
Tap Tap Tap
Langkah kaki Alfarel perlahan menapaki koridor rumah sakit, dari luar melewati pintu kaca, Alfarel bisa melihat Landry yang berbaring disana, lalu Dafi keluar dari dalam menemuinya.
"Urus saja semuanya."
"Baik bang." Dafi asisten sekaligus sahabatnya diberi kepercayaan penuh oleh Al.
Sementara Alfarel hanya menatap dingin adiknya yang sedang berbaring di dalam sana, kemudian ia pergi begitu saja.
...****************...
Xela terbangun mendapati dirinya sudah di asrama, ia bangun secara mendadak karena pikirannya yang terus muncul tentang Landry, bagaimana dengan lelaki yang merupakan pacarnya itu. Dan ia sendiri, bagaimana ia bisa berbaring di atas ranjang siapa yang mengganti pakaiannya?
"Landry bagaimana keadaannya, dan kak Al. Dan parah lagi, hp. Hp yang tenggelam di danau apakah masih di tempat itu." gumam Xela sebelum akhirnya berlari keluar.
Setelah membuka pintu, ibu Yumi sudah berdiri didepan pintu.
"Kebetulan kamu sudah bangun, kamu dilarang keluar dan kamu harus istirahat." kata Ibu Yumi dengan wajah datar.
"Bu siapa yang mengganti pakaian saya, siapa yang mengantar saya pulang, lalu bagaimanadenganLandry?" Xela langsung memberi pertanyaan yang tersimpan di benaknya sedari tadi.
"Yang mengantar mu pulang tuan Alfarel, bajumu saya yang mengganti. Saat ini kamu tidak boleh keluar, saya menyesal memberi ijin kalau tahu kalian hampir tenggelam di danau." Bu Yumi lalu mendorong tubuh Xela masuk ke dalam secara paksa.
"Bu, tapi bolehkah aku ijin menemui Landry."
"Landry, biarkan saja kakaknya yang mengurus, kamu jangan keluar. Ini perintah dari tuan Al."
Xela kesal, ternyata semuanya sudah di atur, sampai kapan ia disini?
Xela tidak tahu harus melakukan apa di kamar, hanya bisa rebahan, ada buku tetapi ia moodnya sedang untuk membaca. Hanya bisa rebahan, smartphone pun tidak di tangannya tetapi mungkin saja masih ada di dasar danau.
CEKLEK
Pintu yang tiba-tiba saja dibukakan membuat Xela segera bangkit berdiri, meskipun ia tidak tahu siapa yang datang. Yang datang rupanya sosok lelaki yang membuatnya pingsan beberapa jam yang lalu.
Tentu saja Xela sangat gugup, jantungnya berdegup kencang lagi melihat sosok tampan yang tiba-tiba datang, parahnya ia masuk ke dalam kamar yang sifatnya sangat pribadi, beruntung kamar itu rapi.
"Kenapa tiba-tiba masuk. Ini kamar cewek." Xela protes meskipun ia gugup.
"Terserah saya, ini asrama milik saya." Jawab Al sombong sembari melihat sekeliling, beruntung tidak menemukan hal yang tidak seharusnya ia lihat.
..."Tumben sombong amat padahal tadi menunjukkan sisi lain. Dia mudah berubah." Batin Xela....
"Apa yang lo lakuin sama Landry di jalan tadi?" pertanyaan macam apa ini, apakah dia datang untuk mengintrogasi Xela lagi?
__ADS_1
"Landry, apa kabarnya sekarang. Apakah dia sakit? aku mau menemuinya."
"Saya bertanya, kenapa kamu tidak menjawab?"
"Kami hanya bersenang-senang dengan berfoto disana, trus ... hpnya jatuh ke danau dan ..." Xela tidak bisa melanjutkan ucapannya, Alfarel segera memotong ucapannya, bukan hanya itu. Alfarel juga mendekatkan dirinya pada Xela sampai wajahnya yang tegas berjarak sangat dekat.
"Bukan itu yang saya tanyakan, di perjalanan. Pasti kamu memeluknya bukan?"
Tebakan yang bisa dikatakan benar membungkam mulut Xela. Haruskah mengatakan iya? padahal hanya memeluk saja saat berkendara.
"Lelaki aneh, ngapain nanya kalau udah bisa nebak." Batin Xela kesal, rasanya ia ingin menghindar dengan berlari keluar, sayangnya satu kali saja ia melangkah mundur Alfarel tetap terus mendekati nya dengan menambah langkahnya apalagi kalau ia berlari keluar, mungkin Alfarel akan menangkapnya, mengurungnya bila perlu. Xela lelah di hantui oleh pertanyaan tidak penting itu.
"Diam berarti benar." Al menyimpulkan sendiri.
"Bagaimana nggak pegangan, takut jatuh'kan?" Xela mengakuinya tetapi baginya ini hal yang wajar.
"Berapa lama?" Al bertanya lagi.
"Sepanjang perjalanan." jawab Xela santai. Alfarel mengeraskan rahangnya lalu memalingkan wajahnya untuk menghela nafas, Mr. possesif mulai menunjukkan sikapnya, cemburu, tidak rela? ya ... mungkin saja itu yang dirasakannya.
Alfarel meraih kedua tangan Xela lalu membuat kedua tangan itu melingkar di pinggangnya, otomatis mereka seperti berpelukan, ia membuat Xela seolah memeluknya.
"Seperti ini kamu memeluknya?"
"Apa-apaan ini." Xela ingin melepas dirinya, ini kan bahaya kalau ada orang yang tiba-tiba masuk melihatnya.
"Saya tanya kamu memeluknya seperti ini?"
