POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Pengakuan Diam-Diam Mencintai


__ADS_3

Xela masih belum tenang, pandangannya kosong, kedua telapak tangannya masih menutup telinganya, masih meringkuk di atas kasur dari kemarin ia terpuruk. Perkataan Landry masih terngiang di telinganya.


"Saking kerasnya aku ingin melupakan kejadian menyakitkan itu. Meninggalkan kampung halaman tempat dimana aku dilecehkan sampai aku lupa diri. Landry mengingatkanku, apakah kak Alfarel tipe lelaki seperti itu? apakah dia hanya ingin memanfaatkan tubuhku hanya untuk kepentingannya?" batinnya menitikkan air matanya.


"Xel apa yang terjadi, apa kak Alfarel melakukan sesuatu yang menyakiti hati kamu?" tanya Gesha mengelus punggung Xela.


"Gak mungkin Gesha, bukankah aku melihat Xela baik-baik saja saat di peluk oleh bang Al?" Veoni meninpal.


"Aku iri, coba aja aku ada di posisi Xela pasti udah dipeluk sama kak Al." Gesha memanyunkan bibirnya. Kedua gadis itu bukannya menghibur Xela, tapi malah mengagumi Alfarel dan membcarakannya.


"Iya, aku pun berpikir begitu. Tapi aku merasa aneh kenapa sepertinya Alfarel dan Landry menyukai Xela, mereka memperebutkan Xela, hoo ... aku jadi bingung membayangkannya kalau aku ada di posisi Xela."


Xela mendengar mereka berdua berbicara tentang Al dan Landry, namanya pun tidak luput. Akhirnya ia memilih untuk keluar dari kamar lalu menghempas pintu.


PRAKK


Veoni dan Gesha saling memandang satu sama lain, batin mereka bertanya tanya, apa yang terjadi pada Xela.


"Ges sepertinya kita salah ngomong."


"Mm." Gesha menatap pintu yang di hempas.


"Tidak ada teman yang baik. Mereka tidak mengerti apa yang aku rasakan, kenapa? Mungkin aku terlalu bodoh terjebak dengan perasaan kepada Kak Al. Kenapa aku harus menyukainya." Batin Xela sepanjang langkahnya menuju lantai bawah.


"Xel." panggil seseorang yang terdengar familiar dari lantai bawah, Xela meluruskan pandangan ke arah suara. Alfarel, ternyata dia ada disana. Jantung Xela berdebar lagi, air mata pun menyertainya,kata-kata Landry kemarin muncul lagi di benaknya.

__ADS_1


dia ingin merengut manisnya tubuhmu saja Xel, setelah puas dia akan pergi dengan pacar aslinya. Kamu akan di tinggalin.


Kata itu seakan membunuh perasaan Xela, ia memutar balik badannya hendak berlari lagi melewati anak tangga, namun kecerobohannya dalam melangkah membuat kakinya tidak sengaja keseleo dan akan jatuh


"Astaga." Ia terkejut tidak bisa mengimbangi tubuhnya, dalam hati ia berpikir mungkin akan pingsan setelah ini. Xela memejamkan matanya bersiap untuk terjatuh membenturkan tubuhnya bahkan kepalanya. Namun ternyata ia merasakan seluruh tubuhnya dalam pelukan, tidak salah lagi ini pasti Alfarel.


Xela membuka matanya yang bengkak akibat menangis dari kemarin, pandangan pertama adalah wajah Alfarel. Dia dalam pelukan Alfarel.


"Jangan ceroboh, lagi pula kenapa memghindariku." Xela tidak menggubris ucapan Alfarel tetapi ia segera melepaskan diri hendak pergi.


"Wajah tampan yang aku rindukan. Tidak aku tidak boleh terjebak oleh ketampanan kak Al, aku harus waspada, aku takut kata-kata Landry itu benar."


"Xela saya ingin berbicara denganmu, ayo ikut." Alfarel menarik tangannya, saat itu Xela sedikit pusing sehingga terpaksa ia terjatuh dalam dekapan Alfarel lagi, ia tak berdaya oleh perasaannya.


"Ayo, kita tidak bisa bicara disini." Alfarel menarik tangan Xela, gadis yang awalnya menghindarinya kini berada dalam tautan tangannya.


