POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Bahaya!


__ADS_3

Xela melepas pelukan Al, lalu ia menghindari lelaki itu agar tidak memeluknya lagi dengan cara meringkuk di dalam tenda menyembunyikan wajahnya masih menangis sesenggukan di sudut tenda. Sakit ditambah malu dirasakan gadis itu, bukankah saat bibirnya di ***** habis oleh Rey, Alfarel melihatnya? Kenapa Alfarel tidak memarahinya dan masih saja memedulikannya untuk mengobati bibirnya yang terluka?


“Gue duluan pulang, dan Lo bawa Cika dan Ghea!” Alfarel menghampiri Ario yang berada tidak jauh darinya, kalimat singkatnya membuat Ario curiga.


“Apa yang terjadi, jangan bilang kalau ...” Al memotong ucapannya.


“Mereka punya dendam sama gue. Apa salahnya Gue habisi mereka?” Ario tahu bagaimana berbahaya sahabat tampaknya ini.


“Apa?” Ario terkejut karena belum tahu bahkan tidak tahu sama sekali.


“Mereka juga sahabat lo tapi bukan sahabat gue. Terserah Lo mau protes, tapi mereka duluan mengusik gue, jangan harap gue diam!” Tegas Alfarel kepada Ario sebelum ia pergi. Sebenarnya Ario ingin membebaskan dua sahabatnya tetapi setelah ia pertimbangkan, percuma. Ario kenal lebih lama dengan Al daripada Rey dan Rico, bukan maksudnya untuk memihak tetapi tepatnya tidak bisa menyelamatkan Rico dan Rey dari tangan Al.


“Lo gak pernah berubah Al, sekali brutal tetap brutal.” Ario menggelengkan kepalanya menatap punggung sahabatnya yang kian menjauh.


Alfarel mengemasi semua barangnya ke dalam mobil, tidak lama kemudian Ghea dan Cika menghampirinya.


“Al mau pulang? Kan ini masih belum dua hari.” Tanya Cika, Alfarel hanya menatap kedua perempuan itu dengan dingin.


“Al, kok pulang? Apa ada yang salah?” tanya Ghea lagi.


“Gea, kok mobil Rey sama Rico udah nggak ada?” Cika menengok ke kiri dan kenakan hanya mendapatkan mobil milik Alfarel dan Ario saja.


“Iya. Al gimana ini?” tanya Ghea dengan wajah paniknya tetapi tidak di tanggapi oleh Al. Terakhir Alfarel membopong Xela dan meletakkan gadis itu di kursi belakang karna ia sedang terlelap.


"Jangan pernah mencoba pergi dariku.” Batin Alfarel menatap wajah Xela kemudian mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.


Di tengah perjalanan, Xela terbangun merasakan tubuhnya kedinginan, tidak biasa dan sepertinya ia sakit. Perlahan matanya tertuju ke samping kiri, melihat Alfarel sedang mengemudi. Hatinya tersentuh, Alfarel selalu peduli bukan padanya?


Gadis itu bangkit dengan wajah bengkak akibat menangis terlalu lama, beruntung Alfarel tidak mempermasalahkan wajah jelek itu.


“Sudah bangun? Kalau lapar makanan ada di bawah kakimu.” Ucap Al, sungguh lelaki yang perhatian! Xela melihat kotak makanan di sana, ada juga makanan ringan juga. Hanya melihatnya tidak bermaksud menjawab ucapan Alfarel, bagaimanapun ia masih kesal dengan sosok lelaki tampan yang mengemudi itu.


"Saya tidak mau kamu diam, Xela."


"Gak penting bicara dengan orang asing." Ucap Xela dingin dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Apa? kamu menganggap saya orang asing?"


Xela diam mendengar pertanyaan itu, memang keinginannya saat ini adalah putus dengannya tanpa berpikir panjang bagaimana kehidupan di depannya.


Tidak ada jawaban dari Xela membuat Al berhenti berbicara, tidak lagi menuntut jawaban, ia tahu Xela menyalahkan dalam kejadian ini.


.....


"Ario apa yang terjadi, kenapa campingnya gak seru gini." Cika bertanya kepada Ario yang juga mengemasi tandanya.


"Dan kenapa Rey dan Rico tiba-tiba ngilang, mobilnya juga nggak ada. Alfarel juga udah cabut." timpal Ghea. Kedua perempuan itu merasa kebingungan.


"Lo berdua pulang sama gue. Gue juga nggak tau tentang Rey dan Rico." jawab Ario.

__ADS_1


"Apa? gue gak mau secepat ini gak asik tau." kata Cika.


"Ya udah, kalau lo berdua gak mau pulang bareng gue, lo berdua tinggal disini aja."


"Gak gak, ayo Cik Lo mau cuma kita berdua disini?" Ghea segera mengajak Cika untuk berkemas.


Mereka pun pulang, camping yang kacau tidak ada hasil yang memuaskan.


"Cik, Lo curiga nggak sama Al tadi?" tanya Ghea berbisik di telinga Cika ketika berada di perjalanan.


"Sedikit, apa mungkin Rey dan Rico ada masalah dengan Al?" Cika berbisik ke Ghea.


"Gue juga nggak tau. Tapi gue yakin ini ada kaitannya sama Al."


"Lo berdua ngomong apaan sih. Dasar cewek ngegibah aja taunya." Ario sewot dengan bisikan tidak jelas itu.