"Kalau aku memeluknya seperti ini apa masalahnya, dia pacarku." Jawab Xela kesal.
Melihat Xela berusaha melepas pelukan yang ia buat, Alfarel langsung bertindak memeluk erat gadis itu.
"Sangat bermasalah, saya akan membuat kalian putus. Bukankah kamu menyukai saya?"
Xela terperanjat kaget, pelukan itu seperti menghipnotisnya, ia terbawa perasaan karena dari awal sebenarnya ia mengagumi sosok yang ia peluk, pelukan yang nyaman itu membuatnya terpaksa harus melepaskannya, karena ia berpikir Alfarel sudah punya Mira.
"Kenapa? bukannya kak Al sudah punya kak Mira. Kalian cocok, aku tidak mau menganggu."
Xela mendorong Alfarel sampai tangan lelaki itu mengayun di udara lalu mengenai tepi ranjang.
TAK
"Auhh." Alfarel meringis kesakitan membuat Xela panik, pada dasarnya Xela tidak tegaan, jadi ia meraih tangan besar itu, mengusapnya sambil meniupnya.
Alfarel memiringkan sudut bibirnya, ia sempat tersenyum kemudian meringis kesakitan seolah sakit tangannya sangat parah.
__ADS_1
"Kak Al maafin aku." Xela merasa bersalah masih mengusap tangan itu. Tetapi ia tidak pernah menyangka Alfarel memeluknya lagi.
"Kak Al, lepasin." yang di peluk tentunya terkejut.
"Anggap saja mengulangi yang tadi, dan anggap saja tangan saya tidak sakit. Kalau kamu melepas pelukan ini tangan saya pasti sakit lagi."
Alfarel ternyata menggunakan kesempatan ini untuk meluluhkan hati Xela.
"Jadi ini cuma akal-akalan kak Al?"
"Tidak, ini salahmu jadi pelukan ini untuk tebusan."
Xela tidak percaya, mimpi apa ia tadi malam sehingga hari ini kejadian aneh membuatnya terjebak dalam pelukan Al.
CEKLEK
Pintu yang tadi tertutup sekarang terbuka, dibuka oleh seseorang. Xela ingin segera melepaskan diri tetapi tidak dengan Alfarel, lelaki itu tidak menghiraukan siapa saja yang ada di depan pintu meskipun ia tahu mereka sedang diperhatikan.
Xela terkejut akan tiga orang yang berdiri di depan pintu adalah Veoni, Gesha dan Landry. Ya ada Landry disana.
Landry berjalan masuk sambil bertepuk tangan.
PROK PROK PROK
"Ternyata saat aku sakit pacarku di curi."
Alfarel mendengar suara yang tidak asing lalu perlahan melepas pelukannya dari Xela.
"Landry." Seru Xela, lelaki yang di panggilnya menunjukkan telapak tangannya memberi isyarat berhenti.
"Aku sudah melihatnya, ini yang kedua kalinya dan sangat jelas."
Alfarel berbalik badan hanya tersenyum sinis menampakkan wajah tampan yang tak tertandingi.
"Parah, ini yang aku nggak mau. Apa yang harus aku jelaskan pada Landry." Xela terjebak dalam masalah lagi. Hatinya semakin hancur.
"Dan abang ku yang baik. Kenapa rebut pacar gue?, apa lo udah bosan sama pacar lo yang lebih cantik itu. Bukannya lo mencintai pacar lo itu sangat lama. Tolong jangan jadiin Xela permainan, gue menyadari ini sejak pertemuan kita di depan kos Xela, lo hanya bermaksud mempermainkan Xela, kan? Dan lo Xela, hati-hati dengan dia. Dia udah punya pacar, dia ngedeketin lo seperti ini, mungkin ada maunya. Mana ada yang tahu hati lelaki, dia ingin merengut manisnya tubuhmu saja Xel, setelah puas dia akan pergi dengan pacar aslinya. Kamu akan di tinggalin."
Mendengar ucapan Landry, Xela tertelan oleh kalimat itu. Tubuh! keinginan tubuh, apakah Al adalah tipe lelaki seperti ini? Jelas ia ragu dan trauma yang sudah lama ia ingin lupakan tiba-tiba teringat lagi.
Tubuh, seseorang pernah menginginkan tubuhnya kemudian ia berhasil kabur. Masalah yang ia sembunyikan, pelecehan di masa lalunya kini muncul di permukaan. Xela merasakan debaran jantungnya dan kepalanya sangat pusing sehingga ia segera duduk di ranjang lalu berteriak sambil terisak.
"Tidakk .... tidak ... itu tidak akan terjadi. Tidak boleh. Tidak!" Xela menutup kedua telinganya. Veoni dan Gesha teman barunya segera menghampirinya, mereka yang tidak tahu apa-apa kini panik.
Al juga ikut panik tetapi ia percaya, Xela lebih baik didalam pelukan Gesha dan Veoni. Landry juga terkejut mengalami perubahan suasana ini, ia ingin menghampiri Xela tetapi Alfarel menghalanginya.
__ADS_1
"Lo yang menyebabkannya. Lo dateng ke sini membuat keadaan Xela seperti ini." Alfarel menatap adiknya dengan tatapan tajam, tetapi aneh, Landry malah tersenyum getir.
"Hah! Gue penyebabnya. Seharusnya dia, dia dan lo main di belakang dan gue harusnya korban. Gue yang di selingkuhi, benar gue yang korban, gue memergoki kalian dan gue sakit hati. Dia cuma tertekan karena merasa bersalah sama gue." Landry membenarkan ucapannya sendiri.