
Hari keberangkatan telah tiba, Alfarel membawa barang-barang ke bagasi dibantu oleh Dafi.
Xela ingin membantu tetapi Alfarel melarangnya, ia di minta untuk menunggu di dalam mobil saja. Xela memandang langit biru yang cerah, sepertinya hari ini menyenangkan.
“Daf jaga rumah!” itu saja pesan Alfarel sebelum ia pergi.
"Mengapa aku merasa rindu dengan mama kalau pas lagi naik mobil gini. Rasanya aku akan pulang, tapi ini bukan pulang melainkan camping. Kalau aku nggak ikut camping aku kuatir kak Al di rayu sama cewek lain. Tunggu, kok aku jadi cemburuan ya? Kak Al terlalu tampan.” Batin Xela.
“Sayang, kita akan berangkat. Apa ada lagi yang mau kamu bawa?” Xela yang awalnya melamun melihat ke luar kaca dikejutkan dengan suara Alfarel yang sudah masuk ke dalam mobil.
“Hm nggak ada.” Jawab Xela dengan nada datar ia tampak murung. Alfarel memperbaiki beanie hat yang di gunakan Xela dikepalanya.
“Ada sesuatu yang kamu pikirkan?” Alfarel menatap kedua mata Xela, ia seakan tahu kekasihnya sedang ada masalah.
“Nggak.” Jawab Xela singkat.
“Atau kamu tidak enakan?” Tanya Alfarel lagi.
“Nggak, aku bahagia kok.” Xela memasang senyumnya untuk melupakan sejenak pikirannya tentang rindu ibu. Sekarang saatnya untuk menikmati camping yang menyenangkan.
“Sini duduk agak dekat.” Alfarel meminta Xela duduk lebih dekat dengannya lalu menyadarkan Kepala Xela dibahunya.
“Kamu sedang ada memikirkan sesuatu. Coba ceritakan kalau itu membuatmu tidak nyaman” Ternyata tujuan Alfarel menyuruh Xela mendekat agar Xela menceritakan padanya sebab gadisnya itu murung.
“Beneran Nggak ada kak.” Xela masih menolak, menyembunyikan apa yang ia pikirkan.
“Bukan tentang ibumu kan? Kemarin kamu tidak jadi pulang.” Xela tidak menyangka Al menebak dengan benar alasannya, ia memilih diam dan menggelengkan kepalanya.
“Perjalanan sangat jauh kira-kira memakan waktu enam jam. Kalau lelah bilang, agar kamu bisa istirahat di kursi belakang.” Kata Al sambil menyetir.
“Nggak, sepertinya aku sudah terbiasa.” Jawab Xela sambil menggandeng lengan Al dan bersandar dibahu kekasihnya.
“Sok kuat.” Ucap Al sambil tersenyum, lelaki itu terdengar meledeknya tetapi Xela tetap diam tidak ingin banyak bicara, yang penting ia harus menikmati perjalanan ini.
“Nah itu dia mobil Ario sama Rey dan Rico.” Alfarel melihat dari kaca spion mobil Ario mendahuluinya begitu juga serta mobil milik Rey dan Rico yang menyusul sehingga ia mengendara paling belakangan.
“Hei Al, akhirnya kita akan bertemu.” Teriak salah satu cewek dari mobil terakhir, yaitu mobil Rico. Xela merasa asing melihatnya tidak seperti Alfarel yang sepertinya sudah terbiasa.
__ADS_1
"Cika, dia tidak berubah.” Batin Al.
"Cantik! Siapa dua kok panggil kak Al segitunya.” Batin Xela ketika melihat cewek asing menurutnya.
“Kak Al dia siapa?” tanya Xela sambil menunjukkan muka cemberut. Ia sepertinya sudah melupakan Cika yang dulu pernah mengusirnya ketika ia baru kenal Alfarel dan menerima tawaran pekerjaan dari Al.
“Cika, teman satu kampus.”
"Xela mudah mudah sekali melupakan orang yang jelas pernah dia temui. Tapi kenapa harus Cika dan Ghea yang ikut camping. Untung gue udah ada Xela, gue gak akan kuatir di ganggu dua cewe sekaligus.” Batin Al tersenyum kecil.
“Kak Al Kenapa senyum? Mikirin cewek tadi ya. Genit!” Xela kesal melihat Al senyum sedikit saja padahal ia tidak tahu maksud senyuman itu.
Alfarel tidak merespon tetapi malah mengangkat smartphone yang berdering parahnya lagi Alfarel menggunakan headset membuat Xela semakin curiga.
