
Di sekolah, disebuah tangga menuju lantai atas. Xela terus menepuk jidatnya tiada henti. Ia terus memikirkan kejadian kemarin.
"Ayo cepat!"
"A - Aku cemburu."
itulah sekilas ingatan kejadian. Bisa-bisanya ia berkata di luar otaknya. Pasti majikannya itu akan terus tertawa atau mungkin akan mengolok nya ketika mereka bertemu.
Ini sangat bodoh, kenapa aku jadi seperti ini. Seharusnya kalau aku cemburu aku nggak bilang langsung. Apa ini faktor usia, kenapa aku sembarangan aja kalau ngomong. Ah bodoamat mungkin hanya aku yang masih memikirkan omongan ku sendiri mungkin Kak Al hanya mendanghapnya angin lalu. Tapi terkadang nggak mungkin juga.
Xela merasa kacau ia terus memukul jidatnya dan tidak peduli lagi dengan langkah kakinya. Akibat tidak memerhatikan langkahnya, Xela menabrak seseorang, ia terkejut sendiri tentunya.
Beruntung saat ia menengok pada orang yang ia tabrak ternyata itu adalah Landry. "Xel kamu kenapa jalan kaya gitu?"
" Eh maaf." Xela meminta maaf kemudian agak menjauh dari Landry, beruntung saja saat ia menabrak Landry, ia bisa mengimbangi badannya agar tidak jatuh. "Xela kamu ada masalah?" Landry memerhatikan raut muka Xela tidak biasa.
Landry juga tampan. Nggak habis pikir kenapa aku harus cemburu dengan Kak Al. Aha ... aku punya ide. Mudah-mudahan ini bisa buat menutup malu.
"Landry aku mau ngomong sesuatu."
"Xela aku mau ngomong sesuatu." Xela dan Landry mengucapkan kalimat tersebut dengan serempak, karna itu mereka berdua saling pandang dan merasa heran, suasana hening sejenak.
__ADS_1
"Kamu duluan."
Ucap mereka bersamaan, suasana semakin canggung.
Aduh kok jadi gini ada apa dengan ku dan dia. Mending diam aja deh.
"Maaf Xel sepertinya kamu yang duluan." Landry mengalah agar Xela berbicara duluan.
"Benaran? Aku duluan?" Landry hanya mengangguk.
"Oke Lan jadi gini. Kita kan lagi menjalani sandiwara tergila pura-pura pacaran. Aku berpikir bagaimana kalau kita pacaran sungguhan aja." Landry terkekeh mendengar ucapan Xela hal itu membuat Xela semakin salah tingkah.
"Nggak Xel gimana ya. Hmm ..." Landry menggantung kata dengan gaya sok keren. Rasanya ingin sekali Xela lari maraton jika Landry menolak pernyataannya, ia sudah tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu. Siapa suruh duluan ngomong.
"Aduh mukamu merah Xel. Oke deh aku jawab. Tapi kamu harus jawab dulu pertanyaan aku, kenapa kamu ajak aku pacaran sungguhan?"
"Karna kalau hanya pura-pura kayanya nggak seru kalau ketahuan nasib aku mungkin lebih buruk lagi." Jawab Xela dengan lancar, ternyata sedari tadi ia sudah merancang jawaban yang tepat. Landry sedikit bertanya dalam hatinya, apakah yang membuat gadis cantik yang memikat hatinya sejak lama ini berubah, bukankah dulu ia ditolak karena ternyata tidak ada perasaan dihati gadis itu, Landry semakin yakin ada alasan dibalik sikap Xela.
"Baiklah aku setuju, kalau itu maumu . Aku berterimakasih banyak atas keterbukaan hati mu. Aku kira kamu tidak akan mau membuka hati mu untukku." Ujar Landry akhirnya ia berkeputusan menerima Xela. Xela tersipu dan terpaku di tempatnya berdiri, sekaligus merasa senang, akhirnya ada sedikit perasaan bahagia dan melupakan tentang ucapan bodohnya kemarin mengatakan kepada Alfarel jika dirinya cemburu.
"Terima kasih Lan." Xela meraih pergelangan tangan Landry dan menggenggam pergelangan tangan itu penuh dengan perasaan bahagia. Begitu juga yang dirasakan Landry, laki-laki itu merasa sangat senang akhirnya bisa mendapatkan hati gadis yang selama ini memikat hatinya.
