
Rey sangat terkejut dengan pengakuan Ghea, ia masih sempat diam dengan pikiran kacaunya, Ghea malah pergi meninggalkannya tidak menghiraukan dirinya yang sedang patah hati.
"Kenapa? kenapa Ghea? Apa sebenarnya yang membuatmu menyukai Alfarel?" dalam keadaan frustasi Rey, Rico datang menepuk pundaknya.
"Sabar Rey, gue kira hanya gue yang ngalamin ternyata lo juga." Rico tidak sengaja melihat konflik antara Ghea dan Rey dari jauh.
"Apa?" Rey tidak terkejut dengan kehadiran Rico yang tiba-tiba, ia mengerutkan yang menandakan perasaan tidak suka, Rico datang seakan mau masuk dalam permasalahannya.
Rico tersenyum lalu berkata kepada Rey.
"Cewek yang gue suka bahkan juga tergila-gila sama Alfarel. sepertinya kita perlu buat rencana buat bikin Alfarel hancur." Rico mengutarakan rencana liciknya.
"Udahlah! Mungkin Cewek gue dan Cewek yang lo taksir aja yang salah sampe tergila-gila sama Al." Rey berkata dengan muka masam tetapi Rico menunjukkan senyuman sinis padanya.
"Lo tolol Rey. Apa lo nggak mikir Cewek yang Lo cintai malah naksir sama Rey. Apa lo nggak curiga kalau dibalik cintanya cewe lo dan cewe yang gue suka itu ada apa-apanya? pasti Al udah memengaruhi mereka dari belakang, diam-diam jadi cowok brengsek untuk memikat. Pasti Cewek Lo dan Cewek yang gue suka udah di apa-apain sama dia." Rico melontarkan kalimat panjangnya terdengar masuk akal di telinga Rey, kemudian Rey berpikir sejenak lalu mengangguk.
"Bener juga sih kata Lo. Gue yakin dan udah lama sakit hati dengan Al, kalau gitu apa yang akan lo rencanakan buat kita ngehancurin Al?" Rey dan Rico mulai bekerja sama lalu Rico berbisik di telinganya. Mereka kemudian tersenyum jahat memandang satu sama lain setelah mengatakan rencananya. Entahlah rencana semacam apa yang akan di buat mereka untuk menghancurkan Alfarel
...****************...
Xela memerhatikan Al yang diam saja tidak menikmati perjalanan santai ini, kemudian ia berinisiatif untuk membuat Alfarel menyadari bahwa ia ingin di perhatikan. Xela berjinjit lalu mencium pipi kekasihnya, lantas Alfarel menoleh tetapi masih dengan pandangan dingin.
__ADS_1
"Kak Al Kenapa sih, kok perasaan dari tadi diam aja, apa aku ada salah sama kak Al?" Xela tidak tahan di diamkan, ia terus memerhatikan wajah datar Alfarel sampai ia tidak memerhatikan langkah kakinya.
"Aduh." Xela terjatuh, ia neringis kesakitan lantaran kakinya terluka mengandung batu besar, Alfarel baru bergerak cepat membopongnya.
"Hati-hati kalau jalan perhatikan jalan!" Alfarel memperingatkan.
"Ini gara-gara kak Al, aku pengen kak Al ngomong tapi kak Al diam aja." Xela marah sampai di sepanjang perjalanan memukul Alfarel.
"Lalu apa yang kamu mau?" tanya Alfarel dengan nada tinggi menatap kedua mata Xela sampai jantung gadis itu terasa deg-deg-an.
"Kak Al kok jadi kayak kasar gini, tatapannya seperti ingin membunuhku. Aku ingat ini tatapan yang pertama kali aku lihat saat baru mengenalnya. Apa kemungkinan dia kembali seperti dulu?" batin Xela memandang wajah lelaki itu dengan nanar.
"Jawab! sebenarnya apa yang kamu mau?" Alfarel bertanya sekali lagi dengan langkah kaki semakin di percepat.
