
Usai makan malam romantis Alfarel dan Xela menikmati pemandangan kota yang luas, Xela bersabda di bahu Alfarel, tidak merasa malu lagi karena mereka sudah resmi berpacaran.
“Besok aku akan segera pulang, mama sedang menunggumu. Aku rindu mama.” Tutur Xela selama mereka memandang keindahan kota R.
Al lalu memeluknya dari belakang menyadarkan dahu dibahu Xela.
“Berapa lama, bolehkah saya ikut?”
“Jangan! Aku takut nanti orang-orang di kampung salah paham.” Kata Xela mencegah.
“Aku akan merindukanmu.” Alfarel semakin mengeratkan pelukannya, Xela sangat berdebar rasanya baru kali ini ia di peluk sampai perutnya terasa di gelitik oleh kupu-kupu. Xela juga pasti akan merindukan Alfarel nantinya, baru saja jadian tapi sebentar lagi akan berpisah meskipun perpisahan sementara.
“Saya akan ikut Xela.” Ucap Alfarel tidak peduli.
“Tapi kak, omongan orang orang di sana sangat tajam, nanti aku bakalan jadi topik gosip para Ibu-ibu. Lagian aku cuma sebentar saja.” Xela berbicara dengan baik-baik, nadanya lembut dan siapa sangka itu membuat Alfarel gemas lalu mencubit pipinya.
“Baiklah sayang, jaga diri disana. Boleh saya berpesan lagi?”
“Boleh kak.”
“Kak? Panggil sayang, ulangi!” kekasih yang tidak terima panggilan sayangnya tidak dibalas ya beginilah.
“Iya sayang, boleh.” Andai Alfarel tahu Xela mengucapkan kata sayang itu dengan sangat gugup, jelas suasana nya semakin berbeda.
“Sayang jangan dekat-dekat sama laki-laki mana pun, jangan respon mereka dan jangan pernah keluar rumah kalau perlu, nanti ketemu laki-laki yang mungkin lebih tampan dari saya lalu kamu melupakan saya yang sedang menunggumu.” Ucapan possesif itu diutarakan Alfarel kepada kekasihnya, Xela hanya menghela nafas lalu mengangguk menyetujui semuanya.
__ADS_1
“Disana aku merawat mama yang sakit, tidak mungkin aku bertemu cowok lain.” Jawab Xela lembut.
PRAKK
“AAAA!” Suara semua orang berteriak
DI tengah kedua pasangan itu berpelukan terdengar kekacauan dari belakang sehingga meminta keduanya untuk menoleh melihat apa yang terjadi. Kumpulan lelaki yang datang merusak meja dengan membantingnya sehingga meja tersebut pecah, sebab meja itu terbuat dari kaca.
“Sialan!” Baik Alfarel maupun Xela dapat melihat salah satu di antara mereka ternyata ada Landry. Landry berjalan cool menuju mereka, ia bukan Landry yang dulu lagi penampilannya telah berubah, ia menggunakan anting di kedua telinganya, alisnya juga di garis. Terlihat keren namun nampak sekali bahwa ia ketua geng.
“Oh begini maumu Xela? Sekarang kamu pacaran dengan si brengsek ini. Aku terlalu baik untukmu bahkan masalah kita belum selesai dengan sempurna aku rela melihatmu berpelukan dengan lelaki lain, pernahkah di antara kita mengatakan putus sampai kamu berani beralih mencintai laki-laki ini?” Landry datang langsung membentuk Xela, Alfarel merasa ini tanggung jawabnya jadi ia menyembunyikan Xela di belakangnya biar ia saja yang berbicara kepada Landry.
“Lo sama dia udah putus. Lo lupa atau pura-pura bego, pas di asrama ALKA lo bilang oke untuk putus.” Landry hanya menunjukkan senyum sinis kemudian mendadak melayangkan tangannya ke arah Alfarel, untung Alfarel sudah siap siaga sebelumnya, musuh akan menyerang kapanpun dalam keadaan apapun.
“Benar kan? Jadi Lo jangan menekan Xela lagi.” Sembari menangis tangan Landry.
“Tidak boleh! Biarkan saya saja yang menyelesaikannya.” Padahal Xela ingin meminta maaf dan menyelesaikan sendiri masalahnya dengan Landry tetapi Alfarel tidak mengizinkannya.