__ADS_1
"Xel terima kasih banyak sepertinya kamu sangat bahagia bersamaku saat ini." Sahutan Xela atas penuturan Landry hanya dengan sebuah anggukan kecil serta lengkungan bibirnya yang lebar.
Kali ini aku merasa bahagia, aku sudah resmi berpacaran dengan Landry. Jadi aku bisa jawab semuanya. Mudah-mudahan ini bukan suatu kebodohan. Mulutku terlalu menjadi benda pegas mengatakan cemburu kemarin, kenapa aku harus mengucapkannya?Untungnya aku bisa memanfaatkan status berpacaran dengan Landry
Ternyata di balik itu semua, Xela memanfaatkan status berpacaran mereka sebagai alasan jawaban cemburu kemarin yang berarti kemarin ia cemburu karena ia tidak memiliki kekasih seperti Alfarel. Akankah usahanya berhasil?
"Xela ada yang mau aku katakan ke kamu. Tapi pulang sekolah nanti ya, aku akan membawamu ke suatu tempat." Tutur Landry kepada Xela ketika mereka berjalan menyusuri koridor sekolah dengan bergandengan tangan. Mereka tidak peduli lagi dengan orang sekitarnya, mereka sudah menjalani masa bucin nya seperti pasangan remaja lain pada umumnya, tidak ada batasan antara mereka untuk merubuhkan sikap ketika berada di situasi yang berbeda karena mereka pasangan kekasih sungguhan.
"Apa Lan?" Tanya Xela baru menyadari, pasalnya sedari tadi ia hanya fokus dengan keraguan hatinya menunggu jawaban persetujuan dari Landry agar mereka berpacaran.
"Nanti aja ya pacar ku yang manis. Kali ini aku merasa beruntung saat aku akan menunjukkan sesuatu yang mungkin sangat berkesan di hari itu juga aku mendapat kesenangan atas hatiku." Ujar Landry. Kali ini Landry sangat bahagia dari hari-hari biasanya. Ya mungkin begitulah gambaran hati seseorang yang sedang mengalami kesenangannya.
Waktu yang ditunggu pun tiba, Xela dan Landry keluar dari ruang kelas dengan senyuman yang tidak pernah pudar, mereka keluar pada urutan terakhir dari siswa yang lain. "Xela apa kamu masih biasa kalau aku mengajak mu naik motor ku?" Tanya Landry ketika mereka berada di koridor sekolah. Ingatan kejadian yang lalu kembali berputar di otak Xela, ia teringat bagaimana cara Landry mengendarai motornya ketika mengantarkannya ke kost dulu, saat itu mereka menjadi teman karib. Landry saat itu sangat membuat Xela takut dengan aksi gilanya menyetir motor ala pembalap yang sedang melintasi tikungan, kelajuan motor dalam kemiringan saat itu sangat menguji nyali, betapa takutnya Xela yang berteriak tiada henti sepanjang perjalanan, beruntung jalanan sepi dan tidak termasuk kawasan perkotaan.
"Yah kalau kamu bawa motor seperti dulu aku nggak mau lah, mending kita jalan kaki aja. Atau disini aja ngomong nya, kan cuma ngomong kan?"
"Xel maaf kali ini bukan hanya sekedar ngomong. Tapi aku mau nunjukkin sesuatu. Gini aja deh, aku bawa motornya pelan dan nggak akan kaya dulu lagi, asalkan kamu peluk aku, hehe ..."
sorotan mata tajam ditujukan Xela kepada siswa tampan dan berhasil tinggi di sebelahnya karena ucapannya barusan. Tetapi nampaknya Landry terlihat biasa saja dengan ucapannya tadi, mungkin ucapannya tadi merupakan naluri yang tertahan dalam dirinya. "Oke deh aku mau kalau memang nggak bisa katakan disini dan tunjukkin disini. Lagian mau nunjukin apa sih?" Xela mulai penasaran karena itu sudah Landry katakan dari tadi pagi, namun belum juga Xela ketahui apa yang akan Landry tunjukkan dan katakan.
bersambung ....
__ADS_1