POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Xela Akan Mati?


__ADS_3

Xela sangat kuatir dengan taruhan itu, cewek yang mana yang tidak kuatir melihat pacarnya bertaruh nyawa.


“Kak Al, Landry tolonglah berbicara baik-baik, tidak seperti ini.” Xela meneriaki kedua laki-laki itu. Al menoleh hanya memberi kode kepada para pengawal agar membawa Xela menjauh.


“Aku nggak mau, lepasin.” Xela di bawa paksa menuju ke lift bersama para pengawal itu.


Al melepas jasnya begitu juga dengan Landry yang menggunakan jaket, mereka berdua mulai bergulat dalam perkelahian. Landry lebih dahulu menyerang Alfarel, karena terlalu bersemangat serangan Landry dapat dihindari oleh Alfarel.


Landry menabrak kaca dan hampir saja ia terpeleset ke luar tetapi ia mampu menyeimbangkan badannya, Al tersenyum licik langsung menyerang Al agar Landry benar-benar jatuh dari lantai tujuh dari kaca yang telah ia buka.


Ia dapat membuka dinding kaca itu karena sudah menguasai sudut-sudut ruangan ini, selain itu gedung ini miliknya. Apa yang sulit bagi pemilik untuk menghafal sudut-sudut ruangan dan isi setiap ruangan.


Serangan Alfarel salah sampai akhirnya ia sendiri yang hampir jatuh keluar, beruntung tangannya masih bisa berpegang kuat pada sisi dinding.


“Lepaskan, aku nggak mau, tanganku sakit.” Pengawal pun akhirnya melepas Xela


Kesempatan ini digunakan Xela untuk kembali lagi ke Lift, ia segera memencet tombol angka tujuh setelah lift tertutup walaupun ia sangat takut, tetapi demi melerai kedua laki-laki itu ia mengalahkan rasa takutnya.


Sesampainya di lantai tujuh, Xela melihat Alfarel akan menyerang Landry.


“Stop!” Xela membuat gerakan Al berhenti tetapi tidak membuat Landry berhenti melanjutkan aksinya pada akhirnya Al jatuh dilantai akibat pukulan Landry, berbaring di lantai dengan kepala yang terluka. Landry sudah siap-siap untuk melancarkan aksi berikutnya menendang tubuh Al dan menjatuhkannya. Xela tidak bisa diam, ia harus menyelamatkan Alfarel agar Landry tidak berhasil menyingkirkannya ke bawah sana, ia tidak mau ada kejadian tragis.

__ADS_1


Xela dengan berani menghadang di depan Landry menggantikan posisi Alfarel sampai ia terkena serangan kaki Landry yang menendang sangat kuat, Xela jatuh ke luar, tidak ada yang menolongnya maupun memegang tangannya.


“Aaaa!” Xela berteriak di udara semakin menjauh di bawah dinding kaca.


“Aku akan mati, aku akan mati. Baiklah, selamat tinggal!” Xela memejamkan matanya pasrah.


“Xela ...” Teriak Alfarel dengan sisa suaranya, air matanya mengalir bercampur darah yang mengalir dari kepalanya, ia berusaha bangkit untuk melihat ke bawah.


Sementara Landry jatuh berlutut dengan muka merah padam, mengingat detik-detik kakinya yang melayang dengan kejam melempar jauh Xela ke udara.


“Aku, aku sudah membunuh seseorang. Aku sudah membunuh orang yang ku cintai, tidak! Aku juga tidak bisa menjaga adikku dan sekarang aku malah membunuh perempuan yang mirip dengan adikku.” Landry frustasi. Ternyata selama ini bukan hanya Alfarel yang menyadari bahwa Xela mirip dengan Alika, iya juga menyadarinya. Tetapi kenapa keduanya sama-sama jatuh cinta pada Xela? Tidak adakah perempuan lain yang lebih cantik untuk mereka takdir?


“Ini semua gara-gara Lo. Lo dulu membuat Alika meninggal, dan sekarang lo juga membunuh Xela. Lo pembunuh sejati.” Alfarel marah, emosinya sudah meluap-luap dengan sisa tenaganya ia bangkit memukul Landry.


"Pukul saja sepuasnya Al, sepuasnya! Gue pantas mati di tangan lo menyusul Xela.” batinnya, ia masih membiarkan Alfarel memukul tubuhnya sampai akhirnya ia merasa tidak kuat berakhir tidak sadarkan diri.


