibawa kemari terjebak oleh penjahat yang tidak di ketahui itu.


"*Tidak*, *perbuatan jahat mereka tidak boleh terjadi pada kak Al*." batin Xela panik, langkah kecilnya segera meninggalkan ruangan tersebut, namun laki-laki berbadan kekar yang tak lain adalah Marco menoleh, mata tajamnya telah melihat bayangan seseorang yang sedang lewat.



"Sepertinya kelinci kecil itu lepas dari kandangnya." ucapnya dengan seringai jahat lalu beranjak mengikuti jejak Xela.


"Gadis itu masih aman di kamarnya?" tanya Marco kepada salah seorang pria yang juga mengenakan pakaian medis.


"Sudah tuan, pintu kamarnya sudah terkunci. Jadi dia tidak akan bisa kabur."


Marco tidak mengucapkan apa-apa, ia sesuka hati meniggalkan lawan bicaranya tanpa berterima kasih setelah mendapat informasi.




Kastil ini milik Alfarel, dan orang-orang di dalam kastil adalah orang-orangnya, tetapi situasi berubah beberapa jam yang lalu ketika ribuan pasukan Marco datang mengepung kastil, sehingga tim keamanan kastil tidak sanggup melawan dan mereka di bawah pengawasan orang-orangnya Marco.



Xela tiba di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh alat elektronik, dan di bagian tengah ruangan, Alfarel berbaring di sana, sekujur tubuhnya ditutupi kain biru yang artinya Alfarel sedang dalam proses pemulihan.


"Kak Al tidak boleh celaka." Xela mengingat secara lengkap ucapan lelaki yang tak ia kenal tadi akan mencelakai Al dengan cara melumpuhkan saraf Al. Siapa yang mau lelaki tampan nan ideal seperti Alfarel di lumpuhkan sarafnya, kasihan tauk!


Lagian kenapa si Marco tiba-tiba datang?

__ADS_1


"Mmpp." Xela yang masih mencari cara untuk menyelinap ke tempat lain agar bisa membangunkan Al dan menyelamatkan diri mereka dari sana. Xela terkejut saat mulutnya dibekal dengan rapat.


"Kelinci kecil kau tidak akan bisa lari kamana-mana." Marco menyerigai penuh kemenangan.


Xela ketakutan, ia mengira pergerakannya tidak akan di ketahui. Nyatanya ada saja yang menyergapnya dari belakang. Xela berusaha menggigit tangan besar yang membekap mulutnya, namun tidak mempan.


"Kak Al, ku mohon bangunlah. Aku ingin kita pergi dari sini." batin Xela yang hanya bisa memandang dari jauh, Alfarel yang berbaring tidak sadarkan diri dan di infus.


Marco menyeretnya keluar meski ia sudah memberontak dengan kuat, namun tenaga Marco jauh lebih kuat sehingga nihil seorang Xela untuk lepas dari pria itu. Xela di kembalikan ke kamar yang sama.


Marco membuka pintunya, memasukkan Xela ke dalam kemudian menguncinya lagi sehingga mereka berduaan disana sekarang.


"Manis, kau sungguh mirip dengan Alika." Marco menyolek dagu Xela, gadis yang sedang ketakutan.


"Siapa kau?" Xela tidak membiarkan tangan asing itu berada sangat lama di dagunya, ia menepisnya dengan segera.


"Aku Marco. Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?"


Jawab Marco dengan santainya, tentu sangat menyebalkan, bukan.


"Kenapa kau melakukan ini? kenapa kau memisahkanku dari kak Al?" geram Xela namun segera senyuman sinis tersungging di sudut bibir Marco.


"Karena sejak awal aku ingin memisahkan Alfarel darimu." Marco lagi-lagi mengelus rambut panjang Xela, jadi Xela semakin waspada menepis tangan besar itu lagi.


"Kau jahat, aku tidak akan membiarkan ini terjadi." Xela segera berlari ke depan pintu ingin keluar dari tempat itu, namun ketika gagang pintu di putar menandakan pintu tersebut di kunci. Xela menoleh ke belakang melihat Marco dengan seringai jahatnya, ternyata memegang kunci kamar itu dengan santai memamerkannya kepada Xela.


"Berikaan kunci itu kepadaku, aku ingin keluar." Xela berusaha untuk merebut kunci tersebut tetapi tetap gagal, Narco yang jauh lebih tinggi mengangkat kunci tersebut ke atas setingga Xela harus melompat untuk meraihnya.


"Kau tidak akan bisa keluar kakau bukan aku yang melepaskanmu, kau berada di tanganku sekarang." Ucap Marco dengan seringai jahatnya, sembari tangan kirinya merangkul pingang Xela membuat jarak mereka semakin dekat.

__ADS_1


'PLAK'


Xela menampar laki-laki kurang ajar itu, bisa-bisanya laki-kaki itu meraih pinggangnya menciptakan jarak yang dekat. Tidak! yang boleh hanya Alfarel, namun karena tamparan Xela, Marco semakin tertantang lalu mencekik Xela.


__ADS_2