POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Di Asingkan di Hutan


__ADS_3

Ghea malah tertawa saat ia hampir saja menabrak mobil pengemudi lain.


"Haha ... gue hari ini benar-benar akan berbuat gila semau gue."


Xela sedari tadi ketakutan dengan tingkah laku Ghea, namun mau bagaimana lagi. Tidak mungkin ia membuka pintu mobil dan keluar dari sana.


Gadis itu merasa cemas, ia mencoba mengambil Smartphonenya didalam tas, namun dengan cepat salah satu teman Ghea merebut smartphone Xela.


"Eh,ngapain lo, sini balikin hp gue."


ucap Xela, tetapi perkataannya tidak dihiraukan sedikitpun.


"Apri buang aja!"


kata temannya yang satu lagi lo teman Ghea yang merebut smartphone Xela.


"Oke gue buang, ya Vania,"


ucap Apri kemudian membuka jendela kaca mobil.


"Jangan!"


Xela berusaha menyelamatkan smartphonenya, ternyata gerakannya kalah cepat dari gerakan Apri yang sudah membuang smartphonenya di tengah jalan raya.


Xela hanya memandang sedih smartphonenya yang terlempar jauh, apalagi banyak kendaraan yang lalu lalang menghancurkannya di atas aspal hitam.


Xela menangis setelahnya mengingat perjuangannya mendapatkan smartphone yang ia inginkan itu kini dibuang tanpa harga.


Dulu ia sampai mengeluarkan uang tabungannya demi untuk membeli smartphone, maka sekarang gadis itu sedikit kesulitan hidup karena sudah tidak adanya pegangan uang tabungan.


"Aduh cengeng banget sih lo. Hahaha."


ucap Ghea sambil tertawa, Ghea sudah tahu apa yang dilakukan teman-temannya kepada Xela. Menurutnya memang mereka harus bersenang-senang dengan menghancurkan kebahagiaan Xela.


"Lo bertiga nggak punya hati. Hp gue ..."


Xela masih menangisi Smartphonenya yang penuh kenangan. Disana ada foto keluarganya, masa kecil dan banyak sekali file-file berharga baginya.


"Biarin memang harus kan kita udah bilang kalau mau senang senang. Hahaha ...."


Sekali lagi Ghea tertawa diatas kesedihan yang dirasakan Xela.


"Lepasin .... AAAA ....."


Xela mulai mengamuk dan berusaha melepaskan diri, namun ternyata Apri dan Vania sudah menyiapkan tali untuk mengikat tubuhnya.


Xela tidak habis pikir, mereka begitu menyiksanya.


"Sebentar lagi kita sampai Guys. Kita akan aman setelah dia pergi jauh. Hahaha ...."

__ADS_1


Tawaan licik Ghea ke sekian kalinya terdengar.


Mobil yang dikendarai Ghea kini berhenti di tengah hutan yang sepi dikelilingi pohon besar disekitarnya.


Xela asing dengan tempat tersebut.


Satu hal lagi yang terjadi padanya, ternyata ia di dorong keluar dari dalam mobil dengan keadaan tangan yang diikat tali oleh Ghea dan teman-temannya.


"Lepasin, kalian manusia atau bukan sih?"


"Bye bye Xela. Kami pulang dan Lo disini bersenang-senang lah karna sebentar lagi malam. Banyak sekali hewan buas yang keluar nanti malam."


Ghea dan kedua temannya yang ada didalam mobil mengejeknya melalui kaca mobil dan mobil tersebut berlalu pergi meninggalkan Xela sendiri di hutan tersebut.


"Ghea ..... tolong jangan tinggalin gue. Huhuhu ..."


Xela menangis di sepinya hutan, ia berusaha melepaskan diri dari ikatan tali dengan bersusah payah, tali itu sukar di lepaskan.


Beruntung ide Xela muncul, ia melihat sebuah tunggul kecil yang dapat membantunya melepaskan tali tersebut.


Alhasil usahanya tidak sia-sia, tetapi selanjutnya Xela masih bingung bagaimana caranya ia keluar dari hutan tersebut, ia tidak tahu jalan pulang. Mau lacak lokasi atau menghubungi orang lain tidak bisa karena ia tidak memiliki smartphone lagi.


Xela pun meringkuk dibawah pohon sambil menangis meratapi nasibnya.