Alfarel masih menatapnya dengan tajam lalu tiba-tiba mencium bibir Xela dalam posisi membopong gadis itu, Xela merasakan ciuman ganas tepatnya ini ciuman kasar yang pernah Xela rasakan, padahal sebelumnya Al tidak pernah menciumnya sekasar ini. Xela kemudian menggigit bibir Alfarel dengan terpaksa agar laki itu melepaskan tautan mereka.
"Bukankah ini yang kamu mau?" Al bertanya dengan dingin, Xela menjadi sedih mengapa tiba-tiba saja kekasihnya yang dulu bersikap penuh kehangatan padanya sekarang menjadi kasar. Alfarel belum melanjutkan perjalanan lagi tetapi lagi-lagi ia mencium Xela seperti tadi.
Xela tidak membalasnya tetapi membiarkan Alfarel leluasa menciumnya, sudah cukup kakinya yang terasa sakit di tambah hati yang sakit karena sikap Al.
"Kenapa Kak Al jadi sekasar ini. Mungkinkah ini sikap aslinya yang baru aku ketahui?" Xela membatin dan air matanya merebes, tidak ada kehangatan dalam ciuman ini, dan ini bukan ciuman mesra tetapi ciuman paksa yang pernah terjadi. Xela bukan menginginkan ciuman ini tetapi menginginkan senyuman dan tawa Al saat bersamanya.
__ADS_1
Al berhenti mencium Xela setelah merasakan wajah gadis itu lembap oleh air mata, lalu ia memeluk Xela dalam posisi masih menopang seluruh tubuh Xela, mungkin tubuh kekasihnya seringan kapas baginya sampai ia sanggup membopongnya dalam waktu yang sangat lama.
Merasakan pelukan Alfarel, Xela tidak berpikir bahwa lelaki itu menyesal tetapi sekarang giliran dirinya yang memendam amarah.
Sesampainya di tenda, Al mengobati kakinya yang terluka di dalam tenda sementara Xela diam saja tidak mau bicara apa-apa, cukup membiarkan Alfarel mengobati kakinya.
Keadaan di tenda sangat sepi apalagi tidak ada yang bicara di antara mereka.
Alfarel menatap lekat mata Xela yang masih membendung air mata, lalu ia menempelkan kedua telapak tangannya di pipi gadisnya untuk menyeka air mata Xela yang perlahan menetes.
"Lebih baik kak Al tinggalkan aku sendiri disini kalau aku sangat mengganggu pikiran kak Al." Xela dengan beraninya mendorong tubuh Al agar menjauh darinya.
Alfarel yang berusaha meredam emosi tetapi tidak berhasil karena Xela telah memancingnya untuk marah, tetapi lelaki itu segera pergi benar-benar meninggalkan Xela sendiri, mungkin ia tidak mau kemarahan yang tiba-tiba itu, entah apa sebabnya.
Sebelum Alfarel pergi rupanya ia membuka layar Smartphonenya melihat pesan yang ada disana dan memikirkan tentang Alika? hahaha lo mencari gue selama ini sampai otak lo berjamur. Gue bakal datang minggu depan ke kota R tapi lo tidak mungkin nemuin gue.
Pesan itu ada sejak tadi, mungkin sekitar satu jam yang lalu. Ternyata inilah alasan Alfarel diam, ia memikirkan musuh yang tiba-tiba datang melalui pesan singkat, Alfarel menduga itu adalah Marco. Al pergi agak jauh dari tenda untuk menenangkan diri.
Di sisi lain, Rey dan Rico saling melempar senyum melihat Xela yang sedang sendirian di tenda, lalu mereka menghampirinya.
"Xela, apa lo butuh bantuan?" Tiba-tiba saja Rey datang masuk ke dalam tenda tanpa permisi diikuti oleh Rico.
__ADS_1
"Tidak." jawab Xela dengan wajah datar, pandangannya kosong, ia tidak tahu Rey menyentuh rambutnya dan Rico perlahan menutup tenda.
Xela merasakan keanehan kemudian menoleh sampai ia melihat Rey mendekatkan wajahnya hendak menciumnya lalu Rico tersenyum jahat menghalangi pintu tenda agar Xela tidak bisa keluar dan lepas dari mereka.