"Urusan Cewek lah Yo," ketus Cika.


"Coba kita tanya sama Ario, kenapa kita harus pulang dan kenapa nggak nungguin Rey dan Rico?" bisik Ghea lagi.


"Oke."


"Yo kenapa kita tiba-tiba pulang aja? Nggak nungguin Rey sama Rico?" tanya Cika.


Ario bingung mau jawab apa, Alfarel sudah membuatnya direpotkan dengan pertanyaan kedua perempuan ini.


"Rey sama Rico suruh gue bawa Lo berdua, mereka ada urusan jadi duluan pulang." Jawab Ario.


"Lah! ini lo tau kalau mereka ada urusan, tadi lo bilang ngak tau tentang mereka." Cika mulai curiga dan Ario ingin menyerah mengatakan yang sebenarnya kalau Al sudah membawa mereka entah kemana.


"Itu tadi maksudnya gue gak tau apa urusan mereka, makannya gue bilang gitu." jawab Ario dengan tenang tetapi tidak membuat kedua perempuan di belakangnya itu puas, Ghea dan Cika saling pandang penuh kecurigaan.


"Gue curiga ada yang di sembunyiin sama Ario." bisik Cika.


"Jangan-jangan Rey dan Rico buat masalah sama Al."


"Apa?" Cika terkejut.


"Mungkin saja, tapi gak masalah biarin aja Cik. Tanpa Rey gue juga tenang." kata Ghea dengan wajah sumrigah, Cika hanya bisa menyebikkan bibirnya.


"Dasar banyak cabang!" kata Cika.


"Bukan banyak cabang, jelasnya gue kembali memperjuangkan cinta pangeran tampan, Alfarel."


"Sialan! Al milik gue."


"Hah? milik Lo?"


"Ya kita lihat saja nanti."jawab Cika dengan sombong.

__ADS_1


"Gak boleh!" Ghea mulai menjambak rambut Cika dan terjadilah perkelahian didalam mobil.


"Lo berdua bisa diam gak sih?" Ario terganggu.


"Lo gak berhak untuk dia." ucap Ghea.


"Lo juga, sadar diri."


"Lo yang sadar diri, Ghea!"


"Ya sudah Lo berdua lanjutin aja jambak-jambakan siapa tahu ada yang botak diantara lo berdua setelah ini." Ario pada akhirnya tidak mau stres hanya gara-gara keributan kedua perempuan itu, ia mencoba menikmati perkelahian keduanya melalui kaca spion dan terus menyetir dengan tenang.


'TAK'


Anak panah yang terlihat tajam menatap di kaca mobil Alfarel yang sedang melaju membuat Al terkejut apalagi Xela.


"Sial!"


"Kak Al ada apa ini?" Xela melihat ke sekitar di luar sana, hanya mendapati pemandangan hutan lebat.


"Kamu tetap di dalam saya akan keluar." Alfarel hendak membuka pintu tetapi Xela yang panik seger mencegahnya.


"Jangan kak Al, aku takut." Xela menahan lengan Al.


"Tenang, hanya sebentar saja." Al melepas genggaman tangan Xela dengan lembut.


"Jangan." Xela tetap melarang, ia takut ketika Alfrel keluar malah akan celaka.


"Saya ingin mencabut anak panah itu, sepertinya ada kertas yang ditempel disana." Al menujuk anak panah berwarna perak yang ternyata benar ada kertas putih yang di gulung di sana.


Saat Xela lengah melihat anak panah itu, Al menggunakan kesempatan untuk keluar mencabut anak panah itu.


"Kak Al." Xela kuatir tetapi ia tidak bisa menyusul keluar, kepalanya juga sangat pusing.


Alfarel mencabut anak panah yang terbuat dari besi itu patut saja menembus kaca mobilnya, namun disaat yang sama telibganya berdengung, Alfarel curiga akan tetap tenang lalu memejamkan matanya bertujuan untuk fokus dengan dengungan itu, semakin ia fokus telinganya semakin merasakan dengungan yang keras seperti sesuatu yang sedang mendekat. Dengungan berasal dari depannya, sehingga membuat Alfarel memutar anak panah yang dipegangnya dengan cepat seperti kipas angin, tangannya sangat terampil meluruskan putaran itu ke depan.


Xela hanya diam meskipun merasa aneh dengan apa yang di lakukan Al.


'TAK'


Anak panah yang lain jatuh ke kaca mobil akibat pantulan yang dihasilkan oleh putaran anak panah di tangan Al. Setelah anak panah yang berasal dari depan berhasil Al tangkis, Alfarel segera masuk ke dalam mobil. Xela terkejut dengan adegan itu, setelah Alfarel masuk, ia baru merasa tenang dan ada juga perasaan bangga, Al bisa melindungi dirinya.


"Kak Al punya ketrampilan." Batin Xela yang menghela nafas lega karena Al sudah masuk ke dalam mobil kembali.


"Kamu menunduk!" setelah Alfarel masuk, ia mengatur posisi aman untuk Xela di belakang, menyuruh Xela menunduk, Xela yang panik mengerti akan bahaya lalu memilih berbaring di bawah dengan posisi yang paling aman.


"Kak Al." lirih Xela dengan mata yang sudah sembab.


"Tenang, kamu tidak perlu takut. Jangan sesekali mengubah posisi." setelah memastikan keamanan Xela, Alfarel membuka kertas yang tertempel membalut anak panah.

__ADS_1


__ADS_2