"Baiklah aku ikuti saja, aku tidak mau semakin sakit oleh rasa takut. Aku harus membuatnya menjauh dariku, jika tidak aku akan menjauhinya."


Nurutnya Xela kali ini ternyata ia ingin memanfaatkan waktu ini untuk mengatakan keinginannya saat ini. Benarkah ia akan menjauhi Alfarel? ia belum tahu kalau Alfarel sudah memutuskan Mira untuknya.


Alfarel membawanya ke sebuah taman yang lokasinya dekat dengan asrama Alka, namun disana sangat sepi. Ada pengunjung lain tetapi jaraknya agak jauh, kalau beneran sepi dan hanya mereka berdua yang ada disitu, Xela bisa ketakutan karena ia sedang berada di fase waspada saat ini.


"Xel, saya minta maaf. Tentang apa yang di katakannya kemarin." Alfarel menggantung ucapannya. Alfarel menggenggam tangan Xela.


"Lepaskan tanganku, aku tahu kak Al minta maaf karena Landry mengatakan yang sebenarnya. Kalau aku tahu sebenarnya kak Al hanya memanfaatkan ku, aku tidak akan pernah di cium olehmu. Aku menyesal menyukai kak Al secara diam-diam selama ini." Xela menangis lagi.

__ADS_1


Alfarel mendekat, menghapus air mata Xela dengan jemarinya. Ia telah mendengar pengakuan Xela, mungkin giliran ia yang akan mengakui bahwa dirinya juga mencintai Xela secara diam-diam, possesif terhadap gadis itu sampai ia tidak sadar akhir dari sikap possesifnya membuat mereka berada dalam kesalah pahaman, Xela juga terlanjur termakan oleh kata-kata Landry kemarin.


Xela tersentuh dengan perhatian Alfarel, namun ini bukan saatnya untuk terbawa perasaan, ia menepis tangan itu.


"Jangan beri sedikitpun perhatian padaku kak. Jujur aku sudah takut padamu. Aku tidak ingin terjebak oleh ketampanan kak Al kemudian aku di manfaatkan. Aku baru sadar sekarang, mungkin apa yang dikatakan Landry itu benar kak Al hanya menjadikanku mainan, kak Al memanfaatkan ku, menciumku untuk pelampiasan, tidak ada perasaan cinta. Kak Al hanya mencintai pacarnya saja, dan aku hanya mainan, benar kan?" Tanya Xela dengan tangisan menyedihkan, rasanya air matanya mau keluar semua seperti hujan lebat.


Alfarel terperanjat mendengar penuturan gadis yang di cintainya. Siapa suruh selama ini bersikap posseesif seperti memberi harapan palsu, Sekarang Xela telah patah hati di buatnya. Lelaki itu segera mendekatkan diri kepada Xela, lalu mendekapnya ingin mengungkapkan betapa dalamnya perasaan yang selama ini ia pendam, ia tutup dengan amarah yang tidak jelas, pengekangan dan aturan-aturan yang mutlak terhadap Xela.


"Jangan peluk aku, kalau ini hanya pelampiasan dan kebutuhan tubuhmu saja. Jangan memanfaatkan aku." Xela masih menangis ingin melepaskan diri dari pelukan erat itu sampai ia memukul belakang Al melampiaskan kemarahannya karena tidak bisa lepas dari pelukan Al. Al tidak ingin sedetikpun melepaskan pelukannya, ia juga hancur mendengar penuturan Xela.


"Kamu harus tahu, mengenal saya jangan dari orang lain. Jangan mudah termakan oleh omongan orang lain. Belum tentu yang Landry katakan itu benar."


Xela masih bersikeras untuk lepas dari dekapan Al.


"Landry sudah memutuskan hubungan kalian dia benar-benar tidak pantas untuk mu." Alfarel tersenyum getir masih memeluk Xela.


"Apa?"


"Landry memutuskanku, dia pasti marah besar. Aku bahkan belum sempat berbicara padanya." Batin Xela.


"Ya, saya menyuruhnya." Alfarel mengakui.


"Ini gara-gara mu."


"Lagipula dia memutuskannya dengan mudah. Jangan bertemu dia lagi!"

__ADS_1


__ADS_2