Alfarel belum puas memukul Landry bahkan yang dipukul sudah tidak sadarkan diri, ia tetap melancarkan aksinya untuk terus memukul sampai akhirnya para pengawal kedua pihak yang baru saja datang memisahkan Alfarel, menahannya dengan kuat lalu membawanya pergi tetapi Alfarel masih saja bisa lepas dari tangan para pengawal berjumlah belasan orang itu, Al belum puas lalu berbalik ingin memukul Landry lagi, akal sehatnya kembali setelah ia melihat Landry berlumuran darah di bopong oleh beberapa pengawal.


"Al bagaimanapun dia adalah adik kandungmu, kamu tidak boleh membunuhnya sebelum memeriksa diri apakah yang salah sepenuhnya dia atau kamu juga salah.”


Kata hatinya berhasil menuntunnya berhenti menggunakan tangannya untuk menyiksa Landry.

__ADS_1


“Kalian tidak becus, bagaimana bisa Xela kembali ke atas. Padahal jumlah kalian sangat banyak tidak becus menjaga satu perempuan saja. Mulai sekarang kalian saya pecat, semua fasilitas kalian saya tarik termasuk rumah dan barang berharga kalian.” Al memutuskan dengan kejam saat mereka berada di dalam lift.


“Tuan maafkan kami, tuan bisa memecat kami tapi jangan menarik fasilitas hasil kami keringat kami.”


“Iya tuan kasihan keluarga kami.” Mereka semua memohon.


“Saya tidak peduli, keputusan saya ya hak saya. Saya tidak peduli keluargamu tinggal di jalanan. Saya menderita sekarang, dan kalian harus lebih menderita.” Alfarel melangkah lebih cepat usai mengatakan kalimat itu karena lift telah terbuka, belasan pengawal hanya bisa melempar muka pucat kepada satu sama lain atas keputusan yang menjadi kesialan nasib mereka.


Dilantai dasar, Alfarel segera berlari menuju pintu kaca untuk keluar. Alfarel sampai mengelilingi halaman gedung itu, ia ingin mencari Xela.


"Aku tidak pernah membayangkan jatuh setinggi ini. Aku berharap kamu masih hidup Xel.” batinnya masih terus berlari mengelilingi gedung, namun tidak ada tanda-tanda di sana. Tidak ada polisi yang berkumpul atau kerumunan orang banyak.


“Aneh, tapi semoga kamu masih hidup Xel.” Alfarel tersenyum penuh harapan kalau Xela selamat, tetapi dimana dia sekarang?


Alfarel kembali lagi ke dalam gedung menaiki lift berencana menyusuri lantai dua sampai lantai lima untuk mencari Xela.


“Xela.” Alfarel memanggil nama Xela ketika tiba di lantai dua, semua orang menjadikannya pusat perhatian. Si tampan yang terlihat sedang terluka dengan kepala yang dipenuhi cairan darah menarik perhatian para pengunjung di lantai dua karena isi dari lantai dua adalah toko makanan dan sayuran yang dipenuhi ibu-ibu. Ada yang melihatnya dengan ekspresi takut , terkejut, bahkan sampai beraksi menutup mata melihat kengerian seorang lelaki berjalan dengan kepala yang berdarah.


Merasa di lantai dua tidak ada apa-apa, Alfarel beralih ke lantai tiga, kemudian lantai empat hasilnya nihil sampai ia berdecak kesal, ia juga lelah satu-satunya lagi harapannya adalah lantai lima, ia tidak menduga di lantai enam karena lantai enam bisa terlihat dari lantai tujuh.


Sampai di lantai lima tenaga Alfarel sudah berkurang, ia sangat lelah , tubuhnya sakit semua akibat pukulan Landry tadi. Ia perlahan terus melangkah untuk mencari Xela, ia yakin gadis itu berada di lantai lima.

__ADS_1


“Aku yakin kamu selamat Xela.” Gumam Alfarel terus berharap, langkah kakinya semakin lambat karena tubuhnya sakit semua. Sambil menekan kepalanya yang berdarah, Alfarel terus melangkah meskipun terus menjadi pusat perhatian orang-orang di lantai lima.


__ADS_2