Kenapa mereka selalu membuatku seperti ini. Ghea apa alasannya? cuma karena Kak Alfarel


Tolong aku, hutan ini sangat sepi tidak ada sedikitpun penghuni.


'BREM BREM BREM ...'


Tiba-tiba terdengar suara motor dari kejauhan, Xela dikejutkan suara tersebut, ia pun bangkit berjalan ke arah sumber suara yang berada di selatan.


Aku yakin ada orang, aku yakin aku tidak salah dengar. Semoga mereka bisa menolongku.


Xela berharap sambil menghapus air matanya, baju Pramuka yang ia pakai tertempel oleh sampai dedaunan kecil, dengan langkah gontai karena ia juga belum makan siang, Xela berusaha berjalan menuju sumber suara dengan mendaki jalan yang miring.


Usaha Xela pun berhasil setelah ia berada di ketinggian. Mata Xela melihat beberapa orang yang tengah menggunakan sepeda motor berkumpul di tanah lapang.


Sepertinya mereka akan balapan. Mereka menghinakan helm dan juga jaket hitam.


Sepertinya Xela mengenal salah satu dari mereka, Xela melihat salah satu dari mereka menghinakan jam tangan hitam dan Xela sangat yakin jam tersebut pernah dipakai oleh seseorang.


Jam tangan itu, sepertinya aku pernah lihat. Jangan-jangan ini orang yang aku kenal juga.


Disaat seperti itu, teringat lah Xela kepada Landry, apa benar itu Landry?


Karena dari cerita teman-temannya Landry sering balapan.


Xela pun memerhatikan dengan saksama sampai akhirnya mereka semua membuka helm. Xela dapat melihat wajah mereka dengan jelas, benar apa yang di sangka Xela. Laki-laki yang ia kenali jam tangannya adalah Landry.

__ADS_1


Xela ragu, apakah dia akan menghampiri mereka atau tidak? ternyata mereka yang berkumpul disana semuanya laki-laki.


Ada yang bertato, ada yang menggunakan ikat kepala seperti preman. Semuanya tidak Xela kenali kecuali Landry.


'Krak'


Saat fokusnya mata Xela memerhatikan sekumpulan laki-laki yang masih berada di kemudi motor. Xela segera bersembunyi menyadari dirinya menginjak ranting kayu sampai patah sehingga perhatian sekumpulan orang yang jauh dari tempatnya berada kini teralihkan pada sumber suara.


Xela mencari tempat untuk bersembunyi, ia tidak mau ketagihan orang-orang asing itu meskipun ada yang ia kenal dari antara mereka.


***


"Lo selalu hebat ya Landry, setiap balapan lo selalu menang."


Puji salah satu teman Landry yang tubuhnya bertato.


"Jelas, itu harus. Balapan udah jadi hobby gue."


jawab Landry


'Krak'


Terdengar suara ranting patah. Bukan berarti ranting tersebut jatuh dari pohonnya.


Mereka tahu membedakan ranting yang patah karena jatuh dari pohon dengan ranting patah oleh pijakan.


"Waduh, apa tempat ini aman? apa ada orang lain? kita harus pergi sekarang sebelum ada yang datang."


ucap salah satu diantara mereka, tetap Landry malah beranjak, ia penasaran dengan suara tersebut, sedikit mengusik hati.


"Biar gue yang liat." katanya kepada teman-temannya.


Landry berjalan ke arah sumber suara, namun disana ia tidak menemukan siapa-siapa.


Landry berpikir mungkin ada hewan lain yang ada disana menimpa ranting pohon. akhirnya ia berbalik pergi kepada teman-temannya.


"Nggak ada siapa-siapa. Barangkali itu hewan, ayo mendingan pergi kalau kwatir ada apa-apa."


Kata Landry kepada teman-temannya.


Padahal ia sebenarnya penasaran juga, tidak mungkin seekor hewan. Kalaupun ada pasti ia melihatnya.


"Lo yakin, atau kita cek dulu. Siapa tahu ada yang buntutin kita. Kita habisi dia."


Kata salah satu dari teman Landry.


"Nggak ada siapa-siapa, tadi gue cuma lihat seekor tupai aja disana, barangkali tupai jatuh dari atas pohon dan menimpa ranting."


Landry terpaksa berbohong karena tidak mau mereka berlama-lama di hutan tersebut.

__ADS_1


Akhirnya Landry berhasil membuat mereka percaya, mereka pun pergi dari hutan tersebut.


bersambung ...


__ADS_2