(“Al, gue lupa bilang sama Lo. Lo tenang aja Ghea ikut karna dia udah pacaran sama Rey. Lo, Rey, dan Rico gak ada masalah kan? Selagi cowok-cowoknya gak ada masalah ntar urusan cewe bisa di atur. Lagian lo udah punya pacar gue kira aman lah.”) ternyata yang berbicara adalah Ario.
“Ya, awalnya gue mau protes tapi gue baru sadar pas tadi Cika panggil gue. Gue baru ingat kalau camping bertujuh, mereka berdua juga ada. Tenang aja gue sama Rey dan Rico baik-baik aja kok walaupun kita Cuma kenal tapi gak akrab.”
Keduanya sedang membicarakan tentang anggota camping yaitu Ghea dan Cika. Ghea yang pernah merayu Alfarel sudah dimiliki oleh Rey sementara Cika masih belum di ketahui.
(“Al tapi Cika keknya masih akan gangguin lo deh.”)
Xela sangat ingin tahu apa yang dibicaraka oleh Al, sayang sekali ia tidak dapat mendengar.
"Kak Al jahat banget teleponan aja tanpa sepengetahuanku. Apa yang mereka bahas?” Batin Xela terus merasa curiga.
“Kak Al teleponan sama siapa?” Tanya Xela, ia berharap mengetahui apa yang Al bicarakan.
“Sama Ario.”
“Kenapa pakai headset, aku juga pengen denger.”
“Jangan, ini obrolan lelaki jadi kamu nggak boleh tahu.”
“Jahat, pasti bahas cewek.”
“Nggak Sayang, kamu cemburuan banget.” Ucap Al sembari tangan kirinya merangkul Xela yang sempat menjaga jarak.
__ADS_1
“Aku cemburu karna aku pacarnya kak Al.” Jawabannya mengundang senyuman merekah Alfarel.
“Saya kira kamu tidak secemburu ini.”
“Siapa bilang. Dari dulu aku selalu cemburu.” Ucap Xela tanpa sadar.
“Sayang boleh cemburu tapi jangan marah-marah berlebihan ya.”
“Kalau cemburu pasti juga marah. Lagian kak Al juga kenapa teleponan gak mau terbuka aja biar aku juga dengar.”
“Jangan ngambek, simpan aja ya ngambeknya ini masih di perjalanan.”
“Minta hp.” Xela memasang wajah masam, ia masih ingin melihat isi smartphone Alfarel. Karena Xela kekasihnya, Alfarel rela membiarkan smartphonenya beralih ke tangan Xela asal gadis itu merasa tenang dan senang tentunya.
“Hah! Kenapa walpapernya pake yang ini. Gak jadi aku gak mau liat.” Alfarel memasang foto mereka yang sedang berciuman di walpapernya, Xela terkejut sementara ia tidak menyimpan foto serupa.
“Itu kita, lagi pula kamu sendiri sudah melakukannya kenapa menjadi anti sama foto sendiri.” Al tersenyum nakal ketika smartphone di kembalikan.
“Aku malu.” Ungkapnya membuat Alfarel terkekeh.
“Kak Al hapus fotonya. Pasang foto yang lain aja atau nanti kita foto yang bagus lagi.”
“Tidak, itu sudah bagus.” Al tidak mau mendengarkannya.
“Jelek.” Xela memasang muka memelas masih memohon.
“Terserah komentarmu saya tidak peduli.” Alfarel masih dengan tenang menyetir sementara Xela terus memohon.
“Kak Al Kenapa harus foto yang itu?”
“Itu bagus.” Jawab Al sekali lagi.
“Tapi kesannya terlalu intim.” Xela masih tidak terima. Tidak May berdebat akhirnya Alfarel mengganti walpapernya menggunakan foto perempuan lain yang diambilnya dari internet.
“Yang ini bagaimana sudah bagus?” Xela melihat walpaper yang sudah di ubah dengan foto perempuan yang sangat cantik.
“Haaa ... ini foto cewek lain. Nggak mau, ini foto siapa?” Xela merebut smartphone Al lalu menghapus wallpaper, ia langsung mengetahui dari histori yang ada di smartphone kalau foto perempuan cantik itu hanya foto yang di unduh dari internet.
__ADS_1
Xela menatap Alfarel dengan cemberut sementara Al terus menyetir dengan serius.
"Mungkin aku terlalu cemburu padahal ini cuma foto perempuan yang di undur dari google.” Batin Xela menyadari kesalahpahamannya sendiri.