POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Ketika Sakit


__ADS_3

40.


Alfarel tiba di rumahnya pukul 18. 30, merasa lelah, laki-laki itu sejenak duduk di teras depan.


Teringatlah ia akan Xela tadi sore ia kurung dikamar mandi. “Astaga aku melupakan gadis itu.”


Gumamnya segera beranjak dari tempat duduknya. Ketika ia hendak membuka pintu kamar mandi, tidak ada suara di dalam. Alfarel pun penasaran apakah yang sedang gadis itu lakukan?


Alfarel mendapati Xela sedang tertidur di dalam kamar mandi dengan buku yang dijadikan sebagai alas badannya. Ada perasaan iba di hatinya dengan kondisi Xela terlebih lagi ia sudah mendengar kebenaran dari Landry. Alfarel menjongkok memperhatikan Xela dari dekat. Alfarel nampak sedih, sepertinya ia sadar jika perlakuan ia terhadap Xela sudah keterlaluan. Alfarel sempat memperhatikan wajah Xela yang nampak pucat, disentuhnya pipi lembut Xela. Muncul reaksi tidak biasa dari wajah Alfarel, ia terlihat panik. Sontak langsung di bopongnya tubuh Xela yang sudah terasa dingin seluruhnya.


“Xela bangun, Xel ...”


Alfarel menepuk pelan pipi Xela, meskipun ia memperlakukannya dengan baik namun Xela tidak kunjung sadar.


“Xela bangun Xel.”


Alfarel frustasi, ja menyesal atas perbuatannya.


Maafkan aku Xela, aku keterlaluan membuatmu menderita. Aku terlalu takut kehilangan orang yang sudah kuanggap menjadi bagian dari hidupku.


Alfarel terus berusaha membangunkan Xela dengan mengolesi minyak kayu putih pada kening Xela, ia yakin pasti Xela sulit sadar karena pengaruh suhu kamar mandi yang terlalu dingin.


“Hueekkk ...”


Disaat Alfarel duduk di samping Xela yang berbaring, tiba-tiba saja Xela tersadar dan langsung muntah. Yang mengejutkan lagi, Xela memuntahi pangkuannya. Alfarel tentunya terperanjat kaget, pakaian yang membaluti badannya yang keren ternodai oleh muntahan Xela.


Xela yang menghirup aoma minyak kayu putih terpancing untuk muntah, selain itu ia merasakan pusing apalagi perutnya yang Kosong memancungnya untuk muntah.


“Xela, Apa-apaan ini?”

__ADS_1


Teriak Alfarel yang di kejutkan dengan kejadian tersebut. Xela mengerjapkan matanya lalu mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Ia begitu terkejut melihat Alfarel yang berdiri di sampingnya dengan kotoran di pakaiannya, ia sadar jika dirinya lah penyebabnya. Xepa hendak bangkit, namun kepalanya terlalu sakit dan rasa mualnya terpancing lagi oleh kepalanya yang pusing.


“Hueekkk ...”


Xela muntah lagi dan kali ini ia merasakan ulu hati yang teramat sangat, nafasnya terasa sesak matanya pun berat, Untuk itu ia memejamkan matanya.


Xela terbangun memerhatikan sekelilingnya, kepalanya masih pusing. Gadis itu mengingat kembali apa yang telah terjadi padanya. Ia teringat Ketika ia muntah ke pangkuan Alfarel. Xepa menutup mulutnya, sungguh ini kejadian yang buruk. Tetapi ia heran, kenapa saat pertama kali ia sadar, ia sudah berada di kasur empuk dan hangat? Siapa yang membawanya, apakah itu Alfarel.


Kenapa tadi aku nggak sadar saat aku dipindahkan kesini. Aduh purut ku sakit lagi. Ini semua gara-gara bunglon itu. Kepalaku pusing, apa aku bisa ke sekolah seperti biasa. Kak Al keterlaluan, ah biarkan saja kenapa aku malah merasa lancang memuntahi bajunya, kan ini salahnya.*


“Xela, kak Daf antarkan makanan. Di makan ya!”


Ucap Dafi yang entah kapan berada di sana, Xela pun menengok ke arah Dafi dan tersenyum terpaksa


“Terimakasih kak, seharusnya kakak tidak usah mengantarkannya, aku bisa sendiri.”


