
Alfarel terdiam. Dalam diamnya ingin sekali ia memukul Landry, tetapi segera pikirannya membawanya untuk tenang. Ia menghela nafas berat mengingat adiknya memiliki penyakit jantung dan baru saja keluar dari rumah sakit.
"Putuskan dia!" Alfarel meminta Landry memutuskan Xela, lelaki itu tetap berdiri tegak didepan adiknya, lontaran yang tegas namun jauh dari nada marah itu sebenarnya cara baginya agar Landry tidak mudah memancing emosinya.
"Lalu dia sama Lo? Hebat. Oke, setelah Xela dalam keadaan baik gue bakal ngomong sama dia, dan juga gue bakal ngomong ke Mira. Gue bakal ngelepasin mainan lo itu. Lo bukan abang gue, kita musuh mulai detik ini." Landry kemudian melirik ke arah Xela sebentar sebelum ia pergi.
Alfarel memijat pelipisnya pelan, masalah baru di mulai lagi. Permusuhan! terjadi Permusuhan antara dirinya dan adiknya sendiri. Adiknya terlalu sakit hati padanya dan kepada Xela.
"Hari ini juga, terlalu cepat dari yang ku duga. Kau memutuskannya dalam hitungan detik. Musuh? aku mengakuimu musuh sejak lama, kau baru mengatakannya sekarang?" Alfarel tersenyum, tidak ada sedikitpun beban yang berat walaupun pada awalnya ia agak pusing memikirkan tentang permusuhan, dihitung-hitung sudah banyak orang yang menjadi musuhnya sejak dulu, musuh bisnis juga tentunya bagi dirinya yang sukses tanpa harus duduk berlama-lama di kantor, musuh prestasi karena prestasi Alfarel sangat tinggi, hanya Mira yang tahu karena Mira mengenalnya seorang yang cerdas, hubungannya dengan Mira sudah hampir lima tahun.
Masih ada satu musuh yang ingin ia habisi hingga saat ini, musuh utama yang tak pernah muncul lagi, namanya saja sudah tidak terdengar. Marco, dialah orangnya yang sudah menghancurkan Alika adik kesayangannya.
"Gesha." Al memanggil Gesha agar datang padanya.
"Iya kak." Gesha berlari kecil sementara Veoni masih memeluk Xela.
"Jaga Xela, besok saya akan datang lagi. Saya ada urusan."
"Baik kak, siap. Hati-hati kakak ganteng." Gesha tersenyum dengan melambaikan kedua tangannya kepada Alfarel yang sudah menjauh.
__ADS_1
...****************...
PRAK
Di ruang kerja, Alfarel memukul mejanya dengan keras, disana juga ada Dafi yang menunggunya berdiri tegak dan terkejut oleh suara keras itu.
"Lo, kenapa biarkan Landry keluar dari rumah sakit. Dan parahnya lo nggak bilang gue, kenapa? Lo May gue bunuh?" Alfarel kehilangan kesabarannya. Ingin sekali melampiaskan amarahnya kepada Dafi, asisten yang sudah ia anggap seperti sahabatnya sendiri.
"Maaf, tapi tadi Landry bersikeras ingin keluar."
Dafi agak gemetar, tetapi apalah daya ia tidak bisa menyela saat Alfarel marah.
"Dan lo gak becus sama sekali melarangnya agar tidak keluar?." Dafi menggeleng.
Alfarel benar-benar marah, ia mengibas semua benda di atas mejanya termasuk kopi panas yang belum ia minum sama sekali, pria itu tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Benar benar, lo gak bisa di harapkan." Alfarel murka besar kemudian ia keluar meninggalkan ruangan yang porak poranda bagai kapal pecah.
"Landry, lo sudah melukai Xela. Beraninya mengatakan Xela mainanku, beruntung aku bisa menahan amarahku. Jika tidak, siap-siap lo Lan. Udah gue bunuh ditempat." Alfarel melangkahkan kakinya dengan cepat, ia menuju kamar yang di tempati Landry. Tanpa permisi ia menendang pintu sehingga Landry yang ada di dalam sangat terkejut dengan kehadirannya. Landry sedang berkemas, ia mengemasi pakaiannya hendak meninggalkan rumah itu, rumah saudaranya yang kini ia anggap sebagai musuh. Harusnya mereka tidak musuhan hanya karena perempuan.
__ADS_1
Landry hanya menoleh tanpa menyapa abang kandungnya itu. Wajah keduanya dipenuhi aura kebencian, tidak ada aura persaudaraan diantara mereka.
"Beraninya lo menjelekkan gue di depan Xela, apa mau lo?" Al menghampiri Landry kemudian melayangkan tangannya di pipi adiknya itu, tidak peduli lagi apakah Landry masih sakit, bukankah ini pantas untuk seorang adik yang berani menjelekkannya.
"Memang dasarnya lo udah jelek bang. Muka lo aja yang ganteng, tapi lo gak beda dari laki-laki kaya di luar sana yang suka main perempuan. Gue udah liat gimana lo peluk Xela tadi. Dia mainan lo kan bang? Lo udah bikin gue berusaha lupain dia, perempuan yang paling gue cintai."
"Kurang ajar!" Al menonjok Landry sekali lagi sampai darah segar keluar dari sudut bibir Landry.
"Lagi bang lagi. Sekarang kita sudah musuh kan?jadi lo bebas aja mau pukul gue kayak gimana. Rela gue bang, bahkan mati di tangan lo sekarang gue rela daripada lihat lo bahagia sama Xela." Landry mengeluarkan suaranya dengan keras bahkan suaranya bisa dikatakan hampir habis.
Alfarel terdiam melihat sisi keganasan adiknya, pada dasarnya Landry sama sepertinya, yang membedakannya hanya seorang Landry tidaklah se sukses Alfarel yang sudah memiliki usaha sendiri yang menjamin kehidupan masa depannya, Landry masih berjuang dengan hasil balapan sebelum ia tinggal di rumah Al, selain itu juga ia mendapat uang dalam jumlah banyak dari pamannya yang bekerja di luar negeri.
"Cukup Landry, daripada lo mati disini lebih baik lo keluar sekarang dari rumah gue!" Alfarel larut alam amarah yang meledak.
"Oke, gue mau pergi. Lo liat kan, mata lo liat sini gue udah kemas semua barang-barang gue, tanpa lo suruh." Landry mempercepat gerakanya mengemasi barang-barangnya dan berlalu pergi meninggalkan Alfarel dan rumah itu.
"Sampai kapanpun gue gak akan pernah ke rumah ini lagi. Rumah yang menyakitkan, walaupun hanya sebentar saja ku tinggali." Landry yang berada di halaman depan menatap rumah mewah nan besar itu penuh kebencian, kemudian berlalu pergi mengendarai mobilnya.
Alfarel mengintip dari jendela sambil kedua tangannya di masukkan kedalam saku, tatapan yang tidak bisa di jelaskan itu membuat Alfarel kemudian merogoh smartphonenya dan membuka galeri melihat foto dua anak kecil disana. Itu adalah foto kedua anak kecil itu tidak lain adalah foto dirinya dan Landry. Masa kecil yang begitu akrab, namun setelah keduanya dewasa mereka saling menyalahkan kecerobohan mereka sendiri. Entah siapa yang salah sampai keduanya harus kehilangan Alika, adik bungsu perempuan yang amat disayangi.
__ADS_1
Alfarel mengingat wajah Alika lalu membuka album foto Alika.
"Alika, ternyata didunia ini ada yang mirip denganmu. Kakak mencintainya. Kamu tahu Keadaan kakak sekarang, keadaan Landry? Kami sudah menjadi musuh. Dia menjelekkanku, mengatakanku mempermainkan Xela, perempuan yang mirip denganmu. Kakak akan melindunginya karena dia seperti perempuan yang ajaib, memberikan suasana hati yang berbeda untuk kakak. Kakak merindukanmu Alika, maafkan kakak. Kakak sekarang menyesal dulu tidak bisa melindungi mu." Alfarel berbicara pada foto adiknya, mencurahkan isi hatinya. Alfarel bersandar di tepi gorden menengadahkan kepalanya keatas, sebenarnya ia berusaha menahan air matanya atas Kerinduannya kepada Alika, adiknya yang telah meninggal.