“Lo selalu merebut kebahagiaan gue, enak banget ya lo jadi anak sulung selalu menang.” Kata Landry sembari menarik tangannya yang tidak berhasil memukul wajah Alfarel.
“Anak sulung? Siapa, gue? Hahaha. Gue anak tunggal setelah adik gue meninggal gak ada lagi adik gue yang lain.” Jawab Alfarel, mereka saling menganggap satu sama lain adalah musuh.
Landry tersenyum lagi, ia tidak mengatakan apa-apa tetapi menjentikkan jarinya memberi kode kepada anak buahnya agar menyerang Alfarel.
“Oh ternyata lo udah punya pengawal. Hebat banget, tapi gue lebih hebat.”
__ADS_1
PROK PROK PROK
Alfarel menepuk tangan sebanyak tiga kali sehingga beberapa lelaki yang merupakan pengawal ya berdatangan dari arah lain.
“Mau adu pengawal gue saranin yang banyak pengawalnya kasihan gak cukup tuh punya lo. Dan asiknya siapa yang kalah dijatuhkan ke bawah.” Alfarel menunjukkan senyum misteriusnya lalu berbalik ke belakang, ia ternyata membuka dinding kaca. Mengejutkan! Dinding itu ternyata bisa di buka, setinggi dua meter dan lebarnya satu meter.
Xela sangat terkejut dengan pemandangan ini, Alfarel kemudian menggenggam tangannya lagi karena tahu ia pasti takut.
“Siapa yang kalah dijatuhkan lewat sini.” Tunjuk Alfarel pada dinding kaca yang sudah terbuka. Bisa-bisanya Alfarel bertaruhan seperti ini, apakah ia tidak takut kalau ini merupakan kejahatan yang bisa menghilangkan nyawa. Landry hanya memasang wajah masam terus menatap Alfarel.
“Kak ini terlalu kejam, jangan melakukannya aku takut nanti berakhir tragis dan berurusan sama polisi.” Xela menggelengkan kepalanya menatap kekasihnya, ia tidak setuju dengan ide gila ini.
“Tidak apa, kalau tidak dibuat seperti ini orang yang mengganggu kota akan terus mengganggu. Biarkan saya membuatnya jera.”
Xela tetap merasa tidak tenang kuatir dengan taruhan ini, terlalu kejam. Kekejaman ini bermaksud untuk membuat orang jera, ya memang terkadang hidup harus begitu. Ketika seseorang yang terus menerus di ganggu hidupnya, alangkah baik bagi Alfarel memberi pelajaran yang lebih berharga, yang lebih mengarah pada taruhan nyawa. Jika hanya sekedar pukul memukul semuanya tidak akan berakhir, perlu di gugurkan disalah satu pihak.
Alfarel meminta para pengawalnya untuk menjaga Xela sementara ia menghadapi Landry dan gengnya. Tidak sendirian, ada beberapa pengawal di belakangnya.
“Gue pengen langsung, satu lawan satu. Biar gak repot habisin banyak nyawa mending langsung penentuan, lo atau gue yang harus mati.” Ucap Landry menyuruh orang-orangnya untuk mundur membiarkannya sendiri.
“Oke, besar juga nyali lo bocil SMA. Entah siapa yang ngajarin lo selama ini, gue jadi salut.” Sahut Al dengan senyuman mengejek.
“Gue belajar sendiri bagaimana nanti menghadapi musuh yang pernah akrab.” Jawab Landry.
Kedua bersaudara itu telah menjadi musuh, melupakan persaudaraannya, saling membenci. Bukan Xela saja masalahnya tetapi masa lalu yang seharusnya menjadi kesalahan mereka berdua sendiri, gagal menjadi seorang kakak yang tidak bisa menjaga adiknya. Seharusnya ketika mereka melihat Xela yang mirip dengan Alika, mereka tidak perlu lagi sesali masa lalu. Cukup mereka menjadikan Xela sebagai saudarinya. Tetapi nyawa tetaplah berbeda, tidak bisa di ganti. Begitu juga dengan Xela, tidak bisa mengganti posisi Alika meskipun ia sangat mirip dengan Alika yang telah meninggal.
__ADS_1
"Kenapa selalu aja datang masalah pas lagi senang-senangnya. Apa keadaan tidak mau berdamai satu hari saja.” Batin Xela dalam tahanan pengawal agar tidak mencegah Al dan Landry bertaruh, tetapi bagaimana dengan matanya yang melihat?