“Jangan begitu Xela. Kamu sedang sakit jadi biarkan aku membantumu.”


“Kenapa kau belum makan, cepatlah makan dan minum obatnya.” Ucap Alfarel sembari melempar kantong plastik berisi obat.


Xela hanya memerhatikan laki-laki bertubuh tinggi yang tengah berdiri di sampingnya tanpa kata. Baru saja ia berpikir untuk berbicara agar laki-laki itu sadar, tetapi kepalanya berdenyut. Ia sadar jika kondisinya tidak mendukung untuk berbicara kepada majikannya yang selalu membuatnya kesal. Kondisinya yang sedang sakit akan bertambah parah jika ia meluapkan amarahnya sekarang. Kepalanya yang sakit akan tambah sakit jika ia berpikir terlalu berat. Yang terbaik baginya saat jni adalah diam, tidak usah meladeni manusia yang ada di sampingnya


“Apa kau bisa makan sendiri atau perlu aku meminta Dafi untuk menyikapi mu?” tanya Alfarel ketika tidak mendapatkan respon dari Xela.


“Tidak usah, lebih baik pergi saja sana kalau tidak ada kepentingan. Aku pengen sendiri.” Xela mengusir Alfarel dari sana karena kesal, moodnya sangat buruk Ketika keadaannya juga buruk.


Alfarel melototi Xela, baru kali ini ia menemukan perempuan yang berani mengusirnya dari ruang kamar yang merupakan bagian dari tempat tinggalnya sendiri.


“Berani sekali kau berbicara lancang, kau tidak sadar dengan posisimu. Kau berkata seolah majikan disini.” Hardik Alfarel, ia sama sekali tidak mengerti perasaan seorang gadis yang terbaring sakit itu

__ADS_1


Ingin sekali Xela menangis dan meluapkan amarahnya, namun kini kepalanya semakin sakit.


“Sudahlah kak, Kakak tidak mengerti yang namanya sakit. Kau selalu memancing ku untuk kesal. Aku tolonglah untuk kali jni saja Jangan menggangguku. Aku tahu kalau disini aku hanya asisten dan kak Al adalah majikannya, tapi mungkin untuk sementara dalam waktu dekat ini saja kau adalah majikan ku, aku tidak akan berada di sini kalau aku sudah sembuh.”


Xela sudah meluapkan amarahnya kepada orang yang tepat, kepalanya semakin sakit karena beban pikiran yang membuatnya sedih. Andaikan kepalanya tidak sakit dan ia dalam kondisi sehat mungkin detik ini juga ia keluar dari rumah majikan arogan nya.


Alfarel terdiam dengan ucapan Xela barusan, namun ia tidak ingin lagi menunjukkan perhatiannya.


“Dafi kemari dan uruslah perempuan lemah ini. Aku tidak ingin melihat makanan terbuang karena perempuan itu tidak bisa makan sendiri.”


Teriak Alfarel disusul kakinya yang melangkah meninggalkan Xela.


Dalam beberapa detik, Dafi datang dan melaksanakan apa yang katakan.


“Biarkan aku membantumu Xela.”


“Tidak usah. Aku bisa sendiri aku bukan anak manja.”


“Tapi Xela “


Dafi tetap ingin membantu Xela, tetapi Xela tetap menolak.


“Apa kau tidak percaya kepadaku. Aku bukan anak manja, aku butuh ruang sendiri bukan butuh bantuan siapapun.” Tegas Xela dengan nada bicara meninggi, ia melototkan matanya kepada Dafi, dan tentu Dafi ketakutan dan pergi, sorotan mata. Xela sangat tajam dan menyeramkan baginya. Dafi takut karena berpikir kejadian beberapa hari yang lalu terulang lagi, lebih baik ia pergi kepada Alfarel untuk mengadu.


bersambung ....


~


Karna readers mintanya up, ya up selagi bisa. Tapi author gak bisa janji up banyak perhari 😭😭😭 Author takut ceritanya nggak bagus.

__ADS_1


maaf ya kalau ceritanya belum Bagus terkait alurnya


Jangan lupa masuk grup jika ada yang mau ditanyakan ☺️☺️